Presiden Baru: dari Budiman sampai
Rustriningsih 


Oleh: Barid Hardiyanto
Diambil dari
Sinar Harapan edisi 04 Agustus 2008. dapat diakses di
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0808/04/opi01.html


Saat ini banyak kalangan yang menghendaki lahirnya presiden baru dan muda.
Sayangnya sampai saat ini para tokoh muda tersebut tidak kunjung muncul atau

dimunculkan. Bahkan dalam survai terakhir yang dikeluarkan oleh Indobarometer
(Kompas, 30 Mei 2008) nama calon presiden muda sama sekali tidak ada. Padahal 
kurang dari setahun lagi kita akan
memilih presiden baru. Kalau dibiarkan demikian maka lahirnya presiden baru dan
muda hanyalah sekedar wacana.
 

Tulisan ini hendak memberikan
gambaran perbandingan antara tokoh tua dan muda, sebagai upaya mencari lawan
tanding atas tokoh-tokoh tua yang ada selama ini. Dengan begitu masyarakat
dapat melihat bahwa tokoh muda tersebut layak pula untuk memimpin Indonesia.
Sejauh ini, beberapa tokoh tua yang sering muncul dalam survai adalah Susilo
Bambang Yudhoyono yang berumur 60 tahun saat Pemilu 2009, M Jusuf Kalla (67),
Megawati Soekarnoputri (62 tahun), Abdurrahman Wahid (69), Wiranto (62), Amien 
Rais
(65), Sultan Hamengku Buwono X (63), Akbar Tandjung (64), dan Sutiyoso (65).

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
yang dipilih karena mempunyai “aura” seorang pemimpin, bisa diimbangi oleh
tokoh muda Budiman Sujatmiko (39) yang juga punya pesona. Bila Soekarno
memimpin PNI untuk memerdekakan bangsanya pada umur 25 tahun maka Budiman pada
umur 27 tahun juga memelopori terbentuknya Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang
memerdekakan bangsanya untuk berserikat dan berkumpul yang sebelumnya dikekang
oleh rejim Orba yang hanya membolehkan adanya tiga partai politik. Pensejajaran
Budiman terhadap Soekarno menjadi citra yang bagus untuk menandingi SBY.


Jusuf Kalla adalah saudagar yang
menjadi pemimpin politik. Di kalangan muda, orang juga mengenai Jeffry Geovani.
Tokoh muda berusia 39 tahunini pernah mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatra
Barat dan DKI Jakarta. Jeffry adalah pengusaha sekaligus aktivis muda yang
berani membiayai kerja-kerja kemasyarakatan misalnya dengan menjadi pendiri:
Indonesian Institute.



Yuddy Chrisnandi

Calon presiden lainnya adalah
Megawati Soekarnoputri. Tokoh ini adalah perempuan pertama yang pernah menjadi
presiden RI. Di kalangan anak muda, ada juga perempuan yang mempunyai talenta
kepemimpinan ideologis sepertinya yakni Dita Indah Sari (37). Ia dikenal banyak
kalangan sebagai “ibu” dari kaum buruh. Dahulu, ia adalah ketua Front Nasional
Persatuan Buruh Indonesia (FNPBI) dan saat ini menjabat sebagai ketua Partai
Rakyat Demokratik (PRD).
 

Syafiq Alielha (SA), tokoh muda
satu ini dikenal sebagai orang yang mempunyai pikiran “Islam Pluralis
Kerakyatan”, ia dapat dipersandingkan dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Kiprah SA (35) dalam memperjuangkan Islam Pluralis Kerakyatan dapat dilihat
pada upayanya yang gigih memunculkan generasi belia dalam pendidikan kerakyatan
bersama organisasinya Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI). Ia juga sedang
berusaha mendorong lahirnya blok sosial-politik baru di Indonesia, yang
disandarkan pada nilai-nilai kebangsaan, keberagaman atau kebhinnekaan, dan
keadilan. Boleh dikatakan, ia adalah penerus gagasan Gus Dur dalam pendirian
Lembaga Prodem.


Jika di kalangan tua ada tokoh
segarang Amien Rais dalam menentang neoliberalisme, maka di kalangan muda juga
ada tokoh seperti Jabo (39). Ketua Partai Pembebasan Nasional (Papernas) ini 
dikenal dengan slogan Tri
Panji. Salah satu dari slogan itu adalah kehendak untuk menasionalisasi
aset-aset penting dan menguasai hajat hidup orang banyak.
 

Langkah ini dipandang oleh banyak
kalangan pengkritik pemerintah sebagai jalan alternatif untuk mengatasi
keterpurukan bangsa ini. Jabo dan Amien Rais adalah kedua orang yang juga tidak
menghendaki Indonesia menjadi bangsa kuli.


Tokoh seperti Wiranto (62)
mempunyai lawan tanding yang ideal yakni Adian Napitupulu (AN). Sebagai
pemrakarsa Forum Kota (Forkot), AN (37) di sering dicirikan dengan gaya
kepemimpinan yang “militeristik”: tegas dalam bertindak. Tokoh muda ini dari
tahun 1998 sampai sekarang masih menjadi penggerak aksi-aksi menentang
kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Bila Akbar Tandjung menjadi reformis
utama dalam pembaruan partai Golkar maka saat ini di kalangan mudanya sudah ada
Yuddy Chrisnandi (41). Tokoh muda Golkar ini sering bertindak berbeda dengan
partainya. Ia memilih untuk berpihak pada kepentingan masyarakat seperti yang
ditunjukkanya pada angket atas kenaikan BBM. Yuddy adalah satu-satunya anggota
fraksi Golkar yang mendukung hak angket. 



Rustriningsih 

Sultan Hamengku Buwono X dikenal
banyak orang sebagai Gubernur yang berkearifan dan mampu mengayomi masyarakatnya
hingga amat jarang didemo oleh warganya. Sesungguhnya di Solo juga ada tokoh
muda yang mampu mengayomi masyarakatnya. Ia adalah Joko Widodo yang sering
disebut dengan Jokowi. Tokoh muda berumur 46 tahun ini berhasil merelokasi
ratusan pedagang kaki lima (PKL) tanpa penggusuran. PKL diajak untuk berdialog
dan hasilnya mereka secara sukarela dan gotong-royong merelokasi dirinya ke
tempat yang mereka kehendaki bahkan diiringi dengan arak-arakan bersama. Jokowi
juga berupaya membangun Surakarta sebagai kota berbudaya dengan penggunaan
aksara Jawa untuk papan perkantoran pemerintahan, sekolah dan pusat
perbelanjaan. Satu hal yang juga dilakukan oleh Sultan HB X.





Di luar beberapa kontroversi soal
kepemimpinannya di Jakarta, Sutiyoso boleh dibilang relatif bisa memimpin
Jakarta. Di tempat lain, di kabupaten Kebumen, warga di sana punya
Rustriningsih (42) yang mampu memimpin kabupaten itu untuk dua periode membawa
kabupaten ini menjadi percontohan bagi tata pemerintahan yang baik dan
mendapatkan penghargaan dari UNDP. Tokoh muda ini kemudian dipercaya oleh warga
Jawa Tengah menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah. Menurut penulis, keberhasilan
Rustriningsih mengelola kabupaten dan kemungkinan besar juga propinsi, 
menempatkannya
layak untuk memimpin RI.

Melihat perbandingan yang sepadan
di atas, maka saat ini perlu dilakukan tindakan-tindakan yang kongkret dalam
memperkenalkan tokoh muda tersebut. Bagi para lembaga survai, perlu kiranya
memunculkan para tokoh tersebut dalam kuisionernya. 

Untuk para akademisi dan LSM,
saatnya para tokoh muda tersebut dikenalkan pada khalayak lewat jejaring
mahasiswa dan rakyat yang selama ini diorganisir. Sedangkan untuk partai-partai
yang ada, waktunya sudah tepat untuk mengusung mereka pada pemilu 2009 nanti.
Dan khususnya bagi masyarakat pemilih, saatnya anda memilih: Presiden baru dan
muda.



Penulis adalah pengamat politik, tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah. 




 

 



"Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia" (Multatuli)
Stand up for Democracy! Website http://www.arahkiri2009.blogspot.com



      

Attachment: Presiden Baru.doc
Description: MS-Word document

Kirim email ke