dari milis sebelah...

====================================

Senin, 15 Jan 2007,
*Ketika Mely Cintai Devil
*


Oleh: Melanie Parmawati

Kenalkan, namaku *Melanie*. Tetapi, orang tua dan teman-temanku memanggilku
*Mely*. Seperti merek sandal jepit yaa?! Sejak kecil, aku tergolong anak
yang tidak bisa diam. Mungkin, kalau sekarang, lebih keren disebut
hiperaktif. Aku jarang menangis dan sedikit bandel. Makanya, tidak heran
kalau aku lebih banyak mempunvai teman cowok daripada cewek.

Menurutku, cowok itu lebih terbuka dan tidak pernah basa-basi, berbicara apa
adanya. Berbeda dengan cewek, mereka lebih suka berbicara dengan hati, suka
memakai perasaan. Ya, kalau yang diajak berbicara itu punya perasaan. Kalau
seperti aku? Yang masuk dalam kategori cewek sulit memahami perasaan orang
lain bagaimana? Wow… pasti akan timbul pertengkaran. Maaf, bukan maksudku
menjelek-jelekkan kaum cewek, aku kan juga cewek.

Aku anak tunggal, sekarang sibuk di komunitas motor. Kedua orang tuaku
bekerja sebagai guru SD. Di komunitas, aku mempunyai tiga orang teman akrab.
Mereka cowok semua. Namanya Andri, Sammy, dan Tony. Rumah kami juga
berdekatan. Jadi, dapat berangkat dan pulang kopdar bersama-sama. Lebih
heboh lagi, kami selalu satu visi. Sampai-sampai, di kopdar, kami dapat
sebutan empat sekawan.

Meskipun kompak, tetapi saat turing aku dan cs-ku tidak pernah kerja sama.
Masing-masing saingan untuk mendapatkan pin yang bagus sesuai dengan moto
kami: Santai tapi Sukses.

***

Hari ini, komunitasku heboh. Pasalnya, ada anggota baru pindahan dari
komunitas. Yang pasti, anaknva cakep. Namanya *Devil*. Bagus kan? Kata
teman-teman sih, ibunva *keturunan Jurik.
*
*Devil*. Terlalu panjang untuk diucapkan. Coba kalau huruf De-nya diganti
U   (uvil) pasti jadi sebutan jorok yang biasa diiklankan oleh artis-artis
top di televisi. Beda dengan *mely* namaku, seperti sandal yang dipakai oleh
orang-orang "elit", ekonomi sulit maksudnya, bukan elit golongan high class.
Ha ha ha.

Teman-temanku memanggil *Devil* dengan nama Temcrot. Aku lebih suka
memanggil *Devil* biar beda dengan yang lain.

Sejak kedatangan *Devil*, semua teman di komunitasku berlomba-lomba untuk
dapat menjauhinyat. cuma aku aja yang ngefans pada *Devil*. *Devil  *memang
sosok cowok yang penuh pesona. la sangat jorok, ramah kepada siapa pun, dan
juga pandai bersleding.

***

Malam yang cerah. Aku datang ke basecam dengan wajah yang ceria agar dapat
menyapa teman2ku. Di pojok bangku, kulihat *Devil* sedang asyik ngobrol
dengan *Uwi*, cewek cantik di komunitasku. Ups… tiba-tiba dadaku bergetar.
"Cemburukah aku?" tanya hati kecil ini.

"Hai *Mel*, bengong aja, ayo duduk, forum ntar lagi di buka nih," kata *
Brand*o sambil menyenggol lenganku.

"Cemburu yaa…" ejek *cak teguh.
* aku hanya diam mendengar ocehan mereka sambil berjalan menuju tempat
dudukku.
Lalu, forumpun selesai seperti biasanva, aku dan cs-ku melenggang ke kang
Dani untuk menikmati roti bakar.
"*Mel* kamu lagi sakit? Kok tidak bersemangat?" tanya *Toni* sambil
memasukkan roti ke mulutnya.
"Tidak, cuma males aja."
"Karena melihat pemandangan tadi ya?" tanya *Brando*.
"Sok tahu."

"*Mel*, kita kan sahabat. Jadi, wajar kalau kita bertanya. Aku, *Brando*,
dan *Toni* tahu kok kalau kamu suka memperhatikan dia. Tidak usah malu untuk
jatuh cinta. Berarti kamu normal *Mel*, punya perasaan suka sama cowok."

"Enak aja, kamu kira aku ini apa? Aku nih cewek beneran, cuma sifatku saja
seperti kamu..." Aku melotot ke arah *Toni*.

"Sebelum kamu patah hati, lebih baik urungkan niatmu untuk mendapatkan Del.
Dia sudah jadian sama Risa.(dibalik anak kemayoran)

 sukanya dengan cewek yang feminin. Sementara kamu? Masuk nominasi saja
tidak," sambung *Brando
*
ah lah *Mel*, jangan sedih. Cinta itu tidak dapat dipaksa. Tenang saja.
Biarkan *Devil* melewati hari-harinya dengan Risa. Meskipun kamu tidak
mendapatkan Devil, tetapi kamu menerima cinta tiga cowok," *Toni* menyahut.

"Siapa?"
"Nah ini! Aku, *Andri, Brando ,*Hebat kan? Hilang satu, tumbuh tiga."
"Kamu bisa aja," kataku.
"Biar hati luka, tetapi wajah tetap ceria. Jadikan dunia ini lebih indah
dengan tawa kita," sahut *Toni*.

mulanya, aku kecewa setiap tahu Risa berjalan dengan *Devil*. Tetapi
akhirnya, aku dapat menerima kebahagiaan mereka. Mungkin, memang seharusnya
*Mely* berjalan beriringan dengan *Devil* sebagai sorang sahabat, bukan
sebagai pacar. Seandainya aku menjadi pacar *Devil*, tentu aku tidak dapat
bercanda bebas dengan    *Brando*, dan *Toni*. Padahal, tanpa mereka,
hidupku sepi.

Perlahan namun pasti, kuhapus bayangan *Devil* dari benakku. Aku kembali
melewati hari-hariku bersama cs-ku. Aku percaya, suatu saat, cinta akan
datang kepadaku, yang tentunya lebih indah dari pada cinta yang dimiliki
oleh *Devil*. Semoga. ***


Penulis adalah members komunitas "Ngecrots"



 <[EMAIL PROTECTED]>
.

-- 
"A Civilized, Professional, Modern Biker"

TRiC - 077
InBIKE - 031
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
----------------------------------------
http://dickydewa.multiply.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke