Hati Yang Bersahaja

By: agussyafii

Di Rumah Amalia ada seorang ibu yang bertutur pada saya, ketika dua puluh tahun 
perkawinan berjalan wajar pada umumnya, ada godaan, pertengkaran, cobaan. 
Terlebih suaminya ganteng dan simpatik. Sebagai seorang perempuan tentu saja 
ada kecemburuan, takut suaminya tergoda oleh perempuan lain yang mengejarnya 
kemudian meninggalkan anak dan istri. Beruntunglah suaminya tidak menjadi 
sombong dan aji mumpung karena wajahnya yang tampan.  Suaminya selalu 
mengatakan bahwa kecantikan dan ketampanan hanyalah sementara, yang paling 
penting adalah akhlak yang baik dan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu Wa 
Ta'ala.

Sampailah suaminya jatuh sakit selama bertahun-tahun, menurut dokter ia 
menderita sakit paru-paru. 'Kami sudah berusaha dengan perawatan medis namun 
keputusan akhirnya tetaplah di tangan Allah.' tutur beliau. Sampai kemudian 
suaminya meninggal dunia, meninggalkan dirinya dan empat orang anaknya. Rasa 
sedih, kedukaan, khawatir menatap masa depan yang nampak buram. Dirinya 
benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang menjadi sandaran 
hidupnya, yang sangat dicintainya telah diambil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 
Meninggalkan keluarga untuk selamanya. 

'Mengapa kebahagiaan itu begitu singkat?'  'Hanya dua puluh tahun kami bersama. 
Dimanakah letak keadilan Allah?'  'Apakah Allah tidak menghendaki kebahagiaan 
bagi hambaNya?' ucap beliau lirih, suaranya parau. Dirinya dan anak-anak 
meratapi kepergian suami tercinta. Dasar keimanan dan adanya kesadaran bahwa 
setiap manusia akan kembali kepada Allah membuat dirinya dan anak-anaknya 
menjadi kuat dan tabah, tidak membuatnya menjadi depresi ataupun marah kepada 
Allah.

Dengan uang pensiun yang tidak seberapa beliau berusaha mempertahankan hidup, 
karena tidak adanya kepandaian dan ketrampilan khusus yang dimilikinya maka 
yang ditumpuhnya membuat makanan kecil, gorengan yang dititipkan ke 
warung-warung kecil disekitar tempat tinggalnya. Melihat kehidupannya yang 
menderita ada saja yang menaruh kasihan dan bersedia menjadi suami sekaligus 
bapak bagi anak-anaknya. Namun semua itu ditolaknya. Beliau tetap bertahan 
dalam kesendiriannya demi membesarkan anak-anak yang dicintainya. Setiap pagi 
selesai sholat subuh kemudian belanja ke pasar, terus membuat gorengan. 
terkadang juga menerima cucian baju tetangga. Seperti itulah aktifitasnya 
setiap hari. 

Setelah menamatkan SMA ketiga anaknya langsung bekerja. Mereka membantu 
menyekolahkan adiknya yang bontot. Bahkan anaknya yang pertama bertekad tidak 
akan menikah sebelum adiknya menyelesaikan sekolahnya. Ia menepati janjinya. 
sampai adiknya selesai kuliahnya, kakaknya baru menikah.  Harapannya adalah 
anak-anaknya semua sehat walfiat serta dalam lindungan Allah Subhanahu Wa 
Ta'ala. Doa Sang Ibu dikabulkan oleh Allah seperti yang diharapkan, 
anak-anaknya mendapatkan jodoh yang sholeh dan sholehah, hidup berkeluarga 
dengan baik bahkan sudah memiliki rumah tinggal sendiri.

'Mas Agus, saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala karena mereka 
menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah, memperoleh pekerjaan yang bisa 
menghidupi keluarga masing-masing. Seperti doa yang saya panjatkan kepada Allah 
setiap malam setelah sholat tahajud.' Tutur beliau, seorang Ibu dengan hati 
yang bersahaja telah menghantarkan anak-anak menjadi 'orang' yang selalu di 
jalan Allah Subhanahu Wa ta'ala.

Wassalam,
agussyafii
---
Terima kasih atas dukungan dan partisipasi anda untuk kegiatan 'Indahnya 
Ramadhan Bersama Amalia (IRMA)', Tadarus, Buka Puasa Bersama Anak2 Amalia, 
Muhasabah di Rumah Amalia, Jl. Subagyo IV Blok ii, No. 23 Komplek Peruri, 
Ciledug. pada hari Ahad, tanggal 22 Agustus 2010. 
dihttp://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms 
di 087 8777 12 431.




      

Kirim email ke