bung, pertanyaannya kemudian, setelah tidak tega, kita akan melakukan apa? Jika 
tidak, akan muncul pertanyaan baru, tegakah kita nasib anak didik hanya 
berhenti pada tulisan? Tegakah kita memisahkan intekeltual dengan kerja-kerja 
lapangan? Ehm

salam,

mmd

mukhotib md 
jl. raya sandon no. 52 secang, magelang, 56195 
0293-714347/5531908 
[EMAIL PROTECTED] 
http://mmdnews.wordpress.com

--- Pada Kam, 14/8/08, agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: agussyafii <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [filsafat] Tegakah Kita?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 14 Agustus, 2008, 2:33 PM










    
            Tegakah Kita?



Sumber, http://agussyafii. blogspot. com



Setiap kali Hana sakit, istri saya suka takut. saya bilang padanya, 

kenapa mesti takut? Sakit atau sehat, sedih atau bahagia, suka atau 

duka, kesuksesan atau kegagalan, semua itu adalah kesatuan yang utuh 

dalam hidup kita senantiasa patut kita syukuri. Namun seringkali kita 

menghindari yang disebut dengan kegagalan, kesedihan, dan sakit.



Bahkan saya pernah berbincang dengan seorang kepala sekolah yang 

selalu sukses meluluskan para siswanya pada ujian nasional hampir 

mencapai angka sembilan puluh sembilan koma sembilan persen siswanya 

lulus. Ketika saya tanya apa resepnya. Sang kepala sekolah dengan 

bangga bercerita bahwa dirinya menganjurkan semua siswa jika tidak 

bisa mengisi soal ujiannya dikosongi aja lembar jawabannya dan nanti 

para gurulah yang mengisi jawaban soal-soalnya.



Saya katakan kepada kepala sekolah tersebut bahwa esensi pendidikan 

adalah membangun karakter anak didik. Bagaimana mungkin membangun 

anak didik jika para guru dan kepala sekolahnya tidak memiliki 

karakter. Sang kepala sekolah menjawab, jika hal itu tidak dilakukan 

maka lima puluh persen siswa  mungkin bisa tidak lulus.



kenapa mesti takut? Jika siswa tidak lulus karena dia sudah belajar 

dengan sungguh-sungguh berarti menanamkan pada siswa tanggung jawab 

dan kelulusan itu hanya tolok ukur. Namun jika anak didik sudah dari 

sejak dini mereka mengerti bahwa kelulusan berarti menghalalkan 

segala cara maka akan berapa banyak anak kita yang akan menjadi 

srigala?



hidup ini sungguh indah, jika kita menggunakan cara-cara yang indah 

sekalipun cara-cara yang indah ini menghasilkan yang pahit. hanya 

orang-orang yang kuatlah yang akan mengunakan cara-cara yang indah 

untuk bisa mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Dan bagi 

orang-orang yang lemah imannya maka apapun caranya dihalalkan 

sehingga langitpun semakin kelam karena banyak orang tidak peduli lagi

dengan cara yang halal. 



Dalam kesedirian saya tertegun menatap wajah sang kepala sekolah 

sambil berbisik, "Tegakah kita menjadikan anak-anak kita menjadi 

srigala? ataukah kita sudah menjadi srigala?"



Sumber, http://agussyafii. blogspot. com



Salam cinta,

agussyafii



=======

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye "Andalah Sang Cahaya, sudah

saatnya menerangi kehidupan" silahkan kirimkan dukungan dan komentar

anda di http://agussyafii. blogspot. com atau sms 0888 176 48 72




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/

Kirim email ke