kenapa orang tetep mau tinggal di bantaran kali padahal mereka dah tau
sejak bertahun-tahun lalu kalo sungai itu banjir, rumah mereka jadi
kerendam? nggak ada pilihan? atau nggak mau?

+++++++++++++++

Banjir Jakarta
*Hidup Bersama Sungai Ciliwung *

Amir Sodikin

Banjir pasti datang setiap tahun, tetapi dengan pemberitahuan lebih dulu. Ia
tak mungkin ingkar, akan selalu memberi kabar dengan tanda-tanda. Jangan
dihambat jalannya karena bisa menerjang semuanya. Banjir akan merenggut
korban jika dilawan.

Inilah kunci yang harus disadari jika ingin tinggal secara harmonis bersama
Sungai Ciliwung. "Pasti kami tahu kalau datang banjir, semua warga tahu dan
tak akan ada yang terlewat. Saya sudah 40 tahun di sini dan tak pernah ada
warga yang mati akibat kebanjiran," kata Nur Hidayah (40), warga asli
kelahiran pinggir Kali Ciliwung di RT 11 RW 02 Kampung Pulo, Kelurahan
Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (31/1).

"Kami tak mau dipindah dari sini. Enak karena dekat pasar sehingga bisa
jualan apa saja. Dari sungai juga ada rezeki sampah kalau mau mungut untuk
dijual," ujar Darmiati (40), warga pinggir kali (girli) di RT 03 RW 02, yang
telah 20 tahun mengontrak dengan biaya Rp 200.000 per bulan.

"Kalau airnya bening, bisa untuk nyuci. Kami sudah beranak pinak di sini,
mana mungkin pindah," kata Marnah, warga RT 05 RW 03, menyela.

"Setiap tahun memang banjir, dan saya harus libur dari jualan es, tapi biar
bagaimana, saya tak punya rencana pindah," kata Julo (40), warga RT 07 RW
01.

Alasan-alasan mereka, penghuni girli yang selalu kebanjiran, memang tak
pernah dipahami oleh siapa pun di luar komunitas mereka. Oleh karena itu,
selalu terjadi kontroversi menyangkut banjir tahunan, apakah itu sebagai
bencana atau "perayaan" tahunan?

*Derita pengungsi*

Rabu kemarin lebih dari 1.000 warga Kampung Pulo sudah tiga malam mengungsi
di depan SMP Santa Maria, Jatinegara. Sebagian perempuan dan anak- anak
masih berada di pengungsian, sementara laki-laki dewasa mulai menengok rumah
mereka. Sebagian memilih belum membersihkan rumah dari genangan lumpur
karena diyakini "perayaan" banjir belum berakhir.

Siang itu tak hanya orang tua yang sakit. Ratusan anak balita pun jatuh
sakit karena sanitasi di sekitar permukiman padat itu tidak sehat akibat
direndam air. Cuaca dalam beberapa hari ini buruk. Mendung seolah menjadi
teror bagi orang yang tak memahami dinamika Ciliwung.

"Sudah ratusan anak terserang batuk, panas, pilek, dan gatal-gatal," kata
Ni'matul Hanani, dokter puskesmas yang melayani pengungsi. Terdengar horor,
tetapi banyak warga yang menghadapinya dengan santai.

Mereka yang terkena masalah kesehatan memang tampak lemah berbaring di
pengungsian dan berharap cemas akan kesehatan keluarganya. Tetapi selalu ada
petugas kesehatan yang datang membantu, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Walau makanan cukup terjamin, situasi di pengungsian yang tak leluasa
layaknya di rumah sendiri menjadi faktor utama pendukung nuansa muram di
pengungsian. "Ah, biasa saja di pengungsian, makanannya terjamin kok.
Sekarang yang penting mengungsi dulu, nanti kalau sudah kering baru pulang,"
kata Marnah (55), seorang nenek, menepis berbagai anggapan.

"Cuma bantuan duitnya enggak ada," lanjut Marnah, sambil tertawa renyah.

Berbagai isu bahwa ada warga yang memanfaatkan banjir hanya untuk mendapat
bantuan mereka tepis sendiri.

Di Gang I Kampung Pulo, warga yang pulang harus membersihkan lumpur. Mereka
bekerja ekstra sambil menggunjingkan beberapa pejabat yang baru saja
meninjau.

Hari itu Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo memang mengunjungi posko
pengungsian. Selain menanyakan kelengkapan di tempat pengungsian, Fauzi,
yang akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta, bercanda dengan
pengungsi.

Kunjungan pejabat adalah salah satu bentuk selebrasi tahunan, yang hukumnya
seperti wajib dilakukan oleh siapa pun pejabat yang ada di DKI Jakarta
ataupun di Jakarta Timur. Selebrasi yang cukup menghibur warga adalah saat
pejabat itu datang dan membawa bantuan, entah makanan atau fasilitas untuk
mengungsi.

Semua berlangsung rutin setiap tahun, hingga tak ada yang heboh melihat
pejabat datang. Walaupun tak begitu heboh menyambut pejabat yang datang,
mereka pasti mempertanyakan pejabat yang tidak datang ke posko pengungsian
banjir.

Beberapa partai politik juga memanfaatkan momentum itu untuk mendekatkan
diri. Suasana di sepanjang jalan dekat posko pengungsian tampak meriah
dengan bendera partai politik di tengah kota metropolitan Jakarta yang
pragmatis.

"Penanganan banjir di Kampung Melayu memang sudah bagus. Bantuan datang
mengalir dan pasti dikunjungi pejabat," kata seorang warga di Gang Arus,
Kramat Jati, yang cemburu dengan kemeriahan di Kampung Melayu.

*Tetap relokasi*

Warga dengan berbagai rekayasa telah berusaha membuktikan bisa tinggal
berdampingan dengan sungai dan banjir. Ibrahim, warga Gang Arus, misalnya,
meninggikan lantai rumah hingga 1 meter selain menambah satu lantai rumah.
Semua mebel dalam rumah telah dibuat "kedap air" sehingga sewaktu-waktu bisa
ditinggal mengungsi.

Namun, rekayasa itu ternyata tak dianjurkan. Banjir adalah debit ekstrem
dari sungai. Direktur Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum
Siswoko menegaskan, warga girli memang bukan penyebab terjadinya banjir.
"Mereka menjadi korban, bukan penyebab banjir," katanya.

Apakah karena itu mereka tidak boleh digusur? "Tetap harus digusur, tapi
alasannya karena tinggal di tempat yang sangat berisiko dan tak layak,"
ujarnya.

Dari sisi hukum alam, bantaran sungai merupakan dataran banjir yang menjadi
jalan lewat air saat hujan turun karena adanya debit ekstrem. Daerah itu tak
boleh diganggu karena memang bagian dari sungai.

Mau tidak mau, pemerintah harus merelokasi warga bantaran sungai. Harus
diakui, ini merupakan ide klise sejak zaman dahulu kala. Berbagai rencana
relokasi ditawarkan, tetapi selalu tak membuahkan hasil.

Siswoko mengatakan, salah satu kendala relokasi saat ini adalah mahalnya
biaya pembebasan tanah. Dari pengalaman tahun 1996/1997 saat membebaskan 800
meter daerah bantaran sungai di dekat jembatan Casablanca, Jakarta Selatan,
ternyata banyak bantaran sungai yang sudah bersertifikat.

"Akhirnya biaya pembebasan itu lebih mahal dibandingkan dengan biaya
pembangunan tanggulnya," kata Siswoko.

Ia tidak setuju dengan berbagai ide rekayasa bangunan di bantaran.
"Prinsipnya, jangan halangi daerah aliran air. Secanggih apa pun bangunan
itu, kalau yang datang banjir besar, tetap akan bermasalah. Mereka tetap
akan digusur walaupun bisa membuktikan hidup berdampingan dengan Ciliwung,"
ujar Siswoko.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/01/utama/3282451.htm
.

-- 
*"A Civilized, Professional, Modern Biker"
*
TRiC - 077
InBIKE - 031
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
----------------------------------------
http://dickydewa.multiply.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke