*Sekilas Cipete *
  *Written by Admin    *
 *Monday, 02 April 2007*

 Tegaknya gedung apartemen di sepanjang jalan Prapanca itu, nyaris tidak
disangka kalau di belakang dari gedung apartemen itu terdapat sebuah kawasan
pemukiman pemulung. Tepatnya Jl H Naim Cipete Jakarta Selatan belakang
gedung apartemen Prapanca. Di kawasan yang menempati lahan kira-kira 1000 m
terdapat kurang lebih 300 KK yang hidupnya hanya mengandalkan profesinya
sebagai pemulung. Mereka merupakan pendatang yang mencoba mengais rejeki di
kota Jakarta ini. Namun karena terbatasnya pendidikan dan kesempatan, mereka
cukup puas dengan pekerjaan saat ini, yaitu pemulung.

Bila kita masuk ke kawasan tersebut, terlihat rumah-rumah yang berdempetan
satu dengan lain. Rumah yang berukuran hanya cukup untuk satu kamar kecil
saja terbuat dari bahan bangunan seadanya. Rumah kecil itu dihuni oleh satu
keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan anak. Dapat dibayangkan bagaimana
hidup di dalam rumah tersebut. Meski kondisi demikian, bila kita memasuki
area ini, kita akan disambut oleh cerianya anak-anak yang bermain di jalan
masuk atau anak-anak berhamburan mendekati kita dari area bermain mereka di
tumpukan sampah-sampah. Anak-anak itu sepertinya tidak menghiraukan adanya
bahaya bakteri atau virus yang siap masuk ke tubuh-tubuh mungil itu.

Dalam keadaan yang serba kekurangan itu, tidak menyurutkan semangat
anak-anak dalam menjalani hidup sehari-hari. Ini terpancar dari raut muka
para anak-anak di kawasan ini. Tawa ceria senantiasa menebar di bibir-bibir
polos anak-anak. Kesulitan hidup tak tampak di wajah mereka. Walau bersusah
payah mereka berusaha untuk mencukupi hidup dengan memulung, mengamen, namun
tak terlihat lelah di wajah mereka. Mata polos khas anak-anak senantiasa
memancar di mata-mata mereka. Kerasnya hidup membuat ketegaran di hati
mereka. Juga cita-cita, harapan-harapan yang kadang hilang dari hati mereka,
yang tersisa adalah semangat hidup untuk hari ini.

Bila siang hari, lepas pulang sekolah anak-anak itu langsung berangkat untuk
memulung. Atau bila hari Minggu, mereka berangkat pagi-pagi bersama ayahnya
untuk memulung. Dengan membawa gerobak, yang terkadang lebih besar
gerobaknya, anak-anak itu tersenyum memulai acara kerja rutinnya. Sambil
berharap semoga hari ini mendapatkan hasil yang lebih banyak dari hari
kemarin, atau keberuntungan yang lain seperti menemukan HP yang bagus, atau
pun barang berharga lainnya. Rutinitas ini dijalani dengan sepenuh hati,
tanpa mengeluh dan menggerutu. Hanya ini yang dapat mereka lakukan untuk
menyambung hidup, terlebih untuk menambah penghasilan untuk membiayai
sekolahnya.

Ada hal yang masih diingat, kala bersama dengan mereka, bahwa " tidak ada
perbedaan antara kami (anak-anak) yang memulung dengan mereka yang melakukan
kuliah sambil bekerja. Kami pun melakukan hal serupa walaupun pekerjaan yang
dijalaninya hanyalah memulung, dan itulah pekerjaan kami, dan juga kami
tidak kuliah tapi bersekolah" ....
Semoga semangat itu tetap terpatri di hati anak-anak ini....
*source : 
**http://binapeduli-dhuafa.org/index.php*<http://binapeduli-dhuafa.org/index.php>

-- 
"A Civilized, Professional, Modern Biker"

TRiC - 077
HTML - 853
HORNET - 151
INSERT - 006
FSRJ 'ers
----------------------------------------
http://dickydewa.multiply.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
--- We moderators work for free only for your convenience in our forum.
Help us and obey the rules or be gone!  ---
.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forbas
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke