dari milis sebelah...

*"Valentine's Day", Apa Perlu?*


Oleh: Surti N.

SEPERTINYA hampir semua orang sudah tahu apa apa yang akan terjadi
setiap 14 Februari. Ya, Hari Valentine atau Valentine's Day, yang
katanya merupakan peringatan hari kasih sayang. Asal-usul Valentine's
Day sendiri ada sejumlah versi. Konon perayaan ini erat hubungannya
dengan Rudolf Valentino, maestro cinta yang sedang jatuh cinta.

Versi lainnya menyebutkan, perayaan ini berawal dari peringatan hari
wafatnya Saint Valentine pada 14 Februari 269 M. Dia memang bukan sosok
biasa, setidaknya bagi masyarakat Kota Temi, Italia. Semasa hidupnya,
dia merupakan figur berhati mulia yang gemar menolong dan akrab berbaur
dengan warga miskin.

Warga Temi pun kemudian mendirikan patung sang paderi di tengah-tengah
kota dan menasbihkan 14 Februari sebagai hari libur yang dirayakan
setiap tahun. Uniknya lagi, setiap 14 Februari banyak pasangan berjubel
di sekeliling patungnya itu hanya untuk menciumi wajah sang patung.
Warga percaya dengan berlaku demikian, perkawinan mereka akan bahagia,
langgeng, dan awet.

Ternyata, wabah Valentine's Day itu ibarat virus yang dengan cepat
menyebar ke seantero jagat dan di antaranya ke Indonesia. Semua orang
yang sudah punya pasangan, katanya, merasa wajib untuk merayakan
Valentine. Sang laki-laki konon memberikan bunga mawar merah untuk
dihadiahkan kepada pasangan perempuannya. Sedangkan sang perempuan
memberikan hadiah pula kepada pasangannya.

Tapi, khusus di Indonesia, ternyata perayaan Valentine itu menimbulkan
pro dan kontra. Ada yang menganggap bahwa Valentine's Day tidak cocok
dengan budaya dan kultur kita. Namun, sebagian lagi cuek bebek dan
mengagungkan hari tersebut. Bagaimana dengan kita?

Ada baiknya jika kita melihat perbedaan itu sebagai persoalan yang harus
dipecahkan dengan logika yang bijak. Bagi yang mendukung Valentine's
Day, silakan saja rayakan. Namun, bagi yang katakanlah antipati, silakan
juga. Tetapi, jangan sampai rasa antipati itu menjurus pada perbedaan
yang akan membuat jurang pemisah pertemanan.

Memang, di dalam budaya dan kultur bangsa Indonesia tidak ada yang
namanya merayakan Valentine's Day. Namun, bagaimana kalau kita mengambil
intisari dari hari tersebut. Sebarkanlah kasih sayang itu tidak hanya
kepada pasangan atau pacar kita saja. Tapi juga kepada orangtua, kakak,
dan adik kita. Tidak hanya itu, sebarkan juga kasih sayang kepada teman
dan sesama yang secara materi kurang dari kita.

Belum lagi jika melihat bencana yang tengah bertubi-tubi menimpa bangsa
ini. Banjir di Jakarta misalnya. Bagaimana kalau kita membangkitkan
perasaan empati teman-teman untuk membantu kawan kita yang tertimpa
bencana. Jika tidak mampu memberi bantuan sekadarnya, ulurkan tangan
kita untuk sekadar menggandeng para korban agar melupakan sejenak
bencana yang tengah dialaminya.

Jelas, kasih sayang yang diberikan tidak sekadar hanya memberikan
sekuntum bunga mawar yang hanya pada 14 Februari. Menebarkan kasih dan
sayang kini tidak hanya harus kepada cowok atau cewek kita saja.
Tebarkan kasih dan sayang itu juga kepada mereka yang tengah tertimpa
bencana. Sehingga, tidak perlu ada lagi pro dan kontra terhadap
Valentine's Day. Toh, kita bangsa Indonesia lebih kaya karena bisa
merayakan hari kasih sayang itu setiap saat dan kapan pun juga.
Bagaimana teman-teman, apa perlu merayakan Valentine's Day pada 14
Februari nanti? (penulis adalah siswa sekolah menengah atas alfa
centauri)**


-- 
"A Civilized, Professional, Modern Biker"

TRiC - 077
InBIKE - 031
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
----------------------------------------
http://dickydewa.multiply.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke