Agenda Komunitas
Salihara di Bulan Ramadlan
Seni
dan Islam
Diskusi, Pemutaran Film,
Pertunjukan Musik
Bagaimana hubungan
Islam dengan seni? Inilah pertanyaan utama yang ingin diulas secara khusus
dalam rangkaian diskusi ini. Terkadang masih ada pandangan bahwa Islam tidak
memiliki apresiasi sedikit pun terhadap kesenian, khususnya seni rupa, film dan
jenis-jenis seni pertunjukan lainnya: musik, teater, dan tari. Inilah pandangan
yang kaku, dan merupakan produk yang berasal dari masa lalu. Sedangkan di
seberang
yang lain: menafikan Islam memiliki kontribusi terhadap perkembangan kesenian.
Sehingga
tak ada yang layak disebut “seni Islam”.
Namun pengalaman yang
tak bisa dipungkiri, Islam justeru berkembang melalui kreasi-kreasi kesenian.
Islam yang hidup tak hanya melalui ibadah-ibadah ritual saja, tapi kesenian
pula yang meniupkan nafas kehidupan bagi Islam. Melalui kesenian—yang merupakan
puncak kreasi manusia—Islam menjadi lebih manusiawi, membumi, di samping ia
membawa
ajaran-ajaran Ilahi.
Dan pertanyaan
selanjutnya, bagaimana relasi seni dan Islam dalam ranah kesenian tersebut?
Apakah seni hanya sekadar alat bagi “islamisasi”: strategi dakwah menyebarkan
ajaran Islam? Ataukah lebih dari itu: seni menjadi sumber inspirasi bagi gerak
kehidupan Islam?
ISLAM DAN SENI RUPA
Jumat, 5 September 2008
Pemutaran Film
Pukul 16.00 WIB, “Persepolis”
Persepolis adalah
film animasi karya sutradara Vincent Paronnaud dan Marjane Satrapi. Film yang
diangkat dari sebuah novel grafik karya Marjane Satrapi berlatar belakang
pergolakan politik di Iran yang berujung Revolusi Islam tahun 1979. Di sana
hidup seorang gadis kecil yang sangat cerdas dan pemberani bernama Marjane. Suhu
politik yang tak menentu di dalam negerinya, yang dilanjutkan perang dengan
negeri jirannya: Irak, membuat kedua orang tuanya khawatir dan mengungsikannya
ke
Wina, Austria. Ia sempat merasakan kebahagiaan di tempatnya yang baru, walaupun
akhirnya ia harus kembali ke Iran karena dilanda kesepian. Mudik ke Iran, ia
mendapati aturan baru: perempuan diharuskan memakai jilbab.
Diskusi, pukul 19.00 – 21.00
WIB
Acep Zamzam Noor
(Santri dan Pelukis)
Adi Wicaksono (Pengamat
Seni Rupa)
Doktrin yang
melarang perupaan terhadap makhluk-makhluk yang memiliki nyawa—melalui patung
dan lukisan—sangat populer sebagai ajaran Islam. Akhirnya kesenian jenis ini
dalam masyarakat Islam, bergeser ke dunia arsitektur dan grafis (kaligrafi).
Namun apakah seni rupa tidak pernah hidup dalam masyarakat Islam? Bagaimana
pergulatan seorang santri yang memilih untuk mewujudkan puncak keseniannya
dalam seni rupa? Bagaimana ia mengatasi “hambatan teologis” dan di sini lain ia
harus menelusuri tanpa henti dan mencari capaian-capaian seni? Apakah Islam
pernah menjadi sumber inspirasi terhadap karya-karya seni rupa? Bila ada yang
disebut “seni rupa Islam”, di mana letaknya dalam ranah dunia seni rupa secara
umum?
ISLAM DAN FILM
Jumat, 12 September 2008
Pemutaran Film
Pukul 14.00 WIB, “Le Grand Voyage”
Film ini
mengisahkan seorang anak bernama Reda diminta ayahnya untuk menemani perjalanan
naik haji melalui jalur darat dengan mengendarai mobil dari Perancis ke Arab
Saudi, mereka harus menempuh jarak 5.000 km. Di sepanjang perjalanan, mereka
sering berbeda pendapat, hingga bertengkar. Bagi sang ayah, perjalanan ini
merupakan perjalanan spiritual nan agung, sedangkan bagi anaknya, perjalanan
ini adalah azab membawa sengsara. Keduanya yang tak pernah bertemu pendapat
dipaksa bekerjasama menaklukkan rintangan dalam perjalanan ini, dan yang lebih
penting: menaklukkan egoisme yang ada dalam diri mereka masing-masing.
Sutradara:
Ismael Ferroukhi (2007)
Pukul. 16.00 WIB, “Cafe Transit”
Film ini
menceritakan perjuangan seorang janda dengan dua anak di Iran. Ia menolak
tradisi agar menikah dengan saudara mendiang suaminya. Ia pun memberontak
sebagai perempuan Iran yang diwajibkan menaati ajaran agama dan kultur
masyarakatnya: menjadi istri yang ruang geraknya hanya di rumah. Untuk memenuhi
kebutuhan hidup dirinya dan kedua anaknya
ia membuka sebuah cafe peninggalan mendiang suaminya. Di cafe ini, ia
berhadapan dengan aparat keamanan yang menjadi centeng agama dan penguasa. Apa
lacur, saudara mendiang suaminya malah bekerjasama dengan aparat itu. Di cafe
ini pula ia menyembunyikan seorang pelarian perempuan yang menjadi korban
perang di negerinya. Bagaimana perempuan itu menghadapi serbuan yang datang
dari segala penjuru? Sutradara: Kambuzia
Partovi (2005)
Diskusi, pukul 19.00 – 21.00
WIB
Nia Dinata (Sutradara
Film)
Eric Sasono (Kritikus
Film dan Pengelola rumahfilm.org)
Setelah Reformasi
’98, dunia film Indonesia mengalami peningkatan produksi yang sangat pesat.
Namun film dengan tema agama masih kalah pamor dibandingkan dengan film tentang
tema cinta, anak muda, atau horor. Di tahun ini, film “Ayat-Ayat Cinta”
menjadi fenomena bila
dilihat dari sisi penontonnya. Film ini dipandang tidak hanya sebagai fenomena
dalam industri film saja, namun sebuah metode dakwah Islam melalui film. Apakah
film ini menunjukkan geliat baru terhadap film bertema agama di masa mendatang?
Sementara film bertema “Perempuan dan Islam” di beberapa negara mengalami
perkembangan yang menakjubkan, film-film yang menceritakan pengalaman perempuan
Islam di tengah perjuangannya melawan patriarkhi, fundamentalisme, dan
kekerasan yang sering dikaitkan dengan kultur dan ajaran Islam di negerinya.
Film-film produksi Iran adalah contoh dari fenomena ini. Bagaimana citra
perempuan dalam film-film itu, dan mengapa ia menjadi tema yang menarik untuk
difilmkan? Dan bagaimana dengan film tentang perempuan di Indonesia? Eric
Sasono akan bicara “Ayat-Ayat Cinta” dan
Film Islam di Indonesia, sementara Nia Dinata akan mengulas Islam, Perempuan,
dan Sinema.
ISLAM DAN SENI PERTUNJUKAN
Jumat, 19 September 2008
Pukul 16.00 WIB, Pemutaran
Film-Film Dokumenter tentang Pertujukan Seni di Nusantara
Diskusi, pukul 19.00 WIB
Endo Suanda (Direktur
Eksekutif Pertunjukan Seni Nusantara)
Hendy Supandi
(Pimpinan Gambus Ar-Rominia, Jakarta)
Pertunjukan seni
dalam masyarakat Islam di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari ritual dan
upacara keagamaan: kelahiran, khitanan,
maulid, pernikahan, kematian,
dll—pertunjukan ini melalui pelbagai jenis musik: pembacaan mantra, ayat-ayat
Quran, dan bunyi-bunyi dari alat-alat musik, sekaligus melalui gerak yang
terbatas atau yang luas—bercampur-baur dengan kepercayaan lokal, dan kesenian
sebelum Islam. Inilah persenyawaan antara Islam dengan tradisi dan kesenian
lokal—yang bagi golongan muslim puritan dituding sebagai takhayul, bid’ah,
khurafat. Sementara musik gambus identik dengan “musik Islam”, karena alasan
yang sederhana: lagu-lagunya berbahasa Arab, benarkah? Adakah yang disebut
musik Islam itu?
Sabtu, 20 September 2008, pukul 19.00 WIB
PERTUJUKAN MUSIK
Teumeumeung Rafly – Dwiki
Sejak perkenalan keduanya
beberapa minggu setelah tsunami melanda Aceh, Rafly dan Dwiki semakin lekat
“teumeumeung”
(istilah yang diberikan Rafly untuk suatu jam session). Saat itu di pertengahan
Januari 2005 Rafly bersama grup
Kande ditemani oleh Dwiki dan Ubiet berkeliling ke berbagai Lokasi Pengungsi
Tsunami di antaranya di Seuneubok, Seulemum, Indrapuri dan Peukan Bada dalam
program Ubat Ate Allah Allah, Ubat Sosah Seulaweut Beuna (Obat Hati itu Zikir
Allah, Obat Susah Bershalawat pada Rasulullah). Sebelumnya mereka jumpa di Taman
Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, ketika Dwiki dan teman-teman Dewan Kesenian
Jakarta menggagas dan menyelenggarakan 'Jazz for Aceh'.
“Teumeumeung”, kini
terus menjadi pola komunikasi musikal antara Rafly yang kaya dengan
penjelajahan ornamen vokal Aceh dan Dwiki yang selalu jatuh cinta pada style
bermusik yang terinspirasi tradisi
lokal dipadukan dengan scale-nya
bermain jazz yang penuh spontanitas dari hati. Beberapa komposisi yang akan
dimainkan di antaranya: Meukoendroe, Nurul Qolbi, Ya Nabi Salam,
Istighfar, Aneuk Yatim. Bersama Ubiet, Dwiki pernah menjadi produser bagi
Album Rafly bersama Kande “Meukondroe” yang dirilis tahun 2007.
Sebelum diskusi/pertujukan,
diawali dengan buka puasa bersama