Air Mata Yang Tak Tertahankan

By: M. Agus Syafii

Siapa yang bisa menahan air mata bila suami yang sangat disayangi meninggalkan 
dirinya dan anak2nya untuk selamanya justru ditengah kebahagiaan. Itulah yang 
terjadi pada seorang Ibu yang dengan tulus merawat suami dan anak-anak yang 
dicintainya setulus hati. Ketika suami sedang sakit, suaminya tetap memilih 
untuk tinggal di rumah daripada rawat inap di Rumah Sakit namun tetap rajin 
melakukan check up dan pemeriksaan kesehatannya pada dokter ahli. Ada sesuatu 
yang mengganjal relung hatinya. Setiap pergi keluar rumah, dirinya selalu 
bergetar. Membayangkan, jangan-jangan suaminya telah tiada. Buru-buru ia 
menghapus bayangan itu. Tetapi pikiran itu senantisa hadir dan hinggap di dalam 
benaknya.

Sudah selama sebulan suaminya tinggal dirumah. Ketika dirinya mengantar suami 
check up, tubuh suami menjadi membaik. Ia dan anak-anak bersyukur hal ini 
pertanda ayahnya sudah mulai pulih sehat. Namun dokter menyarankan agar suami 
menjaga berat tubuhnya agar jangan sampai menurun. Tak lama kemudian suaminya 
sudah bisa berlari pagi sehingga ia dan anak-anak juga menemani berlari pagi. 
Dokter yang menangani suaminya terheran-heran, kata dokter ini sebuah 
keajaiban. Ia bertambah rajin memanjatkan doa. Baginya, hanya doa yang dapat 
mengubah yang buruk menjadi baik. yang salah menjadi benar. Karena suaminya 
sudah pulih, beliau kembali aktif mengajar dan aktifitasnya sebagai pengurus 
masjid. Baru aktif mengajar tiga hari suaminya mengajak pergi ke pesantren 
dimana beliau dulu pernah belajar. Bersama keluarga pergi dengan mengendarai 
mobil. Lantas ia dan anak-anak memenuhi permintaan suami. Sepanjang jalan 
suaminya terlihat gembira.  Apalagi sesampai kami
 pondok pesantren di Jawa Timur, kami disambut hangat oleh keluarga besar 
pondok. Kebahagiaan suaminya terpancar dari wajahnya. Sepulang dari pondok 
pesantren, kesehatannya kembali menurun. apakah ini tanda kepergiannya? ah.. ia 
tepis semua pikiran yang membuatnya dan anak-anak bisa menjadi bersedih. Tetapi 
ia selalu mempersiapkan diri untuk semuanya dan saya mengajarkan kepada 
anak-anak bahwa hidup mati kita adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ia 
mengajak anak-anak untuk ikhlas menerima apapun yang sudah menjadi kehendakNya. 

Akhirnya Sang Khaliq memanggil sang suami untuk selamanya. 'Saya mencoba untuk 
tabah menghadapi kepergiannya. tetapi begitu saya melihat semua orang berkumpul 
dirumah menyambut jenazahnya, hati saya bagai teriris.' tutur beliau penuh 
dengan cucuran air mata malam itu di Rumah Amalia. 'Sayapun tak sanggup 
melihatnya, Ketika itu saya menyadari bahwa saya tidak hidup sendiri. betapa 
berartinya suami saya. Saya teringat pesan suami saya yang terakhir, 
'Bersandarlah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hanya kepadaNyalah kita 
bergantung dan hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan.' lanjutnya. 
Kedukaan yang teramat dalam, pesan terakhir dari suaminya tercinta justru 
memberikan motivasi agar menguatkan keimanan dan ketaqwaanNya kepada Allah. 
Subhanallah.

'Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Maka 
mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak 
ditimpa sesuatu bencana & mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai 
karunia yang besar.' (QS. ali Imran : 173-174).

Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Yuk, hadir di kegiatan 'Amalia Bersyukur' Ahad, 20 Maret 2011, di Rumah Amalia. 
Bila  berkenan berpartisipasi dg menyumbangkan buku2, Majalah, Komik, Novel, 
Cerpen,Kaset VCD, CD, DVD ( ISLAMI ), IPTEK, buku Pelajaran, peralatan sekolah, 
baju layak pakai. silahkan kirimkan ke Rumah Amalia.  Jl. Subagyo IV blok ii, 
no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda 
sangat berarti bagi kami. Info: [email protected] atau SMS 087 8777 12 
431,http://agussyafii.blogspot.com/




      

Kirim email ke