http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/06/Politikhukum/3362666.htm
============================

Yogyakarta, Kompas - Demokrasi yang sedang berkembang di Indonesia 
bisa berkembang menjadi bencana. Politik menjadi mata pencaharian 
politisi. Meskipun ada politisi yang baik, mereka tenggelam oleh 
hiruk-pikuk politisi berwawasan pendek dan berhati sempit. 

Kritik terhadap politisi dan demokrasi di Indonesia itu disampaikan 
mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif dalam jumpa 
pers rencana pameran buku sejarah lima kota di Yogyakarta, Senin 
(5/3). Hadir juga sejarawan Anhar Gonggong. "Demokrasi di tangan 
orang yang tidak bertanggung jawab yang sempit hati dan sempit 
pikiran, demokrasi justru bisa menjadi bencana. Inilah yang 
sebenarnya dialami Indonesia sekarang ini," katanya. 

Ia juga menyesalkan sikap politisi nasional yang sekarang lebih 
cenderung berkonsentrasi dan berorientasi pada pemenangan pemilu 
partai masing-masing. "Pemilu dua tahun lagi. Semua politisi kini 
sudah pemilu saja pikirannya," tuturnya. 

Syafii mengatakan, Indonesia tidak akan bisa keluar dari berbagai 
persoalan dan krisis serta tinggal menuju kehancuran jika krisis 
kepribadian bangsa tidak mampu diatasi. Krisis kepribadian bangsa 
paling tampak pada pemimpin dengan indikator utama, perbuatan tidak 
bersahabat dengan kata. "Selama kurang lebih 62 tahun, Indonesia 
belum pernah memiliki kepemimpinan yang tepat pada saat yang tepat," 
katanya. 

Syafii Ma'arif mengungkapkan, persoalan bangsa sudah serius. 
Persoalan yang ada tidak bisa lagi dipecahkan melalui pemikiran 
sederhana sehingga perlu ada dialog dari berbagai elemen 
bangsa. "Kalau tidak, hati-hati. Bangsa ini akan masuk museum 
sejarah. Pemimpin sekarang belum tegas dan belum terang," ujarnya. 
(rwn) 



Kirim email ke