Di suatu sore yang cerah ntah tanggal dan tahun berapa lupa saking lamanya, di teras belakang kos2-an yang kata teman2 saya kayak pagupon (kandangburung merpati), dengan pikiran lagi plong tanpa beban tugas2 kuliah, pake sarung sambil ngisep2 gudang garam surya saya baca artikel pendek tulisan sang kyai mbeling Emha Ainun Nadjib di sebuah surat kabar apa, yang inipun juga lupa.
Judul threat ini saya jiplak dari judul artikelnya Emha tersebut, yang sampe sekarangpun masih membekas dalam ingatan karena begitu tepatnya Emha berkomentar tentang sebuah festival unjuk kesaktian yang waktu itu baru diadakan di Semarang. Berbagai macam orang dengan berbagai macam "kesaktian" mendemonstrasikan kelebihan masing2, dari mulai yang kebal senjata tajam, penyembuhan sampe model terawangan ditampilkan. Lamat-lamat saya ingat dengan tepatnya Emha me-redefinisi apa itu "KESAKTIAN", yang sering didefinisikan secara sangat sederhana oleh masyarakat kita sebagai "DAYA LINUWIH", kelebihan seseorang melakukan hal2 yang "DILUAR KELAZIMAN" diluar kerangka paradigma dan dengan demikian dianggap sebagai sesuatu yang ekslusif, hanya bisa dimiliki atau dipelajari oleh orang2 tertentu yang dianggap "istimewa". Kesaktian, bila hanya didudukkan secara proporsional sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang diluar kerangka paradigma seharusnya tidak lantas menuju kesimpulan bahwa ini adalah sebuah keistimewaan. Pada kenyataannya, paradigma individu atau masyarakat bukanlah sesuatu yang statis tapi dinamis dan ber-EVOLUSI bahkan ada tanda-tanda REVOLUSI. Apa yang sebelumnya dianggap sesuatu yang diluar kelaziman dengan segera akan menjadi lazim bila sudah menjadi fenomena sehari-hari atau secara logika bisa sepenuhnya dipahami. Dengan demikian, segala jenis ilmu pengetahuan dan produk2 teknologi misalnya, pun bisa dikategorikan sebagai kesaktian dengan kenyataan bahwa hal2 tersebut senantiasa berkembang dan menembus batas2 kelaziman dalam paradigma individu maupun masyarakat pada suatu saat. Kesaktian seperti ini justru lebih hebat bila dipandang daya pengaruhnya pada perubahan secara langsung pada dunia fisik, tatanan masyakarat maupun pola pikir dan paradigma yang pada gilirannya akan menghasilkan perubahan yang lain. Gambar televisi yang bisa dikirim jarak jauh dan ditampilkan dalam satu kotak kaca, sampe jaman komunikasi internet sekarang adalah hasil kesaktian yang luar biasa dari penciptanya. Kemampuan "menciptakan" uang, mengendalikan perekonomian dan tatanan dalam struktur masyarakat yang semakin kompleks, dan sebagainya, bahkan menemukan bahwa bumi ternyata bulat, adalah sebuah kesaktian yang sungguh luar biasa. Dalam kesederhanaan pola pikir masyarakat kita, kesaktian masih banyak diukur dari seberapa jauh sesuatu yang bisa dilakukan dari kelaziman, dari paradigma dan kemampuan logika untuk mencerap fenomena. Bahwa bagaimana individu atau suatu masyarakat bebas menetapkan criteria ukuran kesaktian, maka ini sah-sah saja. Tapi justru dari sinilah bisa diukur tingkat kedewasaan individu atau masyarakat. Semakin dewasa individu atau masyarakat, ukuran "kesaktian" seharusnya lebih diukur dari KAGUNAN (KEGUNAAN) dibanding ketidaklaziman. KAGUNAN, inilah yang akan memberikan pengaruh pada perubahan. Terkagum-kagum pada ketidaklaziman, justru menunjukkan suatu pola pikir yang mandeg, yang menafikkan dinamisnya paradigma dan keterkungkungan pada suatu pola pikir. Lebih jauh, kekaguman semacam ini analog dengan sifat kekanak2an yang sebagaimana anak kecil yang senantiasa terkagum-kagum pada sesuatu yang baru, yang diluar kelaziman dari batas paradigmanya yang sedang tumbuh. Namun berbeda dengan kanak-kanak yang karena keterkagumannya memunculkan rasa ingin tahu dan pada gilirannya memperluas cakrawala paradigmanya dan membuatnya tumbuh, pada individu yang "dewasa" secara fisik kekaguman semacam ini akan berhenti pada kekaguman dan tidak menghasilkan apa-apa selain kemandegan pola pikir. Sudah saatnyalah masyarakat kita harus melihat betapa dunia ini semakin penuh dengan "orang2 sakti", bukan kesaktian semata-mata DILUAR KELAZIMAN yang sungguh tidak ada apa-apanya dibanding kesaktian-kesaktian yang penuh dengan KAGUNAN. Salam, Anwar ------------------------------------ ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
