--- On Sun, 6/8/08, audifax - <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: audifax - <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [psikologi_transformatif] MEMAHAMI KECERDASAN
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
 [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, June 8, 2008, 10:26 AM










    
               Memahami Kecerdasan  
  Oleh:  Audifax  Research Director di SMART Center for Human Re-Search & 
Psychological Development  
  
  Kecerdasan seringkali dipahami
 semata sebagai kemampuan berpikir, padahal kecerdasan bukan melulu masalah 
berpikir. Saya sendiri lebih suka mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan 
seseorang untuk survive dalam kehidupan pribadinya. Dengan demikian, ada banyak 
hal yang berkaitan dengan kecerdasan dan bukan semata kemampuan berpikir. 
Indikasi dari hal tersebut setidaknya tampak pada begitu banyak ditemukan jenis 
kecerdasan baru.  
  Salah satu teoritisi yang melihat bahwa kecerdasan manusia bukan tunggal 
melainkan jamak, adalah Howard Gardner. Ia menemukan bahwa ada setidaknya 9 
kecerdasan penting yang
 memengaruhi bagaimana seseorang survive di kehidupannya. Namun bukan berarti 
kecerdasan manusia hanya 9. Ada banyak kecerdasan lain di luar 9 kecerdasan 
Gardner tersebut, hanya saja kesembilan kecerdasan yang diidentifikasi Gardner 
inilah yang memiliki signifikansi tinggi dalam keseharian.  
  Namun sebelum Kita mau bicara jauh tentang kecerdasan, apa dan bagaimana 
kecerdasan itu? Kecerdasan terutama akan berkaitan dengan potensi, performance 
dan effort.  
  Potensi, Performance, dan Effort  Pernahkah melihat seseorang yang sejak bayi 
sudah memiliki kelebihan tertentu dalam menangkap nuansa lagu? Misalnya ketika 
ia menangis ketika
 mendengar instrumental yang bernuansa sedih. Padahal bicara saja belum bisa, 
bagaimana mungkin ia bisa paham isi sebuah lagu?  
  Pernahkah anda menemukan murid yang IQ-nya sangat superior tapi prestasi 
sekolahnya jeblok? Atau sebaliknya, IQ-nya rata-rata tapi justru berprestasi 
tinggi dalam bidang akademis? Di semua sekolah yang melaksanakan tes IQ kita 
PASTI menemukan hal ini.  
  Ketika Kita bicara tentang contoh bayi dan murid sekolah tersebut, Kita 
bicara tentang Potensi, Performance dan Effort.  
  Potensi adalah kecerdasan yang sifatnya bawaan. Genetik atau ‘dari sononya’. 
Bayi yang belum bisa bicara apa-apa tapi mampu membedakan mana lagu sedih dan 
lagu riang, itu berarti ia memiliki kecerdasan yang sifatnya bawaan. Sifatnya 
Gifted. Sudah terberikan ke dalam
 dirinya dari alam. Saat ini pengukuran kecerdasan yang sifatnya bawaan juga 
sudah berkembang, salah satunya dengan cara mengidentifikasi fingerprint. 
Menurut penelitian, fingerprint memiliki hubungan dengan pembentukan 
syaraf-syaraf di otak.  
  Potensi dengan demikian tidak bisa berubah. Jika dalam fingerprint tes 
diidentifikasi Kecerdasan Musik berada di urutan terakhir, maka sampai kapan 
pun tetap akan berada di urutan terakhir. Apa yang mungkin berkembang kemudian 
adalah performance. Bisa saja secara fingerprints ia cerdas, namun dalam 
pengukuran psikologis menggunakan
 kuesioner ternyata hasilnya tidak cerdas. Artinya, ada potensi yang secara 
performa tidak berkembang.  
  Performance adalah kecerdasan yang sifatnya bentukan. Sekian tahun perjalanan 
seorang murid membentuk performa kecerdasannya. Dalam tes IQ misalnya, ketika 
diukur muncullah level-level seperti moron, rata-rata, cerdas, superior hingga 
sangat superior. Itu adalah bentuk kecerdasan yang sifatnya performance. Hal 
yang sama dengan tes Multiple Intelligence yang diambil lewat alat ukur dalam
 bentuk kuesioner.  
  Performance adalah semacam gambaran titik-titik puncak dalam konfigurasi 
kemampuan manusia. Apakah titik puncak ini tidak bisa berubah? Jawabnya, masih 
bisa berubah. Kita sering menemukan istilah, “Dia sedang tidak dalam top 
performance- nya”. Itu artinya, apa yang ia tampilkan di realita tidak sesuai 
performance-nya. Sebaliknya, ada juga orang-orang yang mampu melampaui 
performance-nya. Di sinilah kita bicara effort.  
  Effort sebenarnya bukan kecerdasan, sifatnya lebih pada upaya. Sekedar 
ilustrasi yang mudah. Kita sering menemukan kasus di mana dalam olahraga, 
taruhlah bulutangkis, pemain unggulan dikalahkan oleh pemain
 non-unggulan. Inilah contoh effort. Secara performa, pemain unggulan itu jelas 
di atas si non-unggulan. Namun ada situasi di mana pemain unggulan itu tak bisa 
mencapai top performa-nya, sebaliknya pada situasi yang sama justru si pemain 
non-unggulan menampilkan permainan melampaui performa-nya. Inilah faktor 
effort.  
  Pengukuran dengan demikian bukan sebuah tes prestasi. Pengukuran kecerdasan 
lebih pada memberikan
 konfigurasi yang sifatnya ‘rambu-rambu’. Pengukuran psikologis bertujuan 
menunjukkan area-area mana seseorang mesti memiliki effort lebih serta 
area-area mana ia sudah memiliki ‘modal’ lebih sehingga dengan effort biasa 
saja ia sudah bisa tampil excellent.  
  Multiple Intelligence  Howard Gardner mengidentifikasi setidaknya ada 
sembilan kecerdasan penting yang dimiliki manusia dan memiliki signifikansi 
bagi kehidupannya. Kecerdasan itu adalah: Logika Bahasa, Logika Matematika, 
Musik, Kinestetik, Spasial, Intrapersonal, Interpersonal, Naturalistik dan 
Eksistensial.  
  Ada sejumlah prinsip yang perlu diketahui ketika kita memahami kecerdasan 
jamak:  
  Pertama, Angka-angka kecerdasan yang diperoleh sifatnya bukan dibandingkan 
dengan orang lain melainkan dibandingkan dengan diri sendiri.   
  Ilustrasinya begini: jika seorang Erwin Gutawa memiliki kecerdasan musikal 70 
sementara saya memiliki kecerdasan musikal 100, itu bukan berarti secara musik 
saya lebih bagus daripada Erwin Gutawa. Di sini angka 100 yang saya miliki itu 
pun belum cukup untuk menandingi 70-nya Erwin Gutawa.   
  Kenapa demikian? Karena performa 70 dan 100 antara Erwin Gutawa dan saya itu 
bukan untuk dibandingkan satu sama lain. Angka 70 yang dimiliki Erwin itu untuk 
dibandingkan dengan angka-angka kecerdasan lain yang dimilikinya, begitu pula 
saya.  
  Di sinilah peran pengukuran kecerdasan jamak dalam diri seseorang, yaitu 
untuk mengidentifikasi KONFIGURASI yang ada dalam dirinya dan bagaimana 
konfigurasi itu berperan dalam kemampuannya untuk survive dalam kehidupannya.  
  Kedua, Angka-angka kecerdasan di masing-masing kategori tak selalu bisa 
dihubungkan secara wantah atau an sich dengan suatu realita dan terlepas 
keterkaitannya satu sama lain. Bagaimana pun, kita mesti tetap berpegang bahwa 
kecerdasan-kecerdas an itu berada dalam satu tubuh yang sama sehingga mustahil 
jika tidak ada interaksi antara satu kecerdasan dengan kecerdasan lain.  
  Ilustrasinya begini: Seorang pembalap formula 1 seperti Michael Schumacher 
misalnya, ketika dia bisa melewati lawan demi lawan, menghitung kecepatan di 
tikungan demi tikungan, menjaga keseimbangan Formula 1 yang dikendarainya. Itu 
bukan semata dia punya kinestetik tinggi. Dalam semua yang dia lakukan di 
arena, ada kecerdasan lain yang berperan, setidaknya ada Logika Matematika dan 
Spasial. Bisa jadi Logika Matematika Schumacher lebih tinggi dari Kinestetik 
dan Spasialnya. Artinya, dia mampu menghitung benar apa yang ada dalam ruang 
atau membawa hal-hal yang ada dalam ruang arena ke dalam sebuah perhitungan.  
  Sebaliknya, seorang yang jago matematika, belum tentu dikarenakan Logika 
Matematikanya tinggi. Bisa jadi Logika Matematikanya biasa saja, tapi 
Spasial-nya tinggi. Artinya, kebalikan dari Schumacher, dia justru meruangkan 
hitungan. Ini bisa tampak pada mereka yang jago dalam soal cerita atau studi 
kasus. Ketika hitungan dihadirkan dalam cerita, maka sebenarnya hitungan itu 
diruangkan.  
  Kecerdasan Musik, tak selalu merujuk pada bakat musik semata. Esensi dari 
musik adalah sesuatu yang tertata ritmis dan menimbulkan rasa tertentu. Ketika 
seorang pemain basket atau sepakbola tampak begitu tepat menyesuaikan dengan 
gerak rekan-rekannya yang lain, di sini juga ada Kecerdasan Musik yang 
berperan. Ketika Kecerdasan Musik dan
 Interpersonal sama-sama tinggi misalnya, itu berarti dia memiliki kepekaan 
dalam menangkap ‘gerak perasaan’ dari orang yang tengah ia ajak berinteraksi. 
Gerak perasaan seseorang, bagaimanapun tak bisa disembunyikan karena secara 
non-verbal akan tampak.  
  Poskrip  Memahami kecerdasan dan pengukurannya mesti disertai kemawasan 
tinggi. Suatu tes kecerdasan sebenarnya bersifat peta atau gambaran sebuah 
pola. Melalui peta itu ada rekomendasi atau rambu yang bisa digunakan untuk 
memahami lebih jauh tentang diri. Sebuah tes psikologi bukanlah prestasi atau 
sesuatu yang bisa dipertandingkan antara satu orang dengan yang lain. Maka
 itu penyampaian sebuah hasil tes pun mesti dilakukan dengan bijaksana.  
  Kita mesti mawas bahwa hasil yang tampak pada Potensi, masih mungkin berubah 
karena perjalanan pengalaman atau performa. Begitu pula performa, masih bisa 
dirubah oleh effort. Sebuah hasil tes bukan label mati yang menjadi takdir 
seseorang. Selalu masih ada kemungkinan lain yang bisa diraih dari apa yang 
terpampang pada hasil tes.  
  Jangan sampai sebuah hasil tes psikologi justru melekatkan label atau stigma 
yang membebani individu.
 Sebaliknya, suatu hasil tes mesti menjadi encouragement dan empowerment bagi 
individu. Maka itu, interpretasi hasil tes tak bisa diletakkan dalam koridor 
baik-buruk. Interpretasi hasil tes mesti merupakan sebuah prediksi kemungkinan 
yang berguna untuk individu yang bersangkutan serta solusi apa yang mungkin 
bisa disarankan.  
  
  audifax, 6 Juni 2008  
  
  Bagi anda yang berminat mendiskusikan esei ini, kami mengundang anda untuk 
bergabung dalam diskusi di milis Psikologi Transformatif.  
  
  
  
  Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif  Mailing List Psikologi 
Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh Audifax dan beberapa 
rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi Sosial Fakultas 
Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah berkembang sedemikian 
pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di Indonesia. Total member 
telah melebihi 2200, sehingga wacana-wacana yang didiskusikan di milis inipun 
memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Tak ada 
moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau keluar sekehendak anda. Arus 
posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di sini. Seperti sebuah jargon 
terkenal di psikologi ”Di mana ada manusia, di situ psikologi bisa diterapkan” 
di sinilah jargon itu tak sekedar jargon melainkan menemukan konteksnya. Ada 
berbagai sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan yang tak diajarkan di 
Fakultas Psikologi
 Indonesia.  
  Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat 
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk 
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual 
menuju ke sifat yang kontekstual. Di milis ini anda diajak untuk mengalami 
psikologi.   
  Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk 
bergabung sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan 
tindak lanjut dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, 
diharapkan diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat
 terus dilanjutkan. Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain 
adalah para pembicara dari simposium Psikologi Transformatif : Edy 
Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung 
Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, 
Leonardo Rimba, Mang Ucup, Goenardjoadi Goenawan, Prastowo, Prof Soehartono 
Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, 
Felix Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, 
FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, 
Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf 
Sutanto, Stephanie Iriana, Lulu Syahputri, Lan Fang, Yunis Kartika, Ratih 
Ibrahim, Nuruddin Asyhadie, Arif Nurcahyo, Sinaga Harez Posma dan masih banyak 
lagi.  
  Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, 
klik:  
  www.groups.yahoo. com/group/ psikologi_ transformatif  
  Perhatian: Tidak ada moderator dalam milis ini sehingga upaya untuk masuk 
atau keluar dari milis ini mutlak tanggung jawab anda sendiri.  
  
  SEKILAS TENTANG AUDIFAX  Audifax adalah salah satu pendiri sekaligus owner 
milis Psikologi Transformatif. Milis ini adalah milis psikologi dengan jumlah 
member terbesar di Indonesia. Saat ini ia bekerja sebagai Research Director di 
SMART – Center for Human Re-Search & Psychological Development yang 
beralamat di: Jl. Taman Gapura G-20 Kompleks G-Walk Citraland Surabaya. Telp 
(031) 7410121. e-mail: [EMAIL PROTECTED] com  
  Beberapa karya tulis telah ia hasilkan. Di antaranya adalah empat buku: Mite 
Harry Potter (2005, Jalasutra), Imagining Lara Croft (2006, Jalasutra), 
Semiotika Tuhan (2007, Pinus) dan bersama Leonardo
 Rimba menulis Psikologi Tarot (2008, Pinus).  
  Ia juga merupakan anggota Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB). Beberapa 
eseinya dimuat dalam sejumlah antologi yang diterbitkan FSK ITB. Saat ini 
minatnya lebih terarah untuk mendalami kecerdasan jamak (Multiple Intelligence) 
dan sisi psikologis berbagai bentuk ’Kisah’ dalam kaitannya dengan kehidupan 
psikis manusia.  



      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke