Kutuk, Berkat, dan Pertobatan (2 Raja-Raja 6: 24 – 7: 20)* Ketika membaca 2 Raja-raja 6: 24 dan seterusnya, maka bagian yang paling menarik perhatian sekaligus membawa kita dalam suasana horror adalah ketika raja Israel yang sedang berjalan di atas tembok dihampiri seorang perempuan, dan terjadilah dialog ini: “…."Tolonglah, ya tuanku raja!" Jawabnya (raja Israel): "Jika TUHAN tidak menolong engkau, dengan apakah aku dapat menolong engkau? Dengan hasil pengirikankah atau hasil pemerasan anggur?" Kemudian bertanyalah raja kepadanya: "Ada apa?" Jawab perempuan itu: "Perempuan ini berkata kepadaku: Berilah anakmu laki-laki, supaya kita makan dia pada hari ini, dan besok akan kita makan anakku laki-laki. Jadi kami memasak anakku dan memakan dia. Tetapi ketika aku berkata kepadanya pada hari berikutnya: Berilah anakmu, supaya kita makan dia, maka perempuan ini menyembunyikan anaknya." Tatkala raja mendengar perkataan perempuan itu, dikoyakkannyalah pakaiannya; dan sedang ia berjalan di atas tembok, kelihatanlah kepada orang banyak, bahwa ia memakai kain kabung pada kulit tubuhnya”. (2 Raj 6: 27-30) Dialog di atas walau singkat, namun menggambarkan suatu masa yang penuh kegilaan, tidak terbayangkan, menakutkan, memuakkan, tanpa belas kasihan, meneror akal sehat dan nurani, di mana terjadi kesepakatan antara dua orang ibu untuk membunuh anaknya dan mengolahnya menjadi makanan penyambung hidup secara bergantian! Sungguh membuat siapapun yang membaca bergidik dan mual ! Mengapa bisa demikian? Apa yang sesungguhnya terjadi saat itu? 2 Raja-Raja pasal 6:24 di mulai dengan berita pengepungan Samaria oleh Ben Hadad, Raja Aram, yang berakibat kelaparan hebat, sehingga sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak (keledai termasuk hewan yang diharamkan dalam Imamat 11: 2-7) dan seperempat kab tahi merpati berharga lima syikal perak. Jika kita hanya mencomot ayat dan kurang mempelajari Alkitab secara organic (tiap bagian dari Alkitab saling berkaitan dan memiliki benang merah secara konsisten), maka kita akan cepat menyimpulkan bahwa tragedi yang terjadi di Samaria, semata karena pengepungan oleh Ben Hadad, raja Aram dan ketidakmampuan raja Israel dalam membebaskan bangsanya, yang kemudian hanya bisa menyalahkan Elisa (2 Raj 6:31). Namun benarkan demikian? Tidak! Kanibalisme yang terjadi bukan hanya karena bencana kelaparan akibat pengepungan raja Aram. Lebih dalam maknanya, kanibalisme adalah salah satu dari kutukan akibat tidak taat pada perintah Allah saat perjanjian di Sinai (Sinaitic Covenant). Nabi Musa memberikan peringatan bahwa kanibalisme akan menjadi salah satu kutukan jika Israel berdosa dan tidak mentaati firman TUHAN, ”... dan kamu akan memakan daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan” (Im 26:29). Dalam Ulangan 28: 53, ditegaskan lagi:”....Dan engkau akan memakan buah kandunganmu, yakni daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, —dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu”. Apa yang sesungguhnya Israel telah lakukan sehingga Allah memberikan kutukan demikian mengerikan? Israel telah mengabaikan perintah Allah, dengan dipimpin oleh raja yang walau menjauhkan atau menyingkirkan penyembahan patung-patung Baal, namun penyembahan Baal masih berlangsung dan baru benar-benar dihancurkan pada jaman Yehu (Pulpit Commentary). Ini tidak mengherankan, karena Izebel, ibunya, masih hidup dalam sepanjang pemerintahannya. Selain itu, ia masih berpegang pada dosa Yerobeam yaitu penyembahan anak lembu. Walau hubungannya dengan Elisa relatif baik, namun saat krisis terjadi, ia menjadikan abdi Allah tersebut sebagai musuh, objek yang harus dipersalahkan atas keterpurukan bangsanya. Alih-alih memimpin bangsa Israel untuk bertobat, raja Israel malah mencari Elisa untuk memenggal kepalanya (2 Raj 6: 31 – 32). Di tengah ancaman dari raja, Elisa tetap menyampaikan firman Allah yang terdengar mustahil, yaitu besok, kira-kira waktu yang sama, sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria. Menurut akal sehat, ini tidak mungkin sehingga ajudan raja tidak percaya. Namun Elisa tidak bergeser dari nubuatannya dan menubuatkan ajudan raja akan melihat dengan mata kepala-nya sendiri namun tidak akan menikmatinya. Nubuatan Elisa digenapi ketika Allah membuat tentara Aram yang mengepung, merasa mendengar bunyi kereta, bunyi kuda, bunyi tentara yang besar, sehingga berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Sesungguhnya raja Israel telah mengupah raja-raja orang Het dan raja-raja orang Misraim melawan kita, supaya mereka menyerang kita, sehingga bangkitlah tentara Aram melarikan diri pada waktu senja dengan meninggalkan kemah dan kuda dan keledai mereka serta tempat perkemahan itu dengan begitu saja untuk menyelamatkan nyawanya (2 Raj 7: 6,7). Perkemahan tentara Aram yang kosong tersebut diketahui oleh empat orang kusta yang kemudian memberitahukan kepada penduduk kota Samaria, sehingga keluarlah penduduk kota untuk menjarah tempat tempat perkemahan orang Aram sehingga genaplah firman Tuhan, ”sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria”. Tragisnya, ajudan raja yang tidak percaya nubuatan Elisa, mengawasi pintu gerbang, dan tidak dapat mengendalikan penduduk kota yang berebutan keluar dari gerbang kota, sehingga ajudan raja mati terinjak-injak! Apakah ini berkat Tuhan? Apakah kutuk telah berakhir? Ya dan Tidak. Berkat Tuhan, YA, karena dalam masa-masa penghukuman, Allah tetap berbelas kasihan. Namun dalam hal ini, belas kasihan Tuhan bersifat partikular dan tidak untuk menghentikan hukuman. Dari mana kita tahu? Jika kita membaca 2 Raj 8:1, Elisa menyampaikan nubuat Tuhan kepada perempuan Sunem: ”Berkemaslah dan pergilah bersama-sama dengan keluargamu, dan tinggallah di mana saja engkau dapat menetap sebagai pendatang, sebab TUHAN telah mendatangkan kelaparan, yang pasti menimpa negeri ini tujuh tahun lamanya." Kelaparan tetap terjadi, pasti terjadi, menimpa selama tujuh tahun lamanya. Kutuk tetap harus berjalan. Alkitab secara konsisten menyatakan kepada kita mengenai berkat dan kutuk, sebagaimana perintah dan janji, bagaikan dua sisi dari sekeping uang logam. Berkat tidak bisa dipisahkan dari kutuk dan janji tidak bisa dipisahkan dari perintah atau ketaatan. Seringkali orang Kristen dan beberapa pengkhotbah modern hanya memberitakan mengenai berkat dan janji sambil mencampakkan jauh-jauh berita kutuk dan perintah dari mimbar pemberitaan firman. Padahal Alkitab membicarakan secara konsisten dan seimbang. Imamat 26: 1 – 46 dan Ulangan 28: 1 – 68 secara komprehensif memberitakan berkat dan kutuk. Imamat 26: 1 dan 2 secara spesifik memerintahkan umat Allah untuk jangan membuat berhala, memelihara hari Sabat dan menghormati tempat kudus Allah. Kemudian secara umum, Allah menegaskan dalam ayat 3: ”Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan...”. Jelas bahwa Allah akan mencurahkan berkat-berkatNya jika umatNya hidup sesuai ketetapanNya dan mentaati perintahNya. Sebaliknya kutuk akan ditimpakan jika:”...kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu, jikalau kamu menolak ketetapan-Ku dan hatimu muak mendengar peraturan-Ku, sehingga kamu tidak melakukan segala perintah-Ku dan kamu mengingkari perjanjian-Ku, maka Akupun akan...” (Imamat 6: 14 - 16a). Dalam Ulangan 28: 1 dan 2, dikatakan: ”Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:” Kemudian kembali secara konsisten kutuk diberitakan pada ayat ke-15: ”Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau” bahkan pada ayat 46, dikatakan: ”...semuanya itu akan menjadi tanda dan mujizat di antaramu dan di antara keturunanmu untuk selamanya. Karena engkau tidak mau menjadi hamba kepada TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya,” Kutuk dikatakan sebagai tanda dan mujizat oleh Allah ! Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Sangat mudah untuk menemukan perintah dan janji secara bersamaan sebagai satu kesatuan yang dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Matius 6:33 menyatakan: ”Tetapi carilah (Perintah) dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan (Janji) kepadamu”. Sudahkah kita mencari Kerajaan Allah sekeras bahkan seharusnya lebih, ketimbang mencari pemuasan keinginan atau ambisi pribadi yang tidak memuliakan Allah? Sudahkah kita menemukan Kerajaan Allah dalam studi Alkitab yang konsisten, disiplin, keras dan komitmen sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Berea, sehingga Paulus melontarkan pujian: ”Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Kis 17: 11)?. Perkataan Tuhan Yesus yang tercatat di Injil Matius 28: 19, 20 yang sangat populer yaitu: ”Karena itu pergilah (perintah), jadikanlah (perintah) semua bangsa murid-Ku dan baptislah (perintah) mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah (perintah) mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai (janji) kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Tidak perlu analisis ataupun perdebatan teologi untuk meyimpulkan secara gamblang, bahwa Tuhan Yesus menyertai kita, jika kita memberitakan Injil ! Sudahkan kita memberitakan Injil? Pantaskah kita meminta penyertaan Tuhan Yesus, jika kita melalaikan perintahNya? Lalu bagaimana dengan nubuatan Elisa mengenai ”besok, kira-kira waktu yang sama, sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria”? Apakah berarti Elisa tidak memiliki kuasa ”kata-kata iman”? Apakah prinsip “name it and claim it” tidak berlaku? Bagaimana dengan Markus 11: 20, bukankah kita dapat seperti Tuhan Yesus yang mengucapkan “kata-kata iman” kemudian menjadi kenyataan atau realita keesokan harinya? Sangat penting untuk tidak mencomot dan menafsirkan ayat ini di luar konteks. Ayat ini bukan bicara mengenai “kata-kata iman” yang dapat menggerakkan alam roh untuk mewujudkan kehendak kita. Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah sebelum Ia memasuki bait Allah dan melakukan “pembersihan” dari para pedagang dan money changer yang berjual beli di halaman bait Allah. Kutukan Yesus digenapi, karena Ia adalah Allah yang sejati dan berdaulat. Bukan manusia yang memaksakan kehendaknya. Kutukan Yesus langsung terjadi, di mana pohon ara tersebut kering mulai dari akar hingga terlihat secara kasat mata keesokan harinya. Pesan yang hendak disampaikan adalah pohon ara merupakan analogi dari orang yang hipokrit, yang nampak impresif, namun tidak menghasilkan buah apapun (atau tidak melakukan kehendak Tuhan), sehingga tidak ada pilihan lain selain Tuhan Yesus mengutuknya untuk menjadi kering dari akar-akarnya, mencerminkan kerusakan yang total (complete destructive) dari contoh orang yang tidak berbuah. Yang dibutuhkan bangsa Israel, sebagaimana bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan adalah pertobatan yang komprehensif. Seorang hamba Tuhan yang sudah cukup senior menyatakan dalam suatu khotbah bahwa pertobatan meliputi tiga aspek, yaitu aspek rasio, mengetahui bahwa itu adalah dosa, aspek emosi, membenci dosa tersebut dan aspek perbuatan, yaitu secara aktif tidak melakukan dosa tersebut dan secara aktif mengarahkan diri pada kehendak dan kebenaran Tuhan yang kudus untuk hidup taat padaNya. Dari mana kita mengetahui kebenaran dan kehendak Tuhan? Dari Alkitab, untuk dipelajari secara ketat dan mendalam untuk kemudian melakukannya. Bukan dengan kata-kata iman atau doa untuk memaksa Tuhan mengabulkan keinginan, tetapi dengan ketaatan untuk sangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus. Serta berdoa dengan sikap hati yang benar sebagaimana kutipan berikut: We are to pray with an awful apprehension of the majesty of God, and deep sense of our own unworthiness, necessities, and sins; with penitent, thankful, and enlarged hearts; with understanding, faith, sincerity, fervency, love, and perseverance, waiting upon him, with humble submission to his will (kutipan dari “The Larger Catechism – The Westminster Confession of Faith”). Soli Deo Gloria.
