Terimakasih bu Yuli,
Saya sangat setuju dengan pendapat ibu entah kenapa pada waktu menulis
comment dibawah saya sangat terobsesi dengan disiplin yang ditanamkan oleh ayah
saya almarhum sebagai salah seorang anggota TNI angkatan '45, jadi yang ada
terlintas dibenak saya adalah metoda disiplin seperti wamil tersebut.
Beliau berhasil menanamkan disiplin kepada putra-putrinya dengan baik
sehingga sangat jauh sekali dari memiliki perilaku-perilaku tak terpuji dan
beliau pun mengharuskan kami untuk mengikuti kepanduan serta memilih olehraga
yang disukai.
Alhamdulillah kami sembilan bersaudara kini relatif menjadi mahluk yang
relative memiliki disiplin cukup baik di masyarakat.
Salam,
csd
Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menurut pendapat saya, bahwa disiplin itu perlu, memang benar dan
harus apabila kedisiplinan tersebut memang akan dipakai untuk menjalankan
kehidupan sehari-hari dalam hal kesenjangan bermasyarakat, seperti disiplin
ber-"Good Governance"; Transparansi; mematuhi aturan-aturan berlalu lintas;
mematuhi aturan-aturan dalam menjaga lingkungan, dsb.
Maka menurut pendapat saya (walaupun agak sedikit OOT=Out Of the TOPIK); apakah
kedisiplinan ini tidak bisa dilakukan melalu Gerakan Pramuka? Baru-baru ini ada
berita (lupa kapan tanggal pemberitaan) bahwa ada kemungkinan JAMBORE tidak
bisa lagi dilaksanakan karena kekurangan Budget untuk menyelenggarakan-nya.
Apakah budget yang akan dipakai untuk WAJIB MILITER itu tidak bisa dipindahkan
ke Gerakan Pramuka?
Saya rasa didalam ke-Pramukaan itu diajarkan banyak sekali ke-Disiplinan;
ke-Mandirian, ke-Cerdasan berpikir, dll. Karena saya sendiri pernah ikut
JAMBORE.
Dan saya pikir dalam Parmuka diterapkan KETEGASAN, bukan KEKERASAN (dalam
pandangan saya - CMIIW-Correct Me If I am Wrong - ke Militeran itu agak-agak
menjurus ke -KEKERASAN); KEMANDIRIAN, bukan "KEMACOAN" (benar gak ya, kalau
udah bawa-bawa senjata kok jadi "Maco" tingkah lakunya?). Mudah-mudahan dalam
hal KECERDASAN akan sama ya, dalam Ke Pramukaan dan Ke Militeran?
Nah, sering saya lihat kok bapak-bapak MILITER ini yang sering menyalahi
peraturan, nyrobot "hard shoulder" di toll road; Menakut-nakut-i masyarakat
dengan alasan-alasan yang kadang-kadang tidak masuk akal.
Menaik-kan tarif SIM di kantor Kepolisian; mem-Backing pengusaha Illegal
Logging, dan masih banyak lagi hal-hal yang saya rasa bukan cara-cara
kedisiplinan yang diajarkan sewaktu mereka mereka ini menjalankan pelajaran
dinas Kemiliteran.
Jadi apa perlunya ya, "Wajib Militer" untuk 18 tahun keatas? Jika nantinya juga
tidak akan membantu terjadi-nya Good Governance; Transparansi; Berakal budi
dalam menuruti aturan berlalu lintas; Menjaga Lingkungan untuk kelangsungan
generasi mendatang?
Salam,
Yuli