Sumber : Scientiarum.com (klik disini)
SEDIKIT FAKTA TENTANG BIBIT WALUYO (klik disini)
Semoga bisa memampukan kita melihat sosok Bibit Waluyo secara lebih
komprehensif.
Mayjen TNI Bibit Waluyo, Pengagum Soedirman di Tengah Panasnya Jakarta
Masa depan memang seperti teka-teki yang sulit untuk ditebak. Atau,
seperti kegelapan yang susah untuk disibak. Lelaki itu tampaknya
mafhum akan hal tersebut. Terutama saat ia masih tinggal di sebuah
perkampungan di Klaten, Jawa Tengah, sebagai anak seorang petani. Yang
ia tahu, hidup sebagai anak petani tak begitu menyenangkan. Makan
sehari-hari saja susah, katanya. Keinginan menjadi insinyur pertanian
memang sempat tumbuh di benaknya. Namun, waktulah yang kemudian
menjawab teka-teki tentang masa depan. Selulus SMA, atas ajakan
teman-temannya, ia mendaftarkan diri ke Akabri. Karena enggak pakai
duit, saya langsung mendaftar. Terus, masuk, ujarnya. Tak dinyana,
pilihan itu mengantarkannya menjadi orang yang cukup penting di
jajaran militer. Dan, sejak 22 Januari lalu, ia bertugas sebagai
Panglima Kodam Jaya.
Toh, lama berkutat di dunia militer tak membuatnya berubah. Bibit
Waluyo, lelaki itu, tetaplah sosok yang ramah. Pangkat jenderal
bintang dua yang disandang tak membuat lelaki berusia 52 tahun itu
berpenampilan angker. Sikap itu juga ditunjukkannya saat ditemui FORUM
di ruang kerjanya, 12 Februari lalu. Dihampirinya wartawan FORUM Anton
Bahtiar Rifai, Irfan Maulana Amrullah, dan fotografer Krus Haryanto
yang telah menantinya. Eh, siapa namamu? katanya, seraya menjabat
tangan mereka satu per satu. Ketika berbincang-bincang, Bibit tak
pernah ragu-ragu bercerita segala hal tentang dirinya. Misalnya, saat
ia bertutur tentang namanya yang agak unik. Waluyo itu kan artinya
selamat. Jadi, bukan bibit penyakit, ya, kata lulusan Akabri tahun
1972 itu.
Yang juga tak berubah dari Bibit, ia tetaplah pengagum sosok Panglima
Besar Jenderal Soedirman. Di depan ruang kerjanya, sebuah poster
bergambar Soedirman terpampang. Beliau adalah tentara tulen. Pak
Dirman itu panutan TNI, katanya. Dan, ia pun bercerita bahwa dirinya
berusaha melaksanakan etika dan moral yang ditanamkan sosok idolanya
itu. Misalnya, sejak berpangkat letnan dua, ia rutin menjalankan salat
Tahajud setiap malam. Bahkan, puasa Senin-Kamis pun sudah rutin
dilakukannya sejak muda. Hanya, katanya, Belakangan ini saya tidak
lagi berpuasa Senin-Kamis. Sebab, kalau kurang minum pada siang hari,
pinggang saya sakit. Proses penuaan tak bisa dihindari.
Dan, inilah saat yang cukup penting dalam hidupnya. Memegang tongkat
komando di wilayah Kodam Jaya mempunyai makna strategis. Apalagi,
untuk saat-saat ini. Pertentangan di tingkat elite politik, persisnya
perseteruan antara kalangan legislatif dan Presiden, telah membuat
Jakarta terasa panas. Gelombang demonstrasi bisa disaksikan hampir
setiap hari. Yang memprihatinkan, gelombang demonstrasi itu dibelah
oleh dua sikap politik yang berseberangan, yakni antara yang membela
dan yang menolak Presiden Abdurrahman Wahid. Kondisi seperti ini jelas
berpotensi menimbulkan ketegangan.
Itulah kenyataan yang dihadapi Bibit ketika mulai menjabat Pangdam
Jaya. Sudah pasti, penguasaan lapangan merupakan keniscayaan bagi
penggemar olah raga golf itu. Kalau sebagai pejabat baru saya tidak
menguasai lapangan, maka saya tak akan segera bisa membuat langkah dan
saran tindakan kepada saudara saya, Kapolda, ujarnya. Memang,
jajarannya harus selalu siap mem-back up jajaran Polda Metro Jaya
dalam mengendalikan keamanan Ibu Kota. Dengan alasan penguasaan
lapangan itu pula, setelah dilantik sebagai Pangdam Jaya menggantikan
Mayjen Slamet Kirbiantoro, ia langsung terjun ke satuan-satuan tugas
di lapangan. Itu bagian dari rasa tanggung jawab saya sebagai
Panglima. Jadi, sebelum nyetir, saya ketahui dulu kondisi kendaraan
saya, katanya.
Anda diangkat menjadi Pangdam Jaya saat kondisi Jakarta memanas
Saya kira, tidak ada masalah. Demonstrasi satu juta [orang] pun tidak
apa-apa, asal tidak terjadi anarki. Kalau perencanaan demonya bagus,
dilalui dengan prosedur yang benar, ya jelas bagus. Jadi, sebenarnya
Jakarta tidak perlu panas. Sebab, orang Jakarta itu adalah
kelompok-kelompok yang sudah mempunyai pikiran yang panjang.
Orang-orang di Jakarta itu memiliki nilai strategis. Keliru membuat
langkah, risikonya terlampau tinggi. Jangan mentang-mentang maunya
sendiri, akhirnya terjadi benturan-benturan yang tidak kita inginkan.
Semua ingin membela rakyat. Tapi, rakyat mana yang mau dibela itu?
Dalam mengendalikan keamanan Jakarta, sejauh mana back up Kodam Jaya
terhadap Polda Metro?
Back up Kodam Jaya itu ada dua langkah, yaitu back up fisik dan
nonfisik. Dalam back up fisik, saya menyiapkan pasukan sesuai
permintaan Polda Metro. Saya siap untuk memberikan back up. Berapa?
Itu urusan saya dan Kapolda. Sebab, pernyataan soal kekuatan itu bukan
menyejukkan masyarakat, tapi justru membuat resah. Karena itu,
kekuatan tidak perlu diekspos. Yang nonfisik saya kerjakan dengan cara
mengajak masyarakat yang mau berkonsultasi dengan saya.
Bermusyawarahlah kalau ada masalah. Meski pro dan kontra kan sama-sama
warga bangsa? Kenapa kita mesti berbeda? Sampaikan itu kepada forum
yang resmi, seperti wakil kita di DPR/MPR, supaya mereka
memperjuangkan keinginan kita. Kalau ternyata Pak Presiden harus
dipertahankan atau harus turun, itu kan bagian dari dinamika
masyarakat. Itu silakan. Aparat keamanan tidak akan mengganggu dan
tidak akan mencampuri urusan tersebut. Silakan, itu adalah kehendak
dan kemauan rakyat.
Selain back up fisik dan nonfisik, tentunya Kodam Jaya sudah mempunyai
analisis mengenai kondisi Jakarta?
Saya jangan dihadapkan dengan kalau-kalau. Selama ini, seolah-olah
pikiran kita tertuju pada anarkisme, misalnya, Nanti kalau Jakarta
rusuh, akan diterapkan darurat militer, akan diberlakukan darurat
sipil. Itu kan kalau-kalau? Pikiran kita jangan dibuat begitu.
Karena itu, mari kita berpikir jernih dan membersihkan hati. Tumbuhkan
kesadaran itu. Sebab, kalau tidak mampu menumbuhkan kesadaran
tersebut, bisa benar-benar terjadi nanti. Kalau itu benar-benar
terjadi, kita akan merugi. Jadi, saya berharap, seluruh warga jangan
berharap pada kalau-kalau.
Mungkinkah anarki seperti yang terjadi di Jawa Timur menular ke
Jakarta?
Mudah-mudahan, tidak. Rakyat Jakarta kan sudah mempunyai pikiran yang
bersih dan juga lebih baik. Tolong, itu dipelihara. Kalau grass roots
digerakkan, bahayanya besar. Biasanya, orang bernalar pendek itu mudah
sekali terkena provokasi. Sebab, di kepalanya tidak ada analisis.
Tapi, ini bukan berarti saya merendahkan martabat bangsa kita sebagai
berdaya nalar pendek. Bagaimana pun, Jakarta adalah kehormatan bangsa.
Simbol negara ada di sini.
Lahir di sebuah perkampungan di Klaten, 5 Agustus 1949, Bibit ditempa
dalam suasana kehidupan yang penuh keprihatinan. Ayahnya,
Martodiwiryo, adalah petani kecil. Saya itu dari grass roots yang
paling bawah, ucapnya. Maka, keseharian anak bungsu dari empat
bersaudara itu pun banyak dihabiskan untuk membantu kedua orang tuanya
di sawah. Ya, itu gawe aku, ujarnya. Kala itu, tak pernah terlintas
dalam pikirannya untuk menjadi seorang tentara. Malah, karena berasal
dari keluarga petani, ia sempat punya cita-cita menjadi insinyur
pertanian. Tidak terlintas mau jadi tentara. Cita-cita awal saya
adalah mau masuk ke Universitas Gadjah Mada. Saya ingin jadi insinyur.
Tapi, kok jadi tentara, katanya lagi.
Jalan untuk berkarir di dunia militer mulai terbuka saat ia lulus SMA.
Atas ajakan teman-temannya, pada 1969, ia masuk Akabri Darat yang
diselesaikannya pada 1972. Ia satu angkatan dengan Djadja Suparman.
Karir di militer dimulainya di Kodam II/Bukit Barisan sebagai Komandan
Peleton Tempur. Berbagai posisi dan tugas selanjutnya pun datang silih
berganti. Dan, yang paling berkesan baginya adalah saat menjabat
sebagai Komandan Batalyon Infantri 407 di Slawi, Tegal, pada 1986
hingga 1988. Menjadi seorang prajurit infantri ituterlebih melalui
penugasan sebagai Komandan Batalyon Infantriadalah kebanggaan
tersendiri. Yang berkesan, saya mulai memimpin pasukan yang demikian
besar. Saya mengorganisasikan dan setiap saat ada tugas operasi, ucap
lelaki beristrikan Sri Suharti itu.
Bagi Bibit, menjadi tentara menyebabkan adanya perubahan yang cukup
berarti dalam hidupnya. Lebih enak daripada dulu, saat masih di
bawah. Sekarang, makan tiga kali sehari sudah tidak menjadi pikiran
lagi. Dulu, ketika masih di bawah, harus bekerja keras untuk
mendapatkan nasi. Saya bangga sekali diangkat Tuhan menjadi seperti
begini, katanya. Tapi, ia tak pernah ingin melupakan masa lalunya.
Bagaimana pun, kehidupan yang penuh keprihatinan di masa lalu telah
banyak memberikan pelajaran yang berharga. Dan, atas perubahan hidup
yang diberikan Tuhan itu, ia berniat membalasnya dengan
sungguh-sungguh. Sebatas kemampuan yang saya miliki, saya akan
bekerja sebaik-baiknya, katanya.
Karir militernya pun semakin melaju. Pada 1996, ia dipercaya menjadi
Danrem 043/Garuda Hitam di Lampung. Selanjutnya, ia menjadi Kasdam
Diponegoro pada 1997. Sebelum menjadi Pangdam Jaya, ia sempat memegang
jabatan Pangdam Diponegoro, 1998, dan Komandan Seskoad, 2000.
Pendidikan militer yang pernah ditempuhnya, antara lain, Sussarcabif,
Suslapa Infantri, Seskoad, Sesko ABRI, dan Lemhanas. Selain itu, Bibit
juga pernah ditugaskan dalam operasi di Timor Timur. Saya lima kali
ke Timor Timur, ujarnya.
Promosi di dunia militer tak bisa dilepaskan dari prestasi yang
dimiliki seseorang. Saat bertugas sebagai Danrem 043/Garuda Hitam,
misalnya, Bibit berhasil mengamankan Pemilu 1997 di Lampung. Padahal,
kala itu, Lampung termasuk salah satu sarang Partai Rakyat Demokratik
(PRD) yang pada masa itu menjadi musuh pemerintah Orde Baru. PRD
enggak berani keluar kandang, kok, katanya. Jadi, wilayah Lampung
bisa dikatakan zero alias tak ada konflik.
Ketika bertugas di Garuda Hitam, ia cukup mengenal secara dekat
Ryamizard Ryacudu. Maklumlah, ketika itu Ryamizard bertugas sebagai
Danrem 044/Garuda Dempo. Pak Ryamizard itu teman lama saya,
bergandengan tangan sejak lama, katanya. Keduanya berada di bawah
naungan Kodam II/Sriwijaya. Dan, yang menjadi Pangdam Sriwijaya ketika
itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kedekatannya dengan SBY
itulah yang menimbulkan anggapan bahwa Bibit adalah orangnya SBY.
Bahkan, ketika diangkat menjadi Pangdam Jaya, isu itu juga merebak.
Pengangkatan Bibit sebagai Pangdam Jaya dinilai M.T. Arifin, pengamat
militer, tak terlepas dari campur tangan SBY yang kini menjabat Menko
Polsoskam.
Anda disebut-sebut termasuk kelompok SBY dan Wiranto?
Saya menapaki karir dengan cara bekerja. Kalau pekerjaan saya itu
diterima, diakui atasan saya, alhamdulillah. Saya tidak mempunyai
kelompok atau link.
Sebenarnya, bagaimana reformasi yang sudah terjadi di tubuh TNI?
TNI sudah luar biasa melakukan reformasi internal. Tapi,
kelompok-kelompok tertentu tidak mau tahu. Sampai sekarang, masih saja
[berbicara]: bubarkan koter, bubarkan kodam. Apa semudah itu? Apa
alasan strategisnya?
Bukankah pemikiran itu ada di sebagian perwira tinggi TNI?
Itu urusan merekalah. Saya tidak akan mengurusi hal seperti itu.
Berbeda pendapat di antara sesama TNI itu ada prosedurnya. Di sana ada
prosedur hubungan komandan dan staf. Itu nanti berujung pada
keputusan. Jadi, jangan ngomong di mana-mana. Kita ini tentara, kok.
Koridornya ada. Mempunyai ide itu boleh dan harus. Kreativitas perwira
saya harus tinggi. Idenya juga harus banyak. Tapi, sebelum berbicara
di luar, di sini dulu dibicarakan.
Jadi, bagaimana Anda menanggapi usulan agar TNI kembali ke barak?
Kalau memahami teritorial itu merupakan bagian dari jatidiri TNI,
bagian dari roh TNI, ya harus kami pelihara. Barak TNI itu rakyat. TNI
tidak punya barak. Jangan menganggap barak TNI itu seperti barak
tentara di luar negeri. Hati dan pikiran rakyat adalah barak TNI. TNI
itu kan tentara rakyat. Apa yang menjadi keinginan rakyat, harus kami
ikuti.
Bagi Bibit, keluarga adalah hal terpenting. Dan, ia beruntung karena
keluarganya selalu mendukung perjalanan karirnya. Hal yang selalu ia
ingat adalah wanti-wanti dari anaknya: Kalau Bapak diberhentikan dan
disalahkan pimpinan karena kebijakan Bapak, kami bangga. Sebab, Bapak
punya prinsip. Asalkan, pemberhentian itu bukan karena perempuan dan
harta. Ucapan itu selalu terngiang di telinga Bibit dan menumbuhkan
semangatnya. Aku maju saja. Saya jadi bersemangat, katanya, seraya
menyebutkan nama ketiga anaknya: Sari Lestari Kurniawati, Dian
Handayani, dan Rini Tri Utami. Bibit sendiri sudah menyiapkan
kehidupannya jika kelak pensiun dari militer. Saya akan mencair
dengan rakyat di desa. Saya mau pulang ke Magelang, tempat istri
saya, ucapnya. Memang, di sanalah rumahnya berada. Tepatnya, di
antara Gunung Merapi dan Gunung Sumbing.
Secuil Komentar Andreas Harsono yang (Kebetulan) Menyinggung Kasus Balibo
Sebagai orang yang belajar nasionalisme, saya akan sangat berhati-hati dengan
segala sesuatu yang diklaim nasional. Saya tak mau gegabah memberi label
untuk hari jadi itu.
Seorang rekan wartawan, Aboeprijadi Santoso dari Amsterdam, punya ide lain yang
menarik. Dia usul tanggal 16 Oktober 1975 dijadikan Hari Kelam Pers Indonesia.
Alasannya, saat itu terjadi pembantaian lima wartawan di Balibo, yang hendak
merekam agresi negara Indonesia di Timor Timur. Tak soal bahwa kelima korban
tsb adalah warga Australia, Inggris dan Selandia Baru.
Mereka satu bangsa dengan kita: bangsa wartawan, yang menohok berita demi
kepentingan publik. Mereka satu republik dengan kita: republik jurnalistik,
yang menyingkap ragam peristiwa,
nestapa dan tragedi demi kepentingan publik.
Berkat mereka, kita tahu, sejak itu, tentara kita melakukan penyusupan ilegal
ke negeri tetangga untuk kemudian menduduki dan menjajahnya. Tapi, berkat
pembantaian mereka, kita dirundung kegelapan dua dasawarsa lamanya.
Enambelas Oktober 1975 adalah pembunuhan terhadap pers bebas dan terhadap hak
publik Indonesia untuk mengetahui agresi, kekejaman dan pendudukan tentara kita
di negeri orang. They shoot the messengers, and they killed their messages,
too. Sebab, sejak 1975 Timor Timur tertutup bagi orang, apalagi bagi pers, dari
dalam dan luar Indonesia kecuali segelintir pers apologists yang menyertai
tentara tanpa mengungkap tragedi di balik operasi. Artinya, dengan pembungkaman
dan pengekangan terhadap pers bebas, sejak itu, petualangan Orde Baru di Timor
Timur mengingkari hak publik Indonesia untuk mengetahui ulah negaranya yang
melanggar konstitusi sendiri dan untuk menyadari tragedi kemanusiaan yang
berlangsung di sana.
Anda mungkin tahu pada tanggal itu, Assisten Intel Opsus Mayjen Benny Moerdani
mengetahui dari Dubes Australia Richard Woolcott bahwa kelima wartawan tsb
(Gary Cunningham, Gregory Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters and Malcolm
Renie) berada di Balibo, Timor Timur, saat ABRI melancarkan Operasi Komodo.
Mayjen Benny menginstruksikan Kol. Dading Kalbuadi agar jangan ada saksi mata
operasi tsb, dan Dading memerintahkan Komandan Tim Susi Mayor Andreas (Kapten
Yunus Yosfiah) agar memburu kelima wartawan tsb. (Jill Jollife, Cover Up, The
Inside Story of the Balibo Five, 2001, h. 312). Setiba di Balibo, Kapten Yunus
mengeluarkan perintah tembak kepada anggota Tim Susi, antara lain Letnan Bibit
Waluyo dan, ada kemungkinan, juga Letnan Soetiyoso. Empat wartawan tsb ditembak
konyol, satu lagi ditusuk mati.
Menurut Santoso, Sejak itu, Balibo 16 Oktober menjadi sinonim bagi tragedi
gelap bagi pers bebas dan bangsa Indonesia.
Pemilihan momen Balibo bisa diperdebatkan juga. Misalnya, mengapa tak memilih
21 Juni 1994 ketika rezim Soeharto membredel Tempo, Detik dan Editor? Namun
orang juga bisa berdebat soal pembredelan lain, dari 1950an hingga 1990an. Saya
cenderung berhati-hati kalau pakai label Indonesia.