Badai Itu Datang Menghempas

By: agussyafii

Angin berhembus menusuk tulang. Air mata itu mengalir tiada henti. Sosok 
perempuan yang tak mampu menyembunyikan kesedihannya ketika badai itu datang 
menghempasnya. Suara anak-anak Amalia yang sedang melantunkan ayat suci 
al-Quran terasa merdu, mengobati hati yang sedang terluka. Sekian lama dalam 
penuturannya berkisah tentang perjalanan hidupnya.

Awalnya pernikahannya dengan laki-laki yang jauh lebih tua membuat ketakutan 
menjadi 'single parent' menghantui dirinya sejak lama. Mempersiapkan diri 
melayani suami dengan baik, sabar, cinta dan kasih sayang membuat keluarganya  
terasa indah. Dirinya merasakan kasih sayang seorang suami dan ayah bagi 
anak-anaknya. Meski menderita darah tinggi namun kata-katanya lembuat dan tidak 
pernah menyakiti hati. 

Sampai kemudian ketakutan itu benar-benar terjadi, serangan penyakit yang tak 
tertolong oleh dokter dan rumah sakit telah merenggut suaminya yang 
dicintainya. Semua terpukul dengan kepergiannya. Dirinya shock dan depresi. 
Berkali-kali jatuh pingsan. kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupnya. 
Putus asa dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Anak-anaknya yang masih 
kecil begitu sedih kehilangan ayahnya. Terus menangisi kepergian sang ayah 
begitu menyayanginya. 

Setiap hari dirinya lebih suka duduk, menangis memandangi kursi tempat dimana 
suaminya suka duduk dikursi itu. Setiap memandangi poto suaminya selalu saja 
menangis. Air matanya mengalir deras. Barang-barang dan benda kesayangannya 
seolah hadir seperti usapan tangannya yang lembut. Bayangannya sering melintas 
dihadapannya namun ketika hendak dipeluknya, bayangan itu menghilang, lenyap 
tak membekas. Dirinya menjerit dan anak-anak hanya duduk terheran melihat 
ibunya. Makan minum sudah tidak lagi berselera. Dirinya sering lemas dan tidak 
bergairah bekerja. Menjadi mudah marah dan membenci siapapun. Termasuk membenci 
dirinya sendiri.

Dalam penuturannya, perih dihati membuatnya jauh dari Allah. Enggan lagi berdoa 
bahkan di dalam benaknya banyak pertanyaan. 'Berdoa untuk apa? Kalo Allah Maha 
Baik, mengapa Allah membiarkan aku kehilangan  orang yang aku cintai dengan 
cepat justru ketika aku masih membutuhkan kehadirannya? mengapa kebahagiaan itu 
begitu singkat? Bagaimana dengan anak-anak? Mengapa Allah memberikan ujian yang 
melebih kekuatanku? Apakah aku bersalah? Lalai memberikan menjaganya waktu itu? 
Mungkinkah ada kata-kata dan sikapku yang telah membuatnya sakit hati? 
Begitulah pertanyaan itu selalu muncul di dalam pikirannya.

Pada suatu hari anak-anaknya ke sekolah, dirinya sedang di rumah. Tidak 
merasakan apa-apa tersadar di ruang Unit Gawat darurat . Ketika tersadar dan 
mendengar tetangga bercerita ibu itu menangis sejadi-jadinya. 'Mengapa saya 
tidak mati saja?' tuturnnya. Beberapa hari terbaring lemah di rumah sakit, 
telah pulih kembali dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Itulah sebabnya 
beliau berkempatan untuk ke Rumah Amalia. Saya membantu beliau untuk berserah 
diri kepada Allah. Berserah diri pada Allah berarti menerima kehilangan orang 
yang dicintainya. Keberserahan diri kepada Allah itulah yang telah menyadarkan 
beliau bahwa tidaklah sepatutnya menjadi marah kepada siapapun terlebih kepada 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang begitu sangat mencintainya dan keluarganya. 
Tidak pantas untuk berputus asa dan berharap kematian karena hal itu tidak 
menyelesaikan masalah dan tidak akan mengembalikan yang sudah tiada. Beliau 
menjadi tersadar akan tanggungjawab kepada
 anak-anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang lebih 
besar. Anak-anak adalah bukti karunia Allah yang harus disyukuri dalam hidup 
ini. Anugerah Ilahi yang tidak boleh disia-siakan. 

Harapan itu bersemi kembali. Kesadaran bahwa Allah masih memberikannya 
kesempatan hidup merupakan anugerah yang terindah yang diterimanya dan diisi 
dengan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, anak-anaknya dan sesama. Akhirnya 
keceriaan itu muncul kembali dengan penuh kebahagiaan. 'Ya Allah, aku mohon 
ampun atas dosa-dosaku yang telah meragu akan CintaMu..' tutur beliau penuh 
kebahagiaan bersama anak-anaknya di Rumah Amalia malam itu. Subhanallah.

Dan kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang 
azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong. (QS. Az-Zumar : 54).

Wassalam,
agussyafii
--
Teman, Yuk, hadir pada kegiatan 'Amalia Berqurban' (AMAR) di Rumah Amalia, Jl. 
Subagyo IV Blok ii, No. 23 Komplek Peruri, Ciledug. pada hari Rabu, tanggal 17 
November 2010. Jam 9 s.d 11 Pagi. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di 
http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 
087 8777 12 431.
 


      

Kirim email ke