Bersyukur Sekecil Apapun

By: M. Agus Syafii

Pernah di Rumah Amalia seorang ibu bertanya kepada saya, 'kalo hidup saya 
menderita, apa yang harus disyukuri Mas Agus?' tuturnya dengan setengah 
memprotes. Kemudian saya menjelaskan bahwa bila kita senantiasa bersyukur 
sekecil apapun nikmat Allah yang diberikan kepada kita termasuk ketika kita 
penderitaan maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan untuk kita.  Mendengar 
penjelasan itu beliau menjadi mengerti makna bersyukur. Dalam penuturannya 
sewaktu kecil mempunyai harapan yang ideal terhadap sosok orang tua karena 
belum mengerti betapa rumitnya kehidupan, ia berharap orang tuanya tidak 
melakukan kesalahan yang membuat dirinya malu. Kenyataan yang justru dialami 
adalah ayahnya justru membuat kecewa.  Disaat usianya bertambah, dirinya bisa 
menerima kenyataan pahit bahwa ayah yang diidolakan ternyata memiliki 
kekurangan. Ayah menikah berkali-kali, meski semua itu tidak direncanakan, toh 
perjalanan dalam hidup harus dilalui.

Tidak ada ayah yang sempurna, tidak ada pernikahan yang sempurna, setiap orang 
bisa melakukan kesalahan yang membuat dirinya nampak tidak sempurna dimata 
anaknya. Itulah yang terjadi. Bersyukur sekecil apapun berarti melihat sisi 
baik, meski ayahnya menikah berkali-kali tetapi beliau bertanggungjawab 
terhadap ibu dan anak-anaknya. Kebahagiaan juga dirasakan dengan keharmonisan 
sampai tumbuh dewasa dengan baik. 

Sampai suatu hari ada kabar bahwa sang ayah menderita sakit keras harus dirawat 
di Rumah Sakit, ibu itu sebagai seorang anak mendampingi dan merawat ayahnya. 
Selama sakit ayahnya mengungkapkan perasaan bersalah terhadap anak-anak & 
istrinya. Perasaan bersalah itulah yang menyebabkan ayah jatuh sakit. Ia 
sebagai anak mampu memaafkan sehingga kesehatan sang ayah menjadi cepat pulih. 
Dulu setiap kali melihat sosok ayah selalu saja membuatnya marah.  
Alhamdulillah, Allah membukakan pintu hatinya sehingga menyadari ternyata 
memaafkan jauh lebih membahagiakan daripada membenci. Perasaan benci dapatkan 
menghancurkan karena menimbulkan stres berkepanjangan. Ia dapat merasakan 
sendiri dengan meninjau ulang pandangannya terhadap ayah, ia dapat melihat 
kebaikan dan memaafkan kesalahan-kesalahan ayahnya, dengan demikian hatinya 
menjadi terasa lebih ringan dan lebih indah.

Dengan bersyukur ibu itu sudah berhasil mengatasi perasaan marah dan 
menggantikannya dengan kasih sayang, keyakinannya kepada Allah Subhanahu Wa 
Ta'ala ia berhasil mengelola sumber stres itu hingga berhasil mensyukuri 
keadaan. Belajar dari pengalaman ayah itulah ia menyadari tidak ada orang yang 
sempurna juga tidak ada perkawinan yang ideal, yang ada adalah keberanian dan 
ketabahan menghadapi ujian dan cobaan yang Allah berikan agar kita senantiasa 
bersabar dan bersyukur dalam hidup ini. Akhirnya memaafkan selalu lebih 
membahagiakan daripada hidup dalam kebencian.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bila mendapatkan nikmat, ia 
bersyukur dan bersyukur itu baik baginya. Bila mendapatkan cobaan, ia bersabar 
dan sabar itu baik baginya. (HR. Muslim).

Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Yuk, hadir di kegiatan 'Amalia Bersyukur' Ahad, 20 Maret 2011, di Rumah Amalia. 
Bila  berkenan berpartisipasi dg menyumbangkan buku2, Majalah, Komik, Novel, 
Cerpen,Kaset VCD, CD, DVD ( ISLAMI ), IPTEK, buku Pelajaran, peralatan sekolah, 
baju layak pakai. silahkan kirimkan ke Rumah Amalia.  Jl. Subagyo IV blok ii, 
no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda 
sangat berarti bagi kami. Info: [email protected] atau SMS 087 8777 12 431, 
http://agussyafii.blogspot.com/




      

Kirim email ke