Diambil dari http://www.thaniago.blogspot.com
Masih ‘Maha’-kah Mahasiswa?
Oleh: Roy Thaniago
Saya ingat sepuluh tahu lalu ketika masih kencur.
Ketika masih berseragam merah putih dan ketakutan melihat keramaian. Saya tidak
tahu menahu. Hanya sebuah kata yang jadi akrab di kuping setelah itu: reformasi.
Kata koran-koran, kakak-kakak mahasiswalah yang melahirkannya.
BAYANGAN saya ketika itu, sungguh seru punya titel
mahasiswa. Kalau ditanya orang dari mana, tinggal jawab, dari kampus. Kalau di
bis uang untuk ongkos kurang, tinggal bilang, mahasiswa, Bang. Kalau diledek
karena
cuma bisa makan nasi plus mie instan, bisa jawab jahil, namanya juga mahasiswa.
Buat
saya yang masih kencur ketika itu, menjadi mahasiswa identik dengan kebebasan.
Merdeka. Tidak harus pakai baju seragam. Tidak harus ikut upacara tiap senin.
Rambut boleh gondrong. Merokok pun tak ada yang jewer. Pokoknya hanya diri
sendiri yang berhak menentukan sikap.
Perlahan
saya mengagumi dan memimpikan untuk menjadi mahasiswa. Saat itu, saya sudah
dianggap dewasa oleh orang-orang. Saat itu, orang tidak boleh mengomeli saya
sembarangan lagi. Saat itu, saya bangga memakai status baru, dari siswa menjadi
mahasiswa. Ternyata bukan Tuhan saja yang bisa maha, manusia juga.
Sekarang,
ketika sudah memakai predikat mahasiswa, saya jadi bertanya kembali, masih
‘maha’-kah mahasiswa? Mahasiswakah saya? Apakah ‘maha’ – yang berarti sangat,
ter-, paling, tak dapat dijangkau – masih pantas disematkan pada pemuda-pemudi
20-an tahun yang akrab dengan frasa penelitian, tokoh intelektual, demo, tapi
juga dugem, tawuran, dan narkoba ini?
Cukup Maha-kah?
Sebelum
aksi-aksi demo beberapa waktu belakangan ini, saya berpikir dengan skeptis
terhadap mahasiswa. Saya berpikir, udara reformasi yang sudah berusia 10 tahun
ini hanya dimaknai mahasiswa dengan anteng saja. Saya takut melihat mahasiswa
sudah merasa mapan pada alam baru di era Indonesia pasca Orde Baru ini.
Mahasiswa hanya menggumuli harinya dengan pesta, games, otomotif, asmara ,
cari duit, main-main, hingga tenggelam dalam belajar dan buta akan keadaan
sosial.
Pikir
saya, mahasiswa sebagai angkatan muda penerus bangsa hanyalah pion-pion yang
dijalankan sistem yang sudah dirancang penyelenggara negara dan pemilik modal.
Mahasiswa tak lebih dari tukang-tukang yang tengah mendapatkan pelatihan demi
persiapan
menghadapi dunia kerja sistematis yang mapan dan membosankan. Mahasiswa bak
kumpulan anak penyu yang tengah ditangkarkan untuk siap dibebaskan di pantai
lepas yang ganas. Mahasiswa hanya dicetak untuk siap bertahan hidup, bukan
mengolah hidup, terlebih menentukan hidup. Tidak juga menentukan hidup sendiri,
apalagi kehidupan bangsanya.
Namun,
pikiran skeptis di atas menjadi keliru ketika menyaksikan mahasiswa bergiat
dalam forum-forum diskusi yang membahas masalah bangsa dan mulai turun-turun ke
jalan secara intuitif (saya yakin ini desakan hati nurani). Mahasiswa tidak
lagi berbisik-bisik untuk menyuarakan penderitaan rakyat, tapi berteriak
lantang.
Tapi
ke-maha-an mahasiswa menjadi cacat ketika mereka bersuara demi diri sendiri,
demi kepentingan kelompok, demi segelintir elit politik yang menyetir. Gelar
itu menjadi cacat ketika mahasiswa bertindak demi melayani emosi tak terkendali
mereka, memuaskan naluri hewaniah manusia yang buas.
Peran Mahasiswa
“Hanya
angkatan muda yang bisa menjawab”, begitu orasi Pramoedya Ananta Toer ketika
ditanya bagaimana membuat bangsa Indonesia menjadi lebih baik.
Almarhum Pram amat menyadari bahwa angkatan muda punya peran yang sangat
sentral terhadap kehidupan suatu bangsa. Angkatan muda punya potensi untuk
membenahi benang kusut bangsa, bukan malah membuatnya bertambah kusut.
Beberapa
waktu belakangan ini, banyak teman-teman mahasiswa yang ‘terpanggil’ untuk
turun ke jalan demi memperlihatkan sikap penolakan akan kenaikan harga BBM.
Mereka yang dengan niat luhur, menunaikan kegiatan ini seperti ibadah. Maka tak
heran mereka rela mengorbankan waktunya demi menyuarakan kesakitan rakyat
kecil.
Pada
tahap ini, tindakan mahasiswa sudah tepat. Mahasiswa hadir untuk merefleksikan
keadaan
rakyat yang semakin sulit dan terjepit. Mahasiwa dengan kemerdekaannya berani
menyuarakan apa yang selama ini dibuat bisu. Memang itulah peran mahasiswa,
untuk menjadi pengingat, untuk menjadi gerakan korektif terhadap pemerintah
yang mulai main mata dengan ratu bohong.
Tapi
ketika aksi mahasiswa hanya menambah kusut situasi, sudah selayaknya mahasiswa
memeriksa diri, apakah kendali mereka terhadap oknum-oknum cukup kuat? Banyak
oknum
mahasiswa yang menjadikan momen ini sebagai ajang untuk bebas dari rutinitas
kuliah, ajang untuk melampiaskan emosi, ajang untuk unjuk diri, ajang untuk
menunjukkan, gue mahasiswa loh!
Sudahkah
mahasiswa melengkapi kelompok dengan perhitungan matang ketika melakukan aksi
demo sehingga tidak perlu melakukan kekerasan, merusak fasilitas umum, atau
membuat
kemacetan yang malah merugikan masyarakat luas karena menghambat laju ekonomi
rakyat yang tengah mereka perjuangkan? Apakah mahasiswa berani untuk menyebut
bahwa mereka memang diduduki, tapi yang menduduki adalah rakyat, bukan elit
politik?
Mahasiswa
harus tetap berada di jalan selama pemerintah masih mengalpakan rakyat kecil.
Mahasiswa harus terus menekan pemerintah dengan menggalang gelombang kekuatan
yang lebih besar dan fokus terhadap tuntutan. Mahasiwa yang menginginkan
demokratisasi harus juga berlaku demokratis di tubuh mereka dengan menerima
kenyataan bahwa mahasiswa yang tidak ikut demo punya alasan sendiri, bisa
karena memang tak peduli, atau melakukan sesuatu dengan cara lain, atau karena
terbentur struktural kampus yang tidak akomodatif.
Maka,
bersatulah mahasiswa se-Indonesia! Perlakukan ‘maha’ dengan sebaik-baiknya!
Yang perlu kita ingat, kita sekarang hidup di atas darah mereka yang mendirikan
reformasi. Jangan kecewakan darah mereka!
Roy Thaniago
Penggiat
Agenda 18, Mahasiswa
Judul diinspirasikan dari perkataan seorang teman,
Gabriel Jefri.
Dua kalimat terakhir milik Berto Tukan.
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/