Nah itu dia Bung Patrick,

kita masih pake sampan. Dah gitu bocor sana sini lagi. Kita sama sekali
belum kuat. Kekuatannya tidak seimbang dibanding USS yang bisa bawa pesawat
dan bom kemana-mana.

Itulah, seperti kata Pak Manneke waktu awal-awal, globalisasi itu hanyalah
alat penindasan ketika kekuatan antar negara tidak seimbang. Sebagai proses
dia memang sudah berjalan tetapi bagaimana kita bisa mempengaruhi proses itu
supaya lebih adil, seperti yang didukung Mas Haniwar, a fair trade.

Seperti saat ini, WTO sebagai organisasi yang mengatur perdagangan sedang
mandek, karena negara-negara selatan bersikeras SP (special product) dan SSM
(Special Safeguard Mechanism) diberlakukan. Dilain pihak, negara-negara
besar menolak. Kenapa? Karena jika SP dan SSM diberlakukan, mereka tidak
dapat keuntungan lebih besar dari pasar tersebut.

Globalisasi saat ini bukanlah globalisasi yang positif, baik dll. Banyak
korban yang akan berjatuhan. Lihat saja industri keramik kita, rontok
mendadak ketika keramik Cina masuk. Padahal NAMA (Non Agricultural Market
Access) masih dalam perundingan.

Kalau kita berniat mengurangi kemiskinan, seperti kata Dian Sastro tentang
MDGs. Kenapa harus ada absolut winner and absolut looser? Yang winner
semakin kaya lalu yang looser, mati aja deh lu! Bayangkan jika kita yang
dalam posisi looser padahal sudah berjuang mati-matian untuk hidup. Sudah
saatnya dunia ini diwarnai dengan solidaritas sebagai manusia dan bukan
kompetitif semata.

 

Salam,

Tina



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke