Kemana Sifat Ramah Bangsa
Indonesia?<http://erwin-informasi.blogspot.com/2008/06/kemana-sifat-ramah-bangsa-indonesia.html>

<http://bp2.blogger.com/_YQYm-M7Kc0s/SFofoUkR29I/AAAAAAAAAYo/8SniLQHOchQ/s1600-h/images.jpg>
Indonesia bukan lagi bangsa yang ramah, kenapa saat ini berita di media
menurunkan informasi yang mengagetkan masyarakat dengan informasi banyak
tentang kekerasan yang terjadi. praktik kekerasan tak henti-hentinya mengisi
ruang pandang anak bangsa.Kekerasan terjadi karena banyak faktor dan sangat
kompleks, dari yang sepele, hingga bermotif agama, ras, yang terkadang
dibumbui kepentingan ekonomi dan politik. hal ini memperkuat anggapan bahwa
bangsa ini adalah bangsa yang mengutamakan Kekerasan. Kekerasan yang dahulu
banyak dilakukan oknum militer dan aparatur negara, kini telah banyak
dilakukan masyarakat biasa.

Beberapa contoh dari kekerasan yang dilakukan FPI yang berlatar Agama, Geng
Motor yang berlatar pergaulan, di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri
(IPDN) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Di sini, sejumlah praja
(mahasiswa) senior menendang, memukul, dan menganiaya para mahasiswa
juniornya. Aksi kekerasan yang berdalih pembinaan kedisiplinan ini telah
menyebabkan beberapa praja (junior) meninggal dunia dan lainnya cacat fisik
dan mental, Di Sekolah pelayaran hal tersebut juga ditemukan hal yang sama,
dan Sejarah baru indonesia mencatat kekerasan juga dilakukan perempuan yaitu
Geng Nero (Neko-Neko Di keroyok) di Pati jawa timur yang menggambarkan
kekerasan juga dilakukan oleh kaum Hawa. dan contoh kasus lainya. Hal ini
menunjukan Kekerasan telah terjadi di berbagai bidang, oleh semua gender,
dan berbagai usia.

Dari Wikipedia Indonesia Kekerasan adalah merujuk pada tindakan agresi dan
pelanggaran (penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, dll.) yang menyebabkan atau
dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain, dan -
hingga batas tertentu - kepada binatang dan harta-benda. Istilah "kekerasan"
juga berkonotasi kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang
merusak.

Dalam beberapa sumber mengklasifikasi kekerasan dalam 3 bentuk yaitu:
1.kekerasan seksual, dengan sasaran daerah organ seksual dan menggunakan
organ kelamin pelaku sebagai alat kekerasan.
2.kekerasan fisik, meliputi penganiayaan kepada fisik badan korban
3.kekerasan emosi, meliputi bentakan, ancaman, sindiran, dan penganiayaan
lain kepada psikis korban.

suatu pertanyaan dari saya kemanakah Bangsa Indonesia yang terkenal dengan
bersahabat, suka bermufakat, ramah tamah, memahami perbedaan, apakah memang
bangsa ini sudah kehilangan akar budaya bangsa sendiri yang menjunjung
tinggi toleransi dan tidak mengutamakan kekerasan? saya menjabarkan
banyaknya pemicu dari Kekerasan yang terjadi di Indonesia adalah sebagai
berikut;

1. Faktor Himpitan Ekonomi yang tinggi.
Meliputi naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan sangat tingginya angka
pengangguran―telah mengancam kehidupan kaum miskin dan keamanan ekonomi dari
kelas menengah. Lebih jauh lagi, hanya tiga tahun semenjak jatuhnya Suharto,
mulai meluas perasaan sinis mengenai prospek reformasi politik dan hukum
yang akan membawa ke tatanan pemerintahan yang lebih demokratis,
pertanggungjawaban ekonomi, dan pembagian kemakmuran yang lebih adil. Para
pemimpin politik telah menunjukkan ketidakbecusan dalam mengatasi
persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia dan konflik-konflik
tidak dapat diselesaikan melalui pengadilan-pengadilan karena adanya
pengebirian lembaga-lembaga hukum.

2.Dendam, yang umumnya bersumber dari adanya perlakuan kekerasan yang pernah
diterima oleh pelaku. Perasaan sakit dan terhina dari korban memunculkan
kemarahan, sehingga mendorong korban melampiaskan dalam bentuk perilaku yang
sama. Pelampiasan kepada orang lain memunculkan kekerasan yang baru, korban
berperan sebagai pelaku, dengan korbannya adalah orang lain. dan budaya
dasar dari bangsa ini adalah menyimpan dendam.

3. Stabilitas emosi yang rendah, sehingga adanya tekanan emosi (stres) yang
tidak mampu ditoleransi lagi oleh pelaku, menyebabkan hilangnya kendali
diri. Akibatnya pelaku mudah tersulut emosinya oleh persoalan yang sepele,
termasuk dalam menghadapi perilaku-perilaku korban.

4.Pendidikan yang otoriter dan menggunakan cara kekerasan sehingga menjadi
model dalam berperilaku (Smith-Cannady, 1998).pendidikan yang otoriter
cenderung menggunakan aturan-aturan kaku dalam mendidik. Pelanggaran oleh
siswa akan dihadapi dengan hukuman yang keras.

5.Tradisi, yang dirasakan sebagai keharusan untuk dilaksanakan. Hal ini
biasanya muncul pada institusi terrtentu yang mewajibkan adanya kekerasan.
Seperti Opspek di sekolah, cenderung mengeksplorasi ketakutan pada siswa
baru melalui hukuman atau acara-acara yang keras.

6.Modelling yang diperoleh dari media massa, seperti adegan kekerasan di
televisi, cerita silat, dan games action. Contoh dari media menjadi model
yang paling cepat ditiru oleh individu karena kemajuan teknologi memudahkan
akses terhadap media-media ini. ini adalah salah satu dampak negatif dari
televisi
<http://erwin-informasi.blogspot.com/2008/05/tayangan-tvsinetronfilm-adalah-elemen.html>kita
yang mengutamakan Rating

7.Pengalaman pribadi
Apa yang telah dan sedang individu alami akan ikut membentuk dan
mempengaruhi penghayatan individu terhadap stimulus sosial. Untuk dapat
menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan
kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila
pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor
emosional.

8.Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau
searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara
lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
seperti kasus dari organisasi para militer yang terjadi kasus monas, kita
bisa melihat terjadinya perang antara petinggi FPI dan NU terjadi pertikaian
di kalanngan akar Rumput. yang menyeramkan adalah Tradisi milisia sejak masa
Revolusi Indonesia memberikan alasan bagi tentara Indonesia untuk
memobilisasi rakyat ke dalam satuan paramiliter.

9. Banyak nya 
Prasangka<http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/04/kenapa-harus-berprasangka-buruk.html>yang
tidak Baik jelas.
Prasangka dapat menjadi sebuah permusuhan, benci, rasa marah �C kebencian tak
berdasar pada seseorang, menyalahkan secara tidak wajar, atau
menjelek-jelekkan orang lain. Hal ini suatu sikap yang buruk yang membantu
kita merasa unggul atau berlagak patriotik secara berlebihan.

10. Kegagalan Institusi dan Sistem
Institusi politik dan hukum tidak menyediakan saluran untuk menyampaikan
keluhan atau keberatan terhadap kebijakan yang dirasakan tidak adil.
pengadilan di Indonesia adalah skandal nasional. Pengadilan telah
ditunggangi oleh korupsi, mungkin merupakan institusi terkorup di Indonesia.
Adalah tidak mungkin membawa sebuah kasus ke pengadilan tanpa menyuap. Dan
juga tidak mungkin menang dalam suatu kasus tanpa menyuap. (Pembuktian dari
kasus Jaksa Urip) tindakan kekerasan yang paling mengherankan di Indonesia
dewasa ini adalah tatkala massa mengambil tindakan sendiri terhadap orang
yang disangka melakukan tindakan kriminal (hal ini seperti melegalkan Bentuk
kekerasan)

11. Masalah-Masalah Kebijakan Pembangunan
Beberapa kebijakan yang diambil pemerintah juga menyebabkan tindak kekerasan
yang terjadi, Peningkatan harga
BBM<http://erwin-informasi.blogspot.com/2008/05/pemerintah-bbm-rakyat-dan-kriminalitas.html>,
Wakil-wakil
rakyat
<http://erwin-informasi.blogspot.com/2008/06/masihkan-dpr-mewakili-rakyat.html>yang
semakin tidak merakyat melebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin,
persaingan antara pendatang dan penduduk lokal, serta kemarahan kepada
pemerintah, polisi dan pengadilan yang tidak memberikan wadah bagi keadilan

Kekerasan juga pastinya akan menimbulkan korban, apa efek yang akan terjadi
dengan korban-korban kekerasan tersebut.

1. Munculnya kekerasan menimbulkan efek psikologis yang sangat berat bagi
korban. Kondisi emosi dan kepribadian secara umum mengalami guncangan berat,
sehingga muncul kondisi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini apabila terus
dipertahankan tentu tidak membawa kebaikan bagi adaptasinya kelak dengan
lingkungan.

2. Kondisi korban yang mengalami banyak gangguan psikis akibat kekerasan
memunculkan potensi yang negatif dalam adaptasinya kelak pada lingkungan
sosial, kontak sosial melemah bahkan melukai diri sendiri adalah ciri
lemahnya daya juang dalam mencapai prestasi maksimal. Hal ini membuat korban
sulit bersaing dalam meraih keunggulan.

3. Pengalaman pribadi yang dialami korban kekerasan adalah kekerasan itu
sendiri. Hal ini menyebabkan di dalam diri korban akan muncul kesan kuat
dari peristiwa kekerasan tersebut dan diikuti dengan tekanan emosi yang
sangat besar. Tekanan emosi yang tidak mampu disalurkan dengan lancar
membuat korban kehilangan kemampuan menilai lingkungan, sehingga akhirnya
akan menimbulkan sikap negatif.

4. Merujuk pada Miner (1992), Adanya kecenderungan withdrawl, apatis, pasif
dan mengabaikan peraturan menyebabkan korban sulit untuk memiliki perasaan
terlibat dalam lingkungan sosial dan Masyarakat. Hal ini menyebabkan
kerjasama yang solid dan suasana kerja kebersamaan/kekeluargaan, saling
mengerti dan memahami tidak mampu dimunculkan. Hal ini tidak akan mampu
mengoptimalkan potensi diri korban kekerasan.

5. Kepatuhan terhadap peraturan secara umum juga tidak mampu terwujud. Sikap
dalam melaksanakan kedisiplinan kerja rendah, dan memiliki trauma hidup yang
dalam.

Bahwa ada kekerasan yang meluas di Indonesia saat ini tidaklah mungkin untuk
dibantah. Kekerasan tersebut muncul karena adanya berbagai macam alasan,
seperti kegagalan lembaga-lembaga politik dan hukum untuk menyediakan
perangkat/aturan bagi penyelesaian konflik maupun mengatasi keluhan-keluhan,
konsolidasi (penguatan) identitas-identitas komunal dimana kelompok-kelompok
bersaing mendapatkan akses untuk atau kendali atas sumber-sumber ekonomi,
dan penggunaan kekerasan yang dijatuhkan oleh negara (state-sanctioned
violence) untuk menghasut atau menekan konflik. Dalam kontek ini, klaim
bahwa Indonesia adalah suatu budaya yang penuh kekerasan (a violent culture)
hanyalah sebuah klaim politik yang dapat dimanfaatkan untuk membenarkan
kembalinya penguasa yang otoriter dan kekerasan negara berikutnya.

Apakah kita bisa kembali menjadi bangsa yang bersikap ramah
<http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/03/bersikap-ramah_31.html>, Sikap
Lemah Lembut dan Penuh KasiH
Sayang<http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/04/sikap-lemah-lembut-dan-penuh-kasih.html>
Saling
Memafkan<http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/04/mari-saling-memaafkan.html>,
Rendah hatihttp://
erwin-arianto.blogspot.com/2008/04/rendah-hati.html,
bersahabat<http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/04/menjadi-sahabat.html>,
Sebenarnya perbedaan wajar saja selama tidak ada yang memakai cara
kekerasan. Pada prinsipnya semua pihak menggunakan kekerasan dengan caranya
sendiri-sendiri, ketika masing-masing dari mereka sudah mulai memaksakan
kemauan tanpa mau berkompromi, karen akita bangsa indonesia memang terdiri
dari bangsa yang majemuk.

persoalan kekerasan ini tidak bisa disepelekan. Sebab, serangkaian kekerasan
yang terjadi merupakan indikasi adanya kejumudan atau kebekuan dalam proses
kesadaran masyarakat dalam berdemokrasi dan bertoleransi. Jika kebekuan itu
tidak dipecahkan, maka bangsa ini tidak akan pernah dewasa dan ketentraman
menjadi sesuatu yang langka.penuntasan aksi kekerasan harus dilakukan dengan
jalan penegakan hukum, siapa pun pelakunya (tidak terkecuali para pejabat
yang berkuasa, karena di mata hukum semua adalah sama).

Semoga bangsa ini kembali menjadi bangsa yang ramah sedikit mempunyai mimpi
untuk Indonesia agar Indonesia menjadi tempat yang paling ramah sedunia,
dimana sesama manusia saling peduli, semua ramah, sedikit konflik, dan
menjadi negera yang makmur Semoga..... mari mulai hilangkan kekerasan dari
diri sendiri, lingkungan sekitar, Masyarakat, dan berujung Kepada Bangsa
yang tidak mengedepankan Kekerasan..

Dari Berbagai Sumber
Depok 19 Juli 2008
Erwin Arianto
http://erwin-informasi.blogspot.com/2008/06/kemana-sifat-ramah-bangsa-indonesia.html

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部�O�耸��站郑�
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

Kirim email ke