*---------- Forwarded message ----------*
From:
Date: Feb 12, 2007 12:07 PM
Subject: [smokingcorner] Artikel - Loyalitas
To:


Loyalitas
 *Dodi Andreas*

Seorang pimpinan perusahaan berpidato pada suatu perayaan, "Atas loyalitas
yang ditunjukkan oleh pak Budi selama 25 tahun ini, perusahaan berkenan
menganugerahkan penghargaan tanda jasa pengabdian berupa .. bla-bla-bla."

Kemudian beliau menyematkan sebuah pin dan menyerahkan sejumlah hadiah pada
pak Budi yang tentu menerimanya dengan penuh suka cita. Para penonton
bertepuk tangan. Sebagian berdecak kagum, "Pak Budi betul-betul loyal.

Bayangkan, 25 tahun! Berarti ia telah menghabiskan hampir separuh hidupnya
dengan bekerja di perusahaan ini." Sebagian lain, menghitung-hitung berapa
lama waktu yang diperlukan agar seperti pak Budi, 20 tahun? 10 tahun? 5
tahun atau mungkin tahun depan? Barangkali, ada sebagian kecil yang
mencibir, "Ah tak rela aku bekerja di sini sampai sekian lama."

Memang, tak sedikit perusahaan menganggap bahwa loyalitas adalah hal kedua
yang diharapkan dari seorang karyawan setelah profesionalisme. Dan, biasanya
kita menggunakan lama masa kerja untuk mengukur loyalitas seorang karyawan.

Semakin lama masa kerja maka semakin loyallah karyawan tersebut pada
perusahaan. Begitu pentingnya loyalitas sehingga banyak perusahaan merasa
perlu menyusun berbagai kebijakan "rewarding" dengan memasukkan faktor ini.

Misal, penganugerahan penghargaan pada karyawan yang telah bekerja sekian
tahun. Atau, pemberian pinjaman lunak hanya bagi karyawan yang telah
melewati masa kerja sekian lama. Tujuannya, untuk menjaga karyawan-karyawan
terbaik mereka tetap bekerja dan menunjukkan loyalitasnya pada perusahaan.

Mengapa menggunakan ukuran waktu? Pertama, karena mudah. Kedua, loyalitas
hanya tumbuh bersama kebersamaan. Dan kebersamaan itu memerlukan waktu.

Loyalitas adalah kesetiaan. Dan kesetiaan adalah kualitas yang menyebabkan
kita tidak menggemingkan dukungan dan pembelaan kita pada sesuatu.

Loyalitaslah yang menyebabkan kita tetap membela seorang sahabat meski ia
harus terancam masuk penjara. Loyalitaslah yang membuat kita
bernyanyi-nyanyi penuh semangat memberikan dukungan pada kesebelasan
kesayangan, meski mereka sedang tertinggal beberapa goal dari tim lawan.

Memang, loyalitas lebih banyak bersifat emosional. Loyalitas adalah kualitas
perasaan, dan perasaan tak selalu membutuhkan penjelasan rasional.

Hampir-hampir saja, loyalitas tak ubahnya dukungan buta, bahkan semacam
sumpah setia. Di beberapa institusi tertentu, seperti negara, militer dan
partai politik, loyalitas adalah hal terutama dan pertama yang dituntut.

Itulah mengapa, seseorang harus bersedia membaca sumpah setia
lantang-lantang sebelum mereka bergabung ke sana.

Mengapa loyalitas?

Mengapa loyalitas menjadi salah satu kualitas penentu hubungan antara
perusahaan dengan karyawan? Meski hampir tak ada perusahaan atau pimpinan
yang berterus-terang meminta loyalitas dari karyawannya, namun diam-diam
banyak dari mereka yang mengharapkannya. Dengan mendapatkan loyalitas dari
karyawannya, sebuah perusahaan merasa benar-benar "memiliki" karyawan yang
siap bertempur demi kepentingan usahanya, atau seorang pimpinan tak ragu
lagi perintahnya tak terlaksanakan. Demikian pula, bila seorang karyawan
yakin telah memberikan loyalitasnya, ia tak perlu khawatir kehilangan
pekerjaannya; lebih dari itu kebutuhan-kebutuhannya akan mudah terpenuhi.

Meski demikian, tak sedikit orang meragukan kekuatan loyalitas. Beberapa
pakar manajemen sumber daya manusia malah skeptis untuk memasukkan loyalitas
sebagai bagian dari pekerjaan mereka. Kata mereka, "Loyalitas sudah mati."
Atau, yang lebih halus mengatakan, "Loyalitas telah menyusut".

Terlepas dari apa pun alasan mereka, hubungan kerja adalah hubungan
rasional. Pertimbangan masak-masak, perhitungan untung rugi, pemikiran
rasional mengenai kebutuhan dan imbalan adalah hal yang mendasari hubungan
kerja, ketimbang spontanitas emosional belaka.

Hubungan kerja bukanlah hubungan antara sebuah klub sepak bola dengan
fansnya. Seseorang yang telah bekerja 25 tahun mungkin dianggap loyal, namun
mungkin itu tak lebih berarti dibanding seseorang yang baru masuk kerja
namun menunjukkan pretasi yang mengagumkan.

Sebaliknya, seseorang yang keluar dari pekerjaan yang telah digelutinya
selama 25 tahun tidak harus dikatakan tidak loyal hanya karena tertarik pada
tawaran yang lebih menggiurkan dari perusahaan lain.

Sebenarnya, tidak terlalu sulit untuk mengiyakan keraguan atas loyalitas
dalam hubungan kerja. Namun, seringkali banyak perusahaan dan karyawan
menyalahgunakan kata "loyalitas" untuk membenarkan tindakannya. Perusahaan
bilang bahwa mereka menghargai loyalitas, padahal yang dimaksudkan adalah
perilaku "yes man", taat, tidak membantah, dan bersedia melakukan apa saja
tanpa banyak tuntutan.

Sebaliknya, karyawan membanggakan loyalitas pada atasannya hanya karena
ingin mendapatkan penghasilan yang lebih baik, padahal bila sebuah tawaran
menarik datang, tanpa banyak ragu ia akan menanggalkan semua "loyalitas"nya
dan berpindah ke lain perusahaan.

Terlebih lagi, ada kecenderungan untuk menyederhanakan loyalitas sama dengan
lama masa kerja. Sehingga, hak atas imbalan yang lebih baik dituntut oleh
karyawan yang telah lebih lama bekerja, bukan oleh yang lebih berprestasi.
Sedangkan bagi perusahaan, karyawan yang tak banyak mulut dan patuh, berhak
mendapatkan imbalan terbaik daripada mereka yang suka mengajukan pemikiran
alternatif dan kritis. Jadi, pantas bila loyalitas semakin hari semakin
dipandang sebelah mata.

Kita bisa memberikan kesetiaan atau loyalitas kita pada siapa saja dan apa
saja.

Karena kita memiliki kebutuhan untuk mendharmabaktikan diri kita pada
sesuatu. Adalah dorongan manusiawi kita untuk setia. Kesetiaan itu sesuatu
yang indah. Seorang suami tak pernah merasa lelah bekerja keras atas nama
kesetiaan pada keluarganya. Seorang istri rela hidup sulit menjanda untuk
kesetiaan pada almarhum suaminya. Kesetiaan adalah keteguhan, kekokohan,
ketegasan, kekuatan.

Pada tataran yang lebih abstrak, kesetiaan merupakan perwujudan dari
kerendahan diri, penghormatan, bahkan penyembahan. Kita mampu bertahan dalam
menghadapi kesulitan karena kesetiaan kita pada sesuatu. Tanpa kesetiaan,
kita seolah hidup sendiri, kesepian, dan merasa tak bermanfaat. Dan, pada
hakikatnya kesetiaan terlahir dari rasa cinta.

Sebuah pepatah mengatakan, "Dengan uang kita bisa membeli anjing yang bagus,
tetapi belum tentu bisa mendapatkan goyangan ekornya." Bukankah goyangan
ekor pertanda kesetiaan seekor anjing pada majikannya? Seseorang boleh saja
setiap hari mentraktir temannya agar mau mengikuti kemana ia pergi, namun
itu belum cukup untuk suatu kesetiaan. Dalam kesetiaan selalu ada
persahabatan.

Seorang majikan bisa saja mengeluarkan banyak uang untuk membayar
karyawannya agar bekerja tanpa banyak cincong namun belum tentu bisa
mendapatkan kesetiaannya. Karena kepatuhan melaksanakan pekerjaan bukan
berarti kesetiaan yang muncul dari dalam hati, dari rasa cinta. Kesetiaan
senantiasa memberikan kesediaan untuk memperjuangkan sesuatu. Kesetiaan
adalah pembelaan. Maka tak heran bila beberapa orang berpendapat terlalu
naif untuk mengharapkan kesetiaan dari karyawan bila hanya mempertimbangkan
imbalan belaka. Karena yang didapat mungkin hanya kesetiaan semu, atau malah
cuma kemunafikan belaka.

Kesepakatan terwujud bila kita mampu memenangkan pikiran orang lain
("winning the mind"). Sedangkan rasa cinta yang membuahkan loyalitas, dapat
muncul bila kita mampu memenangkan hati orang lain ("winning the heart").

Pertimbangan ekonomis tidak harus menjadi satu-satunya hal dalam suatu
hubungan kerja. Masih banyak karyawan bahkan kita sendiri yang menunjukkan
loyalitas tinggi pada perusahaan atau atasan. Itu karena hati kita telah
dimenangkan. Dan memenangkan hati adalah memenangkan nilai-nilai,
prinsip-prinsip, tujuan-tujuan dan harapan-harapan. Secara lahir kita tampak
loyal pada perusahaan, atasan atau rekan-rekan sekerja, namun pada intinya,
kita loyal pada nilai-nilai, prinsip-prinsip, tujuan-tujuan, dan
harapan-harapan.

Karena nilai dan prinsip adalah sesuatu yang takkan pudar begitu saja, maka
kita loyal pada nilai dan prinsip. Kita menjunjung tinggi, membela dan
mempertahankan sebuah nilai dan prinsip, meski situasi tak selalu mudah.

Karena tujuan dan harapan adalah sesuatu yang memberikan makna bagi
perjalanan hidup kita, maka kita loyal pada tujuan dan harapan. Kita
memperjuangkan dan meneguhkan diri untuk sebuah tujuan dan harapan, meski
butuh pengorbanan yang berat. Mungkin ada baiknya mencermati loyalitas yang
selama ini dimaksud dalam hubungan kerja kita. Karena mungkin saja ia
berdiri pada pijakan yang rapuh, seperti mendirikan bangunan di atas tanah
lumpur. Tanpa nilai, prinsip, tujuan dan harapan, loyalitas akan tenggelam
perlahan-lahan tanpa sempat berteriak meminta tolong. Dan barangkali memang
tak perlu bersusah payah mencari loyalitas, karena loyalitas seringkali
datang tanpa diduga dan pergi tanpa permisi. Cukuplah melakukan sesuatu
dengan nilai, prinsip, tujuan dan harapan.

-- 
*"A Civilized, Professional, Modern Biker"*

TRiC - 077
InBIKE - 031
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
----------------------------------------
http://dickydewa.multiply.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke