Bacaan nyantei .... 
Daripada sepi .... :p
fwd tulisan Pakdhe Broto ....

rdp
=========================================
From:  Kibroto <[EMAIL PROTECTED]> 
Date:  Mon Feb 28, 2005  2:40 pm 
Subject:  Kelirumologi : memeras karyawan

> Pengusaha las akan 'memaksa' pekerja agar lasnya lebih baik dan lebih
banyak, dgn upah yg sekecil mungkin.

> Bank membayar upah bankir jugak seminimal mungkin utk menghindari spread
dana negatip

> Buruh yg baik adl yg bisa diperas jasanya sebanyak-banyaknya.

> Manajer/mandor yg baek adl yg mampu memeras buruhnya sebanyak-banyaknya.

# Benarkah apa yang diungkap diatas bisa dilaksanaken? Yhak, sampai derajad2
tertentu memang bisa dijalanken. Dalam praktek, itu banyak dilakuken.
Pertanyaannya, apakah itu langkah managerial yang tepat ? Lihat kasus2 sbb :

Jika gaji standar kepala cabang bank katakan 100, apakah anda akan memilih
bankir yang bergaji 150 menghasilken laba 1000, atau yang bergaji 150 nyetor
laba 1500? Ini sudah cukup membuktiken bahwa meminimalken gaji untuk
memaksimalken laba adalah sebuah kelirumulogi.

Biarpun tidak selalu begitu, umumnya murah identik dengan murahan. Ujungnya
adalah kualitas atau unjuk kerja yang buruk. Yang sering terjadi adalah
niatnya ngirit jadinya mbalah ngorot-orot. Tukang las murahan mengasilken
las2an yang bocor2 melulu, copot2 melulu. Akibatnya repair, repair, dan
repair lage. Jatuhnya lebih mahal!

Memaksimalken upah adalah konsep kuno. Yang sekarang terjadi adalah misalnya
menaiken pangsa pasar, memuasken pelanggan, konsep stake holder, inovasi,
terobosan, diferensiasi, dll, masih banyak lagi kiat2 untuk menghindari
spread negatip (rugi). Meminimalken upah hanyalah satu dari sekian banyak
cara.

Silahken simak juga struktur haraga. Misalnya struktur harga adalah :

Biaya langsung
- upah : 20
- material : 100

Biaya tak langsung
- overhead : 20
- biaya modal : 20
- transportasi : 50

Laba : 40 sehingga harga jual 250.

Total biaya 250. Dus, komponen upah hanya 4% dari keseluruhan harga. Maka,
menekan upah, misalnya 20% dari pasaran cuma menghasilken penurunan harga
20% x 4% = 0.8% = 4. Tak banyak gunanya, to? Bukankah lebih efektip
menurunken laba dari 40 menjadi 35?

Menekan upah hanya efektip jika komponen upah dominan. Dinegara kita,
umumnya upah proporsinya kecil. Menekan upah lebih banyak mengundang
kesulitan dari pada menaikkan laba.

Jika begitu, mengapa upah buruh rendah ? Karena kombinasi kompetisi dan
hukum penawaran & permintaan. Apapun, jika jumlahnya berlimpah, pasti jatuh
harganya. Yang menjatuhkan upah bukan <semata> pengusaha. Itu karena
sesama pekerja saling mendahului. Banting2an harga.

Kedua, faktor kompetisi antar perusahaan. Dulu harga CD-ROM sekeping 10,000
sekarang 1,000 dah dapet. Dulu naik montor mul�k ke Jogjakarta 400,000
adalah kemewahan. Sekarang 165 rebong saja. Apa akibatnya? Sudah pasti upah
karyawan kesabet. Ndak bisa tidak. Siapa biang keroknya? Konsumen! Mereka
dengan sewenang-wenang lari ke harga yang lebih murah. Harga jadi
terinjek-injek. Termasuk upah. Pengusahahaha berada ditengah. Ia harus
melayani pembeli karena merekalah sang raja. Konsumen memegang kekuasaan
dikoceknya.

Tetapi, konsumen juga tak bisa disalahken 100%. Sebab mereka di-iming2i
harga yang lebih murah. Jadilah lingkaran setan yang ndak jelas ujung
pangkalnya. Yang bisa kita pastiken adalah hukum permintaan & penawaran
sebagai faktor paling dominan. Faktor kedua adalah kompetisi.

Dinegara (ex) komunis (dulu) faktor kompetisi dibusek. Partai yang
menentuken upah dengan basis sama rata sama rasa. Terbukti itu ndak jalan.
Karena yang rajin, yang berjiwa wiraswasta, yang serakah, yang pandai cari
uang, disamaken dengan buruh2 yang bisnya cuma nyekrup.

Timbul kelirumologi : banyak diantara pembaca merasa tenaganya 'diperas'
oleh perusahaan. Merasa dinjek-injek. Mereka menyalahken dan memusuhi
perusahaan. Akibatnya karyawan tsb jadi malas2an bekerja dan prestasinya
memble. Cara berfikir yang demikian ini sangat destruktip. Justru merugiken
karyawan ybs. Bukan <semata> perusahaan yang menekan upah. Ada banyak
pihak, yang jelas sesama pekerja saling mendahului, sesama perusahaan
bersaing, dan hukum demand & suply ditambah lagi konsumen yang
sewenang2.

Apakah perusahaan bisa lepas tangan? Sudah pasti tidak, ia merupakan satu
bagian dari berbagai faktor yang menyebabken rendahnya upah. Tetapi bisakah
ia menaiken upah diatas harga pasar? Tidak bisa, ia akan kalah bersaing
dengan perusahaan sejenis. Siapa wasitnya, yang menentuken siapa
kalah-menang? K o n s u m e n.

Pada akirnya, yang menentukan upah kita bukan lagi pihak lain. bukan
pengusahahaha, bukan konsumen, bukan hukum penawaran dan permintaan.
Tetapi kita, kita sendiri yang menentuken mo berpenghasilan berapa.
Itu tak bisa
diselesaiken dengan mencari kambiang hitam. Kita hanya punya satu pilihan :
berprestasi. Jika itu tercapai, kita bisa mengatasi hukum penawaran &
permintaan. Ibarat bisa mengatasi hukum gravitasi, kita tak bakalan kembola
kembali jatuh keupah ngeres.

Ini saya utarakan dengan amat sangat jelasnya dalam artikel saya tentang
sikap kerja, bahwa yang menentuken <upah> kita bukanlah pihak lain tetapi
ada tiga faktor, yaitu

- FAKTOR INTERNAL
- FAKTOR INTERNAL
- FAKTOR INTERNAL 

=== end fwd ====

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit FOGRI Website: http://fogri.or.id
FOGRI Archive: http://www.mail-archive.com/fogri%40iagi.or.id/
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke