--- On Tue, 8/26/08, audifax - <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: audifax - <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [psikologi_transformatif] POSTRUKTURALISME DALAM PENDIDIKAN To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Date: Tuesday, August 26, 2008, 1:38 AM POSTRUKTRUKTURALISM E DALAM PENDIDIKAN. Oleh: Audifax Research Director di SMART Center for Human Re-Search & Psychological Development Pendidikan-- dalam konteks ini bisa dipertukarkan dengan bersekolah (schooling)-- agaknya menjadi sebuah jalan yang mesti dilalui oleh semua warga masyarakat yang menyebut dirinya modern. Tanpa melalui jalan panjang berjenjang yang ditempuh sejak kecil hingga akhir masa remaja itu, sangat mungkin seseorang akan terlempar dari alur narasi kehidupan yang dianggap normal secara kultural. Ketika seseorang terlempar dari narasi besar tersebut, maka ia mesti membaca-ulang hidupnya, lalu membangun narasi kecil atau narasi personal yang sesuai dengan jalan hidupnya. Banyak orang berhasil, namun juga banyak orang gagal membangun narasi kecil yang mampu membangun kembali hidup yang terlempar dari narasi besar. Normalnya (kecuali ia memiliki talenta tertentu), orang yang terlempar dari narasi besar, membutuhkan effort lebih untuk eksis dalam kehidupannya. Seorang yang hanya tamatan SD misalnya, ia mesti menarasikan cita-cita dan jalan hidupnya secara berbeda dari orang kebanyakan. Ini karena posisi-posisi dalam lapangan pekerjaan, masih mensyaratkan jalur sekolah untuk mencapainya. Inilah yang bisa kita sebut sebagai struktur dalam budaya. Jalur-jalur yang seolah merupakan kanal yang mesti dilalui agar manusia dapat hidup pantas. Dalam psikoanalisa lacanian, jalur-jalur inilah yang dikenal dengan ’In-the-name- of-the-father’ atau sesuatu yang atas nama ’kebenaran’ ditetapkan sebagai kepantasan bagi banyak orang. Manusia, adalah mahkluk yang kemudian terjerat dalam struktur yang dijalinnya sendiri. Keterjeratan ini, tak bisa lain membawa pada apa yang disebut Nietzche sebagai nihilisme. Artinya, manusia lahir dalam sebuah struktur yang membuatnya mengulang-ulang kembali apa yang sudah ada sebelumnya. Ia harus menjalani kembali apa yang pernah dijalani. Apakah lantas nihilisme ini perlu ditolak, dilawan, atau dihindari? Ternyata tidak. Sia-sia manusia berusaha menolak, melawan atau menghindari, karena nihilisme akibat struktur yang menjerat manusia, tidak bisa dielakkan. Upaya menolak alur dari struktur ini, hanya akan semakin membuat terjerat dalam alur-alur lain di dalam struktur tersebut. Satu-satunya jalan adalah mengafirmasi keberadaan diri dalam struktur tersebut dan melihat bahwa ternyata dalam struktur itu terdapat celah-celah untuk hadirnya kemungkinan lain. Di sinilah saya mencoba menghadirkan postrukturalis sebagai filosofi lain dalam pendidikan. Postrukturalis di sini tidak bertendensi menjadi filsafat pendidikan baru yang menggantikan filsafat pendidikan yang sudah ada. Secara sederhana, Postrukturalis bisa kita pahami sebagai upaya untuk membantu kita menjadi lebih menyadari bahwa realitas itu lebih kompleks dan rumit dari apa yang mampu kita perkirakan. Karakter postrukturalis adalah memberi tekanan dan penghargaan pada “Yang Lain” atau “Liyan”. Di sini pengertian ’Liyan’ bisa berarti “Ada” Heideggerian yang senantiasa mengelak dari kategori Metafisika dan IPTEK; bisa juga “Orang Lain” a la Levinas yang tak pernah diberi tempat layak dalam tradisi pemikiran modern yang subjektivistis (Egologis); atau bisa juga berarti peran sentral “irasionalitas” , “ketaksadaran” , unsur-unsur “pra-konseptual” dan “nonkonseptual” seperti dilacak para filsuf Frankfurt dan Strukturalisme; atau “kegilaan” dan “diskontinuitas sejarah” Foucaultian yang senantiasa dianak-tirikan dalam pola pikir modern; atau “instabilitas makna, struktur, dan sistem” Derridean yang jarang terpikir oleh para filsuf modern; atau peran sentral “hasrat (desire), kehendak untuk berkuasa (will to power)” dan “tubuh” a la DELEUZE (dirintis oleh Schopehauer, Nietzsche, lalu Merleu-Ponty dan P. Ricoeur)[i]. Postrukturalisme lebih cenderung untuk melihat ukuran keberhasilan pendidikan berdasar pada narasi yang open-ended, karena eksistensi manusia tidak dapat direduksi secara positif-kuantitatif , hitam atau putih (lulus atau tidak lulus). Narasi besar boleh tetap ada, namun narasi-narasi kecil juga bisa bermunculan untuk eksis sebagai liyan dari narasi besar. Seperti diungkap Lyotard mengenai fleksibilitas pengetahuan narasi, dimana menurutnya narasi kognitif berjejaring dengan narasi moral dan estetik. Di sini Lyotard menghadirkan desentralistivisme dan penghargaan atas otherness yang memperhatikan kenyataan-kenyataan lokal, termasuk di dalamnya nilai dan budaya lokal-tradisional yang selama ini mengalami marjinalisasi. Di dalam proses pembelajaran, orientasi yang digunakan tidak lagi teacher-centered learning atau student-centered learning, tetapi lebih berupa teacher-student learning together.[ii]. Bukan understanding human being yang menjadi prinsip di sini, melainkan interstanding human being. Di sini being tampak dekat dengan pengertian heideggerian. Being selalu merupakan mengada yang mengelak dari sekedar kategori metafisika dan iptek. Di sinilah dibutuhkan bukan guru yang sekedar mengajari namun juga menginspirasi. Guru-guru seperti ini tidak bekerja layaknya tukang melainkan seniman. Guru-guru seperti ini tidak sekedar berusaha mencetak murid-murid naik kelas dengan standar angka tertentu, namun membekali murid-muridnya dengan inspirasi yang tak pernah mati. Bahkan jika sang murid terpaksa tak mampu melanjutkan sekolah atau gagal memenuhi standar nilai yang ditetapkan, inspirasi itu tetap hidup dalam diri si murid. Kita membutuhkan guru-guru yang mampu menyalakan api inspirasi dalam diri setiap murid. Ibarat Prometheus, dalam mitologi Yunani, yang memberikan api pada manusia sehingga manusia keluar dari kebinatangan dan kehidupan gelapnya, seperti itulah guru-guru yang dibutuhkan dalam pendidikan kita saat ini. Guru yang mampu menyalakan api yang tak akan pernah padam dalam diri murid-muridnya, guru yang tak mengajari namun menginspirasi. CATATAN-CATATAN: [i] Bambang Sugiharto; Arah dan Kecenderungan Filsafat Barat Masa Kini: Sebuah Sketsa; online documents: http://niasonline. net/filsafat/ ?p=6 [ii] Handry Jonathan; Posmodernisme dan Pendidikan Indonesia ; online documents: http://teguh. 890m.com/ index.php? option=com_ content&view=article&id=45:posmodernisme -dan-pendidikan- indonesia&catid=37:sumbangan&Itemid=30 Bagi anda yang berminat mendiskusikan esei ini, kami mengundang anda untuk bergabung dalam diskusi di milis Psikologi Transformatif. Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di Indonesia. Total member telah melebihi 2200, sehingga wacana-wacana yang didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi ”Di mana ada manusia, di situ psikologi bisa diterapkan” di sinilah jargon itu tak sekedar jargon melainkan menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia. Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Di milis ini anda diajak untuk mengalami psikologi. Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Mang Ucup, Goenardjoadi Goenawan, Prastowo, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Lulu Syahputri, Lan Fang, Yunis Kartika, Ratih Ibrahim, Nuruddin Asyhadie, Arif Nurcahyo, Sinaga Harez Posma dan masih banyak lagi. Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik: www.groups.yahoo. com/group/ psikologi_ transformatif Perhatian: Tidak ada moderator dalam milis ini sehingga upaya untuk masuk atau keluar dari milis ini mutlak tanggung jawab anda sendiri.
