Sholat Sebagai Mi'rajnya Seorang Mukmin

 By: agussyafii

     Pandangan bahwa sholat  adalah mikrajnya kaum beriman merujuk pada 
pendapat yang kedua, yakni bermi`raj secara spiritual. Sholat yang khusyu` 
dimungkinkan  dapat mengantarkan orang mukmin berjumpa, ber muwajahah, ber 
muhawarah dan ber munajat, berkomunikasi secara intens dengan Allah Subhanahu 
Wa Ta'ala  Bagaimana caranya?

     Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin menyebut enam makna batin yang dapat 
menyempurnakan makna sholat, yaitu ; (1) kehadiran hati, (2) kefahaman, (3) 
ta`zim, mengagungkan Allah, (4) segan, haibah, (5). Berharap, raja, dan (6) 
malu. 

1. Yang dimaksud dengan kehadiran hati (hudur al qalb) dalam sholat ialah 
bersihnya hati dari
 hal-hal yang tidak semestinya terlintas di dalam sholat, sinkron antara apa 
yang diucapkan dalam sholat dengan apa yang difikirkan.

2. Yang dimaksud dengan kefahaman, tafahhum, adalah faham terhadap makna dari 
apa yang diucapkan dalam sholat. Kefahaman akan makna yang dibaca akan dapat 
membantu menghadirkan hati.

3. Yang dimaksud dengan ta`zim ialah sikap hormat kepada Allah. Ta`zim 
merupakan buah dari dua pengetahuan, yaitu pengetahuan penghayatan atas 
kebesaran Allah dan kesadaran akan kehinaan dan keterbatasan dirinya sebagai 
makhluk.

4. Yang dimaksud dengan haibah ialah perasaan takut kepada Allah yang bersumber 
dari kesadaran bahwa kekuasaan Allah itu amat besar dan efektif serta menyadari 
bahwa hukum Allah atau sunnatullah itu pasti berlaku. Oleh karena itu ia sangat 
takut melanggar hukun-hukumnya, karena akibatnya merupakan satu kepastian.

5.  Yang dimaksud dengan  raja’, penuh harap, adalah selalu berfikir
 positif bahwa Allah Maha lembut dan luas kasih sayangNya. Di dalam sholat, 
perasaan harap dan cemas silih berganti, cemas takut melanggar, dan berharap 
memperoleh rahmatNya.

6.  Sedangkan perasaan malu, haya’ kepada Allah bersumber dari kesadaran akan 
banyaknya kekurangan pada dirinya dalam menjalankan ibadah kepada Allah 
Subhanahu Wa Ta'ala..

Menurut Imam Gazali, jika ke enam hal itu berkumpul pada orang sholat, maka 
hatinya akan menjadi khusyu` karena seluruh cita rasanya, seluruh kesadarannya, 
tertuju hanya kepada Yang Satu, Yang Maha Agung, yang dihormati, ditakuti, tapi 
menjadi tumpuan harapannya. Aisyah pernah menceriterakan bahwa di luar sholat, 
Nabi biasa berbincang-bincang akrab dengan siapapun, tetapi ketika sedang 
sholat, beliau seakan-akan tidak mengenal orang lain, dan Aisyahpun bersikap 
seperti tidak mengenal beliau.

Khusyu akan mudah dicapai oleh orang yang lurus pandangan hidupnya, karena 
kekeliruan pandangan
 hidup akan menyulitkan pemusatan perhatian dalam beribadah. Kelezatan 
bermunajat hanya dimiliki oleh orang yang sudah tidak lagi  mencintai harta 
benda duniawi, karena seperti yang dikatakan oleh al Gazali bahwa orang yang 
masih bergembira dengan harta benda, apalagi yang masih mencampur adukkan 
kebaikan dengan keburukan, ia tidak dapat bergembira dalam bermunajat kepada 
Allah. Cinta harta dan cinta kepada akhirat tidak bisa menyatu dalam satu wadah.

Wassalam,
agussyafii
--
 Yuk hadir pada kegiatan 'Amalia Nan Fitri' (MANAF), di Rumah Amalia, Jl. 
Subagyo IV Blok ii, No. 23 Komplek Peruri, Ciledug. pada hari Ahad, tanggal 10 
Oktober 2010. Jam 9 s.d 11 Pagi. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di 
http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 
087 8777 12 431. 



      

Kirim email ke