Apakah seandainya 
1. Jika qur' an dimaknai (ditafsirkan) bahwa tidak ada nabi setelah 
Nabi Muhammad, sedangkan Tuhan benar telah menugaskan si A setelah 
nabi Muhammad untuk menjadi nabi. Apakah manusia bisa menerima 
kemungkinan bahwa Tuhan boleh bertindak demikian?
(istilah pengertian nabi = orang yang diutus Tuhan, ayat sebagai 
nabi terakhir masih dalam perdebatan).

2. Jika Tuhan memang berubah pikiran dan menurut manusia di qur ' an 
tidak sejalan. Dianggap menyimpang.  Jika Tuhan memang berkehendak 
lain. Apakah manusia bisa menerima kemungkinan itu?

3. Apakah Tuhan pemilik segalanya akan menghukum umat manusia 
seandainya manusia menghargai keyakinan berbeda dari orang lain? 
Mana yang lebih diharapkan Tuhan?  hidup damai? mempertahankan 
kebenaran? Apakah Tuhan begitu benci terhadap orang selain islam?  
Mana sifat Maha Pengasih dan PenyanyangNYA?

salam 

--- In [email protected], "EKO-KERTAJAYA" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> 
> saya kutipkan salah satu opini dari ulil agar lebih arif dalam
> 
> memahami ahmadiyah. kelemahan mendasar dari penentang
> 
> ahmadiyah adalah mereka tidak memahami ahmadiyah secara
> 
> komprehensif. sehingga yang muncul hanyalah arogansi2  dan
> 
> pembenaran pada kepentingan sesaat (mui) bukan pada umat.
> 
> semoga dipahami dari esensinya bukan pada penulisnya.
> 
>  
> 
> ========  started============
> 
>  
> 
> Ayat QS. AL Ahzab 40  beserta sejumlah hadis yang
> 
> lain, sering dipakai sebagai argumen bahwa Nabi
> 
> Muhammad adalah nabi terakhir.
> 
> 
> 
> Ayat sendiri, sebagai dalil, masih mengandung
> 
> kemungkinan tafsir. Frasa "penutup para nabi-nabi"
> 
> adalah terjemahan dari ayat "khatam al-nabiyyin". Ada
> 
> dua bacaan untuk ayat itu. Pertama, "khatam
> 
> al-nabiyyin" yang artinya "cincin para nabi'. Kedua,
> 
> "khatim al-nabiyyin", pengunci atau penutup para
> 
> nabi-nabi. 
> 
> 
> 
> Bacaan yang pertama tidak jelas-jelas menerangkan
> 
> bahwa Muhammad adalah nabi terakhir. Hanya bacaan yang
> 
> kedua yang mendukung pengertian seperti itu. Karena
> 
> ambiguitas seperti inilah, Jamaah Ahmadiyah, misalnya,
> 
> memaknai ayat ini sebagai argumen pendukung bahwa
> 
> kenabian belum selesai.
> 
> 
> 
> Yang lebih tegas adalah beberapa hadis yang menyebut
> 
> redaksi, "la nabiyya ba'di", tidak ada nabi setelahku.
> 
> Dari segi pengertian, hadis seperti ini lebih kuat
> 
> dijadikan sebagai argumen untuk finalitas kenabian
> 
> Muhammad.
> 
> 
> 
> Sarjana Muslim, baik klasik atau modern, sepakat dalam
> 
> doktrin yang satu ini, yakni finalitas kenabian Nabi
> 
> Muhammad.
> 
> 
> 
> Dengan dalil-dalil seperti ini, kenapa saya menolak
> 
> gagasan tentang finalitas kenabian? Apakah saya
> 
> mengabaikan dalil-dalil itu? 
> 
> 
> 
> Inilah sejumlah argumen saya:
> 
> 
> 
> (1) Sejauh menyangkut ayat Qur'an di atas, kita lihat
> 
> sendiri adanya ambiguitas di sana karena perbedaan dua
> 
> bacaan tersebut. Bacaan yang paling luas dipakai,
> 
> yakni "wa khatam al-nabiyyin", paling jauh hanya
> 
> bermakan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi yang terbaik
> 
> di antara deretan nabi-nabi yang lain. Bacaan ini sama
> 
> sekali tak mengandung pengertian bahwa Nabi Muhammad
> 
> adalah nabi terakhir. Dengan kata lain, kalau kita
> 
> merujuk kepada Qur'an sendiri, doktrin tentang
> 
> finalitas kenabian masih mengandung banyak tafsir.
> 
> 
> 
> (2) Bagaimana dengan hadis-hadis lain yang dengan
> 
> jelas mendukung doktrin tersebut? Sejauh pengetahuan
> 
> saya, hadis tentang finalitas kenabian Nabi Muhammad
> 
> bukanlah hadis mutawatir (tolong teman-teman yang lain
> 
> mengoreksi saya jika keliru). Jika masalah ini
> 
> dianggap sebagai bagian dari akidah, maka hadis ini
> 
> tidak bisa dipakai sebagai dalil. Menurut sebagian
> 
> ulama, hadis non-mutawatir (alias hadis ahad) tidak
> 
> bisa dijadikan landasan untuk menetapkan sebuah
> 
> "kredo" atau akidah. Dengan kata lain, hadis-hadis itu
> 
> tidaklah cukup kuat dijadikan sebagai landasan.
> 
> 
> 
> (3) Sebagaimana kita tahu, tidak semua hal yang
> 
> disabdakan nabi harus dipahami secara harafiah,
> 
> apalagi jika jelas-jelas ada kontradiksi antara apa
> 
> yang dikatakan nabi dengan fakta sosial yang ada.
> 
> Salah satu contoh yang baik dan saya kira diterima
> 
> oleh banyak kalangan Islam adalah hadis yang berbunyi
> 
> "al-aimmatu min qurasyin", bahwa pemimpin adalah dari
> 
> suku Quraish. Meskipun ada banyak ulama yang masih
> 
> tetap "ngotot" bahwa kepala negara harus berasal dari
> 
> suku Quraish (termasuk Rashid Rida, murid dari
> 
> Muhammad Abduh), tetapi banyak pula ulama yang lain
> 
> yang berpandangan lain: kepala negara bisa berasal
> 
> dari siapa suku manapun, asal kompeten. Apakah ulama
> 
> yang membolehkan kepala negara berasal dari suku
> 
> non-Quraish melanggar hadis tersebut? Dari segi
> 
> permukaan, mungkin ya. Tetapi dari segi yang lain
> 
> tidak. Sebab, yang dimaksud dengan "Quraish" di sana
> 
> adalah siapa saja yang kompeten. Di sini, hadis
> 
> dita'wil karena memang tidak sesuai dengan fakta
> 
> sosial yang ada. Maksud saya: fakta sosial menunjukkan
> 
> bahwa yang mampu menjadi kepala negara bukan saja dari
> 
> kalangan Quraish saja.
> 
> 
> 
> Secara metodologis, saya sendiri berpandangan bahwa
> 
> jika terjadi kontradiksi antara fakta sosial dengan
> 
> teks agama, maka teks agama harus ditafsirkan ulang.
> 
> Contoh lain yang juga banyak diterima oleh kalangan
> 
> Islam adalah soal boleh tidaknya perempuan menjadi
> 
> kepala negara. Ada satu hadis yang sering dikutip
> 
> sebagai larangan bagi perempuan untuk menjadi kepala
> 
> negara, "imam". Tetapi, saat ini, banyak ulama sudah
> 
> bisa menerima kenyataan bahwa perempuan bisa menjadi
> 
> kepala negara, anggota parlemen, dan posisi-posisi
> 
> publik yang lain. Apakah ulama yang berpandangan
> 
> demikian melanggar hadis itu? Bisa ya, bisa tidak.
> 
> Kalau dimaknai secara harafiah, mereka memang
> 
> melanggar hadis itu; tetapi jika mereka melakukan
> 
> ta'wil, maka mereka tidak melanggar.
> 
> 
> 
> Poin saya dengan menunjukkan dua contoh di atas adalah
> 
> bahwa dengan adanya hadis, tidak serta-merta
> 
> masalahnya selesai. Sebab, hadis yang sama bisa
> 
> ditafsirkan secara berbeda-beda. 
> 
> 
> 
> Tiga argumen yang saya sebut diatas sekurang-kurangnya
> 
> menunjukkan bahwa dalil-dalil finalitas kenabian
> 
> bukanlah dalil yang qath'i, sebab masih mengandung
> 
> ambiguitas dan penafsiran yang serba terbuka.
> 
> 
> 
> (4) Bagaimana dengan fakta bahwa hampir sebagian besar
> 
> ulama Islam sepakat tentang doktrin ini? Mungkin
> 
> banyak kalangan Isam yang berpandangan bahwa dalam hal
> 
> ini telah terjadi "ijma'" atau konsensus di kalangan
> 
> para ulama? Bukankah melanggar ijma' adalah kafir,
> 
> menurut sebgaian para ulama?
> 
> 
> 
> Pertama, saya tidak sepakat bahwa terjadi ijma' dalam
> 
> masalah ini, Kedua, kedudukan ijma' sendiri
> 
> sebagaifondasi untuk menetapkan hukum atau doktrin
> 
> masih diperselisihan antara para ulama.
> 
> 
> 
> (5) Sekarang saya sampai pada bagian yang paling
> 
> penting dari argumen saya. Secara faktual-historis,
> 
> hadis tentang finalitas kenabian tidak sesuai dengan
> 
> kenyataan sejarah yang ada. Setelah Nabi Muhammad
> 
> wafat, kita menjumpai banyak sekali orang-orang yang
> 
> mengkleim sebagai nabi, dan bahkan beberapa di
> 
> antaranya mendirikan agama baru, seperti Baha'ullah
> 
> yang mendirikan agama Baha'i. Sebagaimana hadis
> 
> tentang suku Quraish sebagai pemimpin tidak sesuai
> 
> dengan fakta sosial, dan karena itu harus dita'wil,
> 
> maka begitu pula hadis tentang finalitas kebabian ini
> 
> juga harus dita'wil karena terang-terang tidak sesuai
> 
> dengan fakta yang ada. 
> 
> 
> 
> Pertanyaan yang sudah bisa saya duga adalag sbb:
> 
> nabi-nabi yang muncul setelah Nabi Muhammad adalah
> 
> "impostor", yakni nabi gadungan. Jawaban atas
> 
> pertanyaan ini sudah saya ulas panjang lebar dalam
> 
> surat yang lain. Secara singkat, saya ingin ulangi
> 
> lagi argumen itu.
> 
> 
> 
> Tuduhan bahwa nabi-nabi setelah Nabi Muhammad adalah
> 
> "impostor" jelas tidak bisa diterima. Kalau kita
> 
> menerima tuduhan ini, maka kita bisa mengatakan bahwa
> 
> bahkan Nabi Muhammad pun dituduh nabi gadungan, baik
> 
> pada saat masih hidup atau jauh setelah itu. Di Eropa
> 
> abad pertengahan, anggapan tentang Muhammad sebagai
> 
> "impostor" diterima dengan luas sekali. 
> 
> 
> 
> Masing-masing kelompok agama bisa melontarkan tuduhan
> 
> yang macam-macam kepada tokoh atau pendiri agama yang
> 
> lain. Jika kita ikuti hal ini, maka yang terjadi
> 
> adalah saling lempar-tuduhan yang tak ada ujungnya.
> 
> Menurut saya, harus ada suatu "kriteria" yang kurang
> 
> lebih "objektif" untuk menilai apakah seseorang benar
> 
> nabi atau tidak. Dalam email yang lalu, saya
> 
> mengajukan dua kriteria yang kurang lebih "netral":
> 
> 
> 
> (a) Seseorang boleh dianggap nabi kalau dia memang
> 
> mengajukan kleim seperti itu. Dengan kriteria ini,
> 
> kita tak bisa menganggap Karl Marx, misalnya, sebagai
> 
> nabi, sebab dia tidak mengajukan kleim seperti itu.
> 
> Tapi kriteria pertama ini belum cukup. Harus ada
> 
> kriteria lain yang sifatnya lebih "publik".
> 
> 
> 
> (b) Dia harus membawa ajaran moral (bukan teori sosial
> 
> atau filsafat etika) yang membawa maslahat bagi
> 
> kemanusiaan. Salah satu esensi kenabian seperti
> 
> dikemukakan oleh para filsuf Muslim seperti Ibn Sina
> 
> adalah adanya ajaran moral ini, atau "sunnah". Ibn
> 
> Sina menyebut nabi sebagai "saann", yakni orang yang
> 
> menetapkan suatu jalan-keselamatan-lewat-ajaran-moral
> 
> ("saann" dan "sunnah" dari akar kata yang sama).
> 
> 
> 
> (6) Sebagaimana dikemukakan oleh sebagian teman di
> 
> milis ini, masalah manusia masih terus bermunculan.
> 
> Agama-agama yang ada tidak seluruhnya mampu memberikan
> 
> solusi pada masalah yang ada. Dalam beberapa kasus,
> 
> ketimbang memberikan solusi, agama-agama yang ada,
> 
> termasuk Islam, malah justru memperburuk keadan. Saya
> 
> katakan, "dalam beberapa kasus", tidak dalam semuanya.
> 
> Meskipun secara pribadi saya menganggap bahwa akal
> 
> manusia bisa didaya-gunkan untuk mencari solusi atas
> 
> masalah-masalah itu, tetapi saya tidak menutup diri
> 
> pada kemungkinan adanya solusi yang berasal dari wahyu
> 
> baru. Bukan tidak mungkin beberapa ajaran moral dari
> 
> nabi yang datang setelah Nabi Muhammad lebih baik
> 
> dalam beberapa segi ketimbang Islam sendiri. Salah
> 
> satu contoh adalah agama Baha'i. Agama ini mempunyai
> 
> wawasan kemanusiaan yang jauh lebih inklusif ketimbang
> 
> Islam, Kristen dan Yahudi. Sejak pertama, agama Baha'i
> 
> mengakui adanya keselamtan dalam semua agama, dan ini
> 
> dikatakan jauh sebelum Vatikan II. Dari segi ini, saya
> 
> dengan jelas mengatakan agama Baha'i lebih "universil"
> 
> dan "ekomunis" ketimbang Islam. (Disclaimer: saya
> 
> bukan pemeluk agama Baha'i). 
> 
> 
> 
> (7) Doktrin tentang finalitas kenabian,
> 
> sekurang-kurangnya seperti yang dipraktekkan oleh
> 
> mayoritas umat Islam (sejak zaman klasik hingga
> 
> sekarang), sudah jelas tidak tepat jika dilihat dari
> 
> segi "dampak sosial"-nya. Kita bisa melihat sendiri,
> 
> ribuan pengikut Baha'i sejak berdirinya agama itu
> 
> hingga sekarang mengalami persekusi dan penderitaan
> 
> karena dimusuhi oleh umat Islam. Ribuan anggota
> 
> Ahmadiyah, sejak kelompok ini berdiri hingga sekarang,
> 
> mengalami persekusi di hampir semua negeri Islam.
> 
> Rumah ibadah mereka dihancurkan, anggota jamaah mereka
> 
> mengalami ancaman fisik. Semua itu hanya karena ada
> 
> satu doktrin yang dipercayai oleh umat Islam: bahwa
> 
> Nabi Muhammad adalah nabi terakhir. 
> 
> 
> 
> Dalam pandangan saya, salah satu kriteria sebuah
> 
> doktrin benar atau tidak adalah apakah dia membawa
> 
> maslahat bagi kemanusiaan atau malah musibah. Doktrin
> 
> finalitas kenabian, di mata sayam, jelas membawa
> 
> akibat buruk selama berabad-abad. Sudah saatnya umat
> 
> Islam menafsirkan ulang doktrin ini, kalau tak mau
> 
> membuangnya sama sekali. Kalau tidak, saya khawatir
> 
> ribuan orang harus menjadi korban lagi di masa-masa
> 
> mendatang. 
> 
> 
> 
> Bukankah Islam datang untuk membawa rahmat bagi
> 
> sekalian alam?
> 
> 
> 
> Semoga penjelasan saya ini memuaskan. Mohon maaf jika
> 
> berkepanjangan. 
> 
> 
> 
> In uridu illa al-islah wa ma taufiiqii illa bilLah
> 
> Al-haqqu min rabbika fa la takunanna min al-mumtarin
> 
> ============== ended===================
> 
>  
> 
> -------Original Message-------
> 
>  
> 
> From: qalam26
> 
> Date: 01/21/2008 03:29:40 PM
> 
> To: [email protected]
> 
> Subject: [filsafat] Solusi FATWA sesat MUI (ahmadiyah)
> 
>  
> 
> Kenapa ahmadiyah tidak mendeklarasikan dirinya sebagai agama 
> 
> tersendiri diluar Islam agar tidak difatwa sesat oleh MUI. 
> 
> 
> 
> Karena jika Ahmadiyah masih menyatakan dirinya sebagai bagian dari 
> 
> umat islam maka ia harus meyakini nabi muhammad SAW sebagai nabi 
> 
> terakhir, dan bukan mirza ghulam ahmad sebagai nabi terakhir. 
Karena 
> 
> ini adalah keyakinan baku dalam islam dan tidak bisa ditawar-
tawar. 
> 
> dalilnya 
> 
> 
> 
> "...Dan sesungguhnya akan muncul pada ummatku pendusta yang 
jumlahnya 
> 
> tiga puluh orang, mereka semua mengaku sebagai Nabi, sedangkan aku 
> 
> adalah penutup para Nabi dan tidak ada Nabi sepeninggalku."
> 
> (HR. öAhmad (V/278), Abu Dawud (no. 4252), Ibnu Majah (no. 3952)
> 
> 
> 
> Aku juga mempunyai nama al-`Aaqib (belakangan/penutup) -tidak ada 
> 
> lagi Nabi yang datang sesudahku-."
> 
> (HR. Al-Bukhari (no. 3532), Muslim (no. 2354) dan at-Tirmidzi (no. 
> 
> 2840)
> 
> 
> 
> Tidak salah MUI memfatwa sesat ahmadiyah jika ahamdiyah masih 
> 
> mengatakan mirza ghulam ahmad itu nabi setelah nabi muhammad.
> 
> dalilnya jelas dan banyak terdapat dalam kitab hadits shohih 
bukhori 
> 
> dan muslim yang menjadi sumber kedua hukum islam. 
> 
> 
> 
> jadi solusinya ahmadiyah berdiri sendiri saja sebagai agama diluar 
> 
> islam wong nabinya beda dengan umat islam...mirza ghulam ahmad dan 
> 
> kitab sucinya juga beda yakni tadzkiroh. jadi kenapa tidak keluar 
> 
> sekalian saja dari islam dan mendeklarasikan diri sebagai agama 
baru. 
> 
> karena fatwa MUI hanya mengikuti dalil2 yang sudah jelas dan 
banyak 
> 
> bertebaran dalam kitab2 hadits shohih. 
> 
> 
> 
> atau anda mau jadi para pengingkar hadits. ????
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
>  
> 
> PT. BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL TBK. DISCLAIMER:
> 
> This email and any files transmitted with it are confidential and
> intended solely for the use of the individual or entity to whom 
they
> are addressed. If you have received this email in error please 
notify
> the system manager. This message contains confidential information
> and is intended only for the individual named. If you are not the
> named addressee you should not disseminate, distribute or copy this
> e-mail. Please notify the sender immediately by e-mail if you have
> received this e-mail by mistake and delete this e-mail from your
> system. If you are not the intended recipient you are notified that
> disclosing, copying, distributing or taking any action in reliance 
on
> the contents of this information is strictly prohibited.
>




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke