Memberi Mengobati Luka Dihati *)

By: M. Agus Syafii

Dalam kehidupan kita sehari-hari hampir mudah tanpa kesulitan kita bisa 
menemukan orang yang kecewa, marah dan sakit hati dimana-mana. Ditelevisi, 
koran, radio, dijalanan, supermarket, pasar bahkan di dalam rumah. Mulai demo 
mahasiswa yang kecewa dengan pemerintah, karyawan yang kecewa dengan manajemen 
perusahaan, suami yang kecewa dengan istri, istri kecewa dengan suami, anak 
kecewa kepada orang tua, orang tua kecewa kepada anak. Murid kecewa kepada guru 
atau sebaliknya semua menjadi terlihat lazim kehidupan ini dipenuhi dengan 
taman bunga kekecewaan, kemarahan dan sakit hati. 

Maka kita menjadi begitu mudah menemukan penderitaan dariapada kegembiraan, 
lebih mudah menemukan orang yang sakit hati daripada orang yang senantiasa 
bersyukur, lebih mudah ketemu dengan wajah yang cemberut daripada wajah yang 
tersenyum. Bahkan saya sering mendapatkan keluhan seperti ini, Mas Agus, kenapa 
saya sudah sholat dan berdzikir tetap saja hati saya masih terasa perih?' Luka 
dihati adalah akibat kekecewaan karena kebiasaan kita untuk mencari, meminta 
dan menuntut agar kehidupan memenuhi keinginan kita padahal di dalam kehidupan 
kita telah menyediakan yang terbaik untuk kita. Sholat dan dzikir menjadi tidak 
berarti apabila tubuh kita masih dikuasai oleh hawa nafsu keinginan dan 
tuntutan yang tiada habisnya. Berbagai keluhan muncul dari susah 
berkonsentrasi, dikendalikan marah, masa lalu yang menyakitkan, masa depan yang 
menakutkan sampai rizki yang tidak pernah cukup, semua itu muaranya adalah 
KEKECEWAAN.

Sholat dan berdzikir mengajarkan kita agar senantiasa mengingat Allah, 
menyerahkan kehidupan sebagaimana yang menjadi ketetapanNya. Kita berjalan 
dengan cahaya ilahiah. Bila hati kita sudah mampu berserah kepada Allah, kita 
tidak mencari, meminta dan menuntut melainkan 'Memberi.' Di dalam aktifitas 
memberi mensucikan hati kita dari segala kotoran hati sehingga bisa dipahami 
bagi mereka yang rajin memberi mengalami banyak keajaiban seperti jarang sakit, 
rizki yang berlimpah dan mudah sekali wajah untuk tersenyum. Ditengah kondisi 
sosial seperti sekarang yang serba meminta dan menuntut, kegiatan memberi 
menjadi terasa indah sebab memberi bagaikan cahaya matahari ditengah kegelapan. 
Cahaya itulah yang menerima kegelapan hati kita ketika dipenuhi dengan meminta 
dan menuntut.

Akan semakin indah apabila memberi menjadi obat luka dihati terutama setiap 
kali kita memberi tidak disertai dengan harapan atau menuntut dari apa yang 
telah kita berikan. Banyak kisah teman yang menuturkan bagaiman keajaiban 
memberi dengan penuh keikhlasan mengalami 'Unexpected Harvestings.'  Menuai 
hasil yang tidak diharapkan, memetik buah dari pemberian dengan penuh 
keikhlasan, seperti senyuman yang dijumpainya setiap saat, sembuh dari sakit 
tanpa disangka dan diduga, pertolongan Allah disaat terjepit, perhatian, makin 
disukai banyak teman, usaha yang semakin maju, karier yang melejit, keluarga 
yang senantiasa rukun dan bahagia. Masih banyak lagi kisah yang menceritakan 
keajaiban memberi, yang membuat hidup ini menjadi indah. Mengubah air mata 
menjadi permata. Hidup bagai ditaman bunga yang penuh warna.

'Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hambaNya yang senantiasa ia 
memberi petolongan kepada saudaranya.' (HR. Muslim).

*) Materi On Air Radio Bahana FM Jakarta, Rabu malam ini

Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Yuk, hadir di kegiatan 'Amalia Tersenyum' Ahad, 26 Desember 2010, di Rumah 
Amalia. Bila  berkenan berpartisipasi dg menyumbangkan buku2, Majalah, Komik, 
Novel, Cerpen,Kaset VCD, CD, DVD ( ISLAMI ),IPTEK, buku Pelajaran, peralatan 
sekolah, baju layak pakai. silahkan kirimkan ke Rumah Amalia,Jl. Subagyo Blok 
ii 1, no.24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151 untuk program kegiatan 
'Amalia Tersenyum' .Dukungan & partisipasi anda sangat berarti bagi kami. Info 
selanjutnya [email protected] atau SMS 087 877




      

Kirim email ke