Saya juga suka dengan produk local. Hanya masalahnya di sdm yang sedikit kurang memenuhi kualitas market.
Niscaya kalau seumpama.kualitasnya sudah meningkat pasti kita berani ngadu tuh sama kopinya starbbuk, or sepatunya jiordanot. Tas kulit tunggul angin yg di sby bagus-bagus kok.tinggal maintain di kualitas.. PG _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Yuliati Soebeno Sent: Friday, March 02, 2007 2:52 PM To: [email protected] Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Globalisasi Pantas Dibela-Membela produk dalam negri Juga ikutan nimbrung. "Globalisasi pantas dibela". Ya saya membela nya dengan menomer satukan pemakaian produk Indonesia dulu, misalnya: Kopi Toraja; Teh wangi dari Tegal; Sandal buatan Bali; Sepatu buatan Bandung; Tas buatan Yogya; Baju Batik dari Pekalongan atau Yogya serta Tenunan dari Sumba dan Sopeng (Sulawesi). Jadi hasil-hasil produksi Indonesia tetap laku. Dan saya tidak (belum pernah - sangat taat menjalankan ini) minum COCA-COLA; atau minuman hasil produksi asing. Lebih bagus minum jus jeruk nipis (diperas sendiri); atau jus jeruk Medan atau Pontianak dan jus pepaya. Rasanya saya lebih bangga mendahulukan produk Indonesia dari pada produk luar negri. Jika Globalisasi sudah harus diterapkan disetiap penjuru dunia, ya kita-kita sendiri yang harus menjaga produk hasil dalam negri kita, bukan malahan membeli produk yang didatangkan ke Indonesia. Kasihan dong, pengrajin dan petani kita? Salam, Yuli
