Telah Terbit Buku Baru
Judul : Genersi MTV
Penerbit : Jalasutra
Bulan terbit : Agustus 2008
Penulis : Dadang Rusbiantoro
Buku ini merupakan wujud kegelisahaan saya melihat banyaknya anak muda saat
ini, terutama di daerah perkotaan, yang dihegemoni dan terjajah oleh kebudayaan
Barat. Terutama, dalam buku ini, oleh MTV. Mereka dijejali berbagai macam
tayangan yang membuatnya menjadi tak kritis atas segala permasalahan sosial
yang terjadi saat ini, dan menerima segalanya tanpa ada kekuatan menolak. Dalam
tingkatan tertentu, MTV berhasil membujuk remaja agar meniru pakaian dan gaya
hidup para ikon pop. Dengan tayangan 24 jam tanpa henti, proses pembentukan
remaja generasi MTV ini dilakukan secara efektif dan efesien. MTV bisa
menentukan ikon apa yang remaja harus kultuskan, pakaian dan gaya rambut apa
yang harus ditiru, dan gaya hidup macam apa yang harus direproduksi remaja
sehari-hari, agar mereka selalu mengikuti trend dan tidak ketinggalan zaman. Di
sinilah kita melihat bahwa MTV telah menjadi mesin raksaksa penghancur
identitas dan pabrik yang memproduksi tiruan, imitasi,
atau replika dari para ikon pop.
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk memberikan informasi dan
kritik, terutama bagi budaya populer saat ini, yang nyaris jarang diteliti
secara ilmiah. Di dalam buku ini, saya mencoba memaparkan sejarah kelahiran
budaya populer yang dimulai pada tahun 60-an, ketika flower generation
(generasi bunga) tumbuh dan berkembang, munculnya kaum hippies, third great
awakening (kebangkitan besar ketiga), counter culture (budaya tanding), new
left (kiri baru), dan perkembangan musik pop. Di zaman ini, muncul gerakan
perlawan atas budaya dominan, budaya konsumerisme, dan kapitalisme Barat yang
hanya mementingkan kesejahteraan dan pencapaian status sosial yang tinggi,
sehingga menciptakan individualisme serta materialisme untuk mencapai
kesejahteraan dan kekuasaan, salah satunya berupa penerimaan spiritualitas Asia
sebagai penangkal budaya Barat tersebut. Gerakan ini dipelopori oleh kaum
Hippies dan SDS (Student for a Democratic Society) atau new left
dengan cara mengkritisi ketidakmampuan pemerintah Amerika mengatasi penyakit
sosial yang terjadi pada saat itu, seperti rasisme, materialisme, militerisme,
kemiskinan dan eksploitasi, serta memperjuangkan hak-hak sipil dan menentang
perang Vietnam.
Tapi sejak munculnya MTV, atau singkatan dari ‘Music Television’, kini budaya
anak muda (youth culture) ini sengaja dieksploitasi oleh MTV sebagai industri
hiburan yang hanya bertujuan meraih keuntungan komersil semata, dan hanya
menguntungkan kaum kapitalis, serta bukan lahir dari pembrontakan kaum remaja
itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus mengetahui sejarah lahirnya MTV dan
mengapa MTV bisa lahir, siapa yang memiliki MTV (Viacom yang menjadi pemilik
MTV, juga memiliki Block Buster Video, CBS, Showtime, Paramount, Nicklodeon,
TNN, dan UPN), bagaimana cara MTV mencuci otak para remaja dengan segala
tayangan, pesan, iklan, musik, dan gaya hidup yang mereka sampaikan kepada
pemirsa televisi untuk direproduksi di dalam kehidupannya sehari-hari, tanpa
adanya daya kritik untuk menolak atau mengelak.
Di dalam buku ini, saya juga mencoba menganalisis ideologi dari para ikon pop,
mulai dari gerakan flower generation, punk, reggae, gothic, new wave, heavy
metal, hip hop, gangsta rap, dan grunge melalui pakaian yang mereka kenakan.
Saya juga mencoba memaparkan bagaimana peran ikon (khususnya ikon pop) sebagai
simbol perlawanan dari komunitas tertentu terhadap budaya dominan dan otoritas
kekuasaan kelas atas dengan cara menciptakan subkultur yang menjadi identitas
kulturalnya, dia juga harus mampu merepresentasikan hegemoni tandingan
(counterhegemoni), pemberontakan, dan kemarahan dari komunitasnya melalui
musik, fashion, tingkah laku, dan gaya hidup yang diciptakannya. Seorang ikon
yang menjadi agen dari perubahan harus mampu menjadi juru bicara dan
memperjuangkan ideologi dari komunitasnya, sehingga dia akan menjadi tokoh
panutan bagi para pengikutnya.
Untuk melawan arus globalisasi dan hegemoni MTV ini, kita memerlukan strategi
kebudayaan. Strategi ini adalah: budaya tanding (counterculture), renaisans,
budaya campur sari, dan menciptakan ikon. Gerakan budaya tanding ini melakukan
perlawanan dengan memadukan tiga unsur penting: budaya, agama, dan seni. Di
dalam budaya, kaum hippie menciptakan komunitas seperti di zaman prasejarah
yang komunal, nomaden, dan mencukupi hidupnya sendiri, sehingga mencoba untuk
tidak mengkomsumsi barang-barang dari luar. Mereka juga sangat toleran,
memperjuangkan hak-hak sipil dan demokrasi dengan gerakan tanpa kekerasan (non
violence) seperti Mahatma Gandhi. Berbeda dengan reformasi yang kita lakukan
saat ini yang meninggalkan atau melupakan unsur budaya, sehingga tak ada
perubahan mendasar yang benar-benar dapat kita rasakan. Di dalam Renaisans,
kami mencoba mempertanyakan dan membahas apakah kita perlu melakukan renaisans
untuk mencari akar budaya kita, seperti orang
Eropa yang menemukan budaya Yunani dan Romawi kuno sebagai akar budayanya. Di
dalam musik campur sari, dikotomi antara Barat dan Timur yang kita anggap
sebagai dua kutub yang tak pernah akan bisa bertemu, tetapi kenyataannya di
dalam kesenian, terutama musik, dapat menjadi sintesis yang harmonis. Yang satu
bukan menindas dan menjajah yang lain, tapi sebaliknya, saling mengisi dan
memberikan warna dan teksturnya masing-masing. Yang terakhir adalah kita harus
menciptakan ikon-ikon pop baru yang autentik dan bukan plagiat dari ikon-ikon
pop di Barat.[]
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com