sori nambahin sedikit, teknik ini akan jadi problematik sekali saat menghitung inverse s(t) karena amplitude spectrum pada daerah frekuensi rendah dan frekuensi tinggi mendekati nol akibatnya hasil inverse s(t) menuju infinity.
sedangkan hasilnya tetap berupa seismik karena hasil konvolusi inv(s(t)) dan s(t) tidak akan sama dgn 1. oh yah, kalau tidak salah, cara ini bisa dilakukan kalau kita mengetahui perkiraan s(t)-nya. kelihatannya teknik ini mirip dgn source signature deconvolution (kelihatannya saya salah nih.....) -- paulus > O(t) = s(t)* h(t) > dimana O(t) adalah output dari linear system = seismic > refleksi yang telah > terekam dan di proses. > s (t) adalah source yang dipakai (dynamite, > vibroseis, airgun, > dsb) > h(t) adalah characteristic bumi > noise nya di anggap sudah di bersihkan di processing > > O(t) = s(t) * h(t) > Inv(s(t)) * O(t) = Inv(s(t)) * s(t) * h(t) > > jadi Inv(S(t))*O(T) = h(t) > > autokorelasi menghasilkan "delta function" menurut teori nya, > tetapi karena > satu dan lain hal (kalau tanya detail ttg ini saya harus cari > bukunya dulu), > maka tidak perfect delta function tetapi bisa dipakai sebagai > representative > dari source yang dimasukkan dalam linear system ini. Terus > kalau di hitung > invers matriks nya (sekarang yang dilihat angkanya saja) maka bisa di > korelasikan kembali dengan output O(t) untuk mendapatkan h(t) nya. > kelihatannya sederhana ? tidak juga karena asumsi nya harus > noise free, > kalau tidak yah akan besar side lobe nya. . > oh ada yang lupa hasilnya bukan absolute amplitude tetapi > bentuk lain dari > seismic dimana effect dari source signature dihilangkan/diminimize. --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit FOGRI Website: http://fogri.or.id FOGRI Archive: http://www.mail-archive.com/fogri%40iagi.or.id/ ---------------------------------------------------------------------
