Kalau conventional seismic memang agak ribet karena in general Tertiary sands di Western Indonesia contrast-nya relatif kecil dibanding surrounding shales (sensu Type II AVO gas sands). So seismic amplitude/attribute can't help much.
On the other hand, Vp/Vs harusnya mengindikasikan perubahan porosity dan fluid content away dari mud-rock line. Contrast ini bisa blurred kalau well-log-nya belum dikalibrasi (wash out untuk shale & invasion untuk sand). Jadi saya personally agak curiga dengan statement Ferdi yang mungkin bisa disebabkan uncondition logs. Jadi kuncinya advanced reservoir characterization instead of conventional one. Salah satunya adalah inversion for Vp/Vs cube yang notabene mereduce tuning di seismic disamping mendapatkan Vp/Vs logs untuk tiap trace/CDP location. Untuk Kutai basin memang study-nya lagi on-going tapi this method proves to be helpful in other basins in Western Indonesia. Sedikit jualan: info lebih detail bisa datang ke Jason booth di IPA next week. Cheers, F. Hasan Sidi Fugro-Jason - Jakarta office Phone: +62 21 252.3785 Fax: +62 21 252.3784 > -----Original Message----- > From: Andang Bachtiar [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Thursday, October 09, 2003 8:31 AM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [fogri] kutai deltaic resvoir characterization: (one of) the > fragrances in the potpourri > > > Has there really been any succesful detailed "single" reservoir > characterization using conventional reservoir-geophysical work-flow & > procedure applied in Miocene Mahakam Delta? > > adb > > > ----- Original Message ----- > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> > Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Thursday, October 09, 2003 8:00 AM > Subject: Re: [fogri] Fluid substitusi -->Fwd: Ingin bertanya... > > > > Ferdi, apakah karena lithology yg terlalu mixed sehingga > metode yg anda > lakukan ini ngga jalan ? Maksud saya ada kendala lokal > geologi yg barangkali > membatasi aplikasi dari metode ini. Emang kalao ini yg terjadi berarti > metode yg dilakukan ini kurang "robust"/general. > > > > Secara general .... metode-metode fluid substitusi banyak > yg dikontrol > oleh kondisi lokal. Jadi saya menyarankan ke sdr Trisakti > untuk mencoba > menggunakan riil data dgn sedikit mengetahui kondisi lokalnya. > > > > Saya sendiri menyarankan untuk sedikit demi sedikit > 'memodifikasi' ketika > menggunakan sebuah teori atau metode aplikasi. Setahuku > setiap metode apapun > yang sudah pernah sukses diaplikasikan didaerah tertentu > selalu menghadapi > masalah ini. > > > > Saya sendiri menyarankan untuk memberikan beberapa macam variabel > /'perubah' sebagai perubah. Sehingga akan dapat diketahui > "syarat batas" > untuk pemakaian metode tsb. Misalnya dengan mengubah rentang > porositasnya. > > > > Setahuku metode yg mempunyai sifat general bagus akan > mempunyai presisi yg > rendah, sedangkan metode yg mempunyai presisi tinggi sering > dipengaruhi > kondisi lokal ... jadi masih perlu geologist (local knowledge) dan > geophysicst (general theory) ... :) > > > > RDP --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit FOGRI Website: http://fogri.or.id FOGRI Archive: http://www.mail-archive.com/fogri%40iagi.or.id/ ---------------------------------------------------------------------
