*MOTOR DI JAKARTA*
* *
Sekedar selingan buat temen-temen semua yang sedang hangat membicarakan
topik pelarangan akses motor di tiga jalan besar di Jakarta.


Ini ada tulisan dari Deden Rukmana, Ph.D, asisten profesor pada *Urban
Studies* Universitas Savannah, AS (
http://thejakartapost.com/detaileditorial.asp?fileid=20070210.E02&irec=1
).
Karena expired saya sarikan saja.


Sutiyoso khawatir jalan-jalan Jakarta menjadi seperti Hanoi, didominasi
oleh motor. Argumen yang lucu. Mungkin dia gengsi dengan jalan yang
penuh dengan motor daripada mobil. Padahal ukuran fisik mobil lebih
besar dan panjang daripada motor.


Namun yang harus kita semua pahami (bukan hanya pengguna motor),
kebijakan tata kota dimanapun menyangkut keterbatasan ruang yang harus
diisi dengan alat transportasi yang tak terbatas. Jadi harus ada
*sacrifice* nya. Ada unsur *the economics *nya.


Yang jadi masalah adalah, siapa yang dikorbankan. Ini persoalan
keadilan.


Deden Rukmana mengemukakan beberapa fakta berikut. Saya kira ini dari
berbagai sumber baik Departemen Perhubungan dan Polda Metro Jaya. Karena
beliau berkecimpung di bidang *urban study* dan tata ruang, ini sangat
kredibel untuk didengar.
* *


   1. Panjang jalan di Jakarta bertambah rata-rata sebesar 1-2 persen
per
   tahun, sedangkan pertumbuhan pemilikan motor mencapai 15 persen. Jauh
tidak
   seimbang.
   2. Para penglaju (*commuters*) dari zona-zona suburban di sekitar
   Jakarta umumnya dapat menghemat hingga 30 persen biaya transportasi
bulanan
   jika mereka naik motor daripada angkutan umum.
   3. Sebesar 64 persen PDB Indonesia saat ini berasal dari sektor
   konsumsi, salah satunya pembelian motor.
   4. Kecelakaan motor meningkat 25 persen dalam tiga tahun terakhir.
   Angka ini lebih tinggi dari mobil.
   5. Dari 1.128 angka kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalin
   selama tahun 2006, sebesar 857 nya berasal dari motor.


 Saya tidak setuju bila akses pengendara motor dibatas-batasi di
Jakarta. Mereka adalah juga pembayar pajak. Jika tidak ada akses
terhadap fasilitas publik, harus ada exit policy nya sebagai pengganti.
Mungkin jam nya diatur dsb.


Sayangnya exit policy yang lestari menurut aku memang butuh waktu lama.
Ya harus ada *mass public transport* yang *accessible* dan secara
ekonomis bisa membuat pengguna kendaraan pribadi (mobil maupun motor)
meninggalkan kendaraannya dengan fasilitas sesuai segmen nya
masing-masing.


Saya tidak setuju dengan tulisan yang banyak beredar belakangan ini
tentang 'tangisan' hati masyarakat pengendara motor yang seolah-oleh
meminta belas kasihan dan memelas. Saya kira ini *'argumentum ad
misericordiam'* saja. Kita tidak bisa menetapkan kebijakan hanya atas
dasar rasa kasihan. Bahwa naik motor akan panas, jadi tidak modis, bau
keringat, gabisa dengerin musik, emosi dsb ya itu memang konsekuensinya.
Nanti pengemudi dan pengendara becak minta jalur khusus dengan
pohon-pohon penyejuk lagi, kan ini malah jadi preseden buruk. Orang naik
mobil, angkot dan bus pun punya problemnya sendiri. Kalau tidak mau, ya
jangan naik motor. Jangan cengeng lah, yang rasional.


Data-data sajian diatas menunjukkan bahwa motor pun punya risiko yang
terbilang tinggi untuk pengendara publik lainnya. Kecelakaan terbesar
terjadi diantara pengendara motor. Saya kira perilaku ugal-ugalan dan
gemar menerabas yang sering kita lihat di jalan bukan alasan yang
berlebihan. Jadi harus dilihat dengan seimbang dan fair juga.


Saya setuju, bahwa manusia adalah *homo economicus *yang rasional.
Pertimbangan bahwa biaya murah jadi alasan untuk tetap naik motor cukup
bisa diterima. Saya sendiri selama berada di Jakarta cukup sering
menggunakan ojek untuk keperluan-keperluan praktis ke tempat-tempat
dekat dalam waktu cepat. Jangan salah, *cost* (biaya) yang kita
keluarkan bukan hanya uang atau yang bisa diukur secara moneter, tetapi
juga waktu, tenaga, dan rasa nyaman (saya tidak betah berlama-lama di
tengah kemacetan dan udara panas).


Menarik, bahwa penglaju masih memilih motor daripada angkutan umum yang
notabene sudah murah. Mereka *price sensitive * sekali. Di sebuah
majalah di Melbourne pernah ada kajian tentang transportasi kota
disertai dengan sebuah gambar. Dalam gambar itu ada gerbong kereta
dengan banyak manusia bergantungan diatasnya. Anehnya, salah seorang
yang ada disana mengenakan seragam pakaian dinas harian (PDH) sebuah
departemen di Indonesia. Rupanya PNS, Jakarta! Di sampingnya tertulis:
*"Will our transport system be like this?"*. Kereta, yang menghubungkan
kota-kota satelit dengan Jakarta, ternyata masih kurang. Atau lebih
sedihnya lagi, kalau motif bergelantungan itu disebabkan karena tidak
mau bayar. Ya sudah kalau begini mau diapakan lagi ada/tidak ada sistem
transport massal, orang Indonesia memang pada dasarnya mentalnya sudah
jangkrik! Bangsa kuli,  kata Bung Karno. Mau ada kereta nyaman dan murah
pun akan tetap cari gak bayar.


Penduduk Jakarta sudah terlalu banyak. Sedangkan perencanaan nya
terlambat. Maka penyelesaiannya ya harus penyelesaian ekonomi, harus
dirangsang dari segi insentif dan disinsentif. Saya kadang-kadang sedih
dan malu ada ibukota terendam air terus-terusan. Dalam sebuah sidang di
parlemen Australia, Jakarta dijadikan contoh pengelolaan kota  yang
buruk oleh Malcolm Turnbull (menteri lingkungan dan sumber daya air)
bersama dengan Bangladesh!


Memindahkan pusat-pusat penarik massa ke pinggir kota (*outskirts*),
disiplin peruntukan lahan, rangsangan pajak, angkutan massal yang cepat
dan nyaman sampai relokasi ibukota sudah banyak disebut sebagai
alternatif solusi. Tapi belum semuanya dicoba secara optimal.


Yang dialami Jakarta saat ini, sudah diselesaikan London pada abad
ke-19, satu abad  pasca Revolusi Industri. Biarlah Indonesia dan Jakarta
menyelesaikan masalahnya sendiri. Semua ada iramanya.


Salam metal,
ANGGA




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- berpikir jernih lah sebelum melakukan reply ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke