Saya setuju dengan bapak.saya baru sekitar 5 tahun lulus dari sma. saat itu sma saya termasuk salah satu yang memiliki nama dikota saya. namun seperti yang bapak katakan, sebagian besar guru2 kita memang tidak bisa mengajar. itupun yang saya alami. maksimal hanya 10% dari guru2 tersbut yang berkualitas. kalau memang mereka tidak berkualitas tapi masih memiliki keinginan untuk mengajar dengan sebaik2nya, hal tersebut masih lebih baik. Tapi kebanyakan guru yang ada hanya mengajar semau mereka bahkan ada saat itu guru PPKN yang tidak pernah mengajar, hanya menyuruh murid untuk mencatat di papan atau mengerjakan LKS, kalaupun menjelaskan paling hanya 5 menit dari 45 menit waktu yang ada. dan yang lebih parah guru tersebut selalu merokok ditengah pelajaran dan selalu bercerita hal2 yang dikategorikan sex, bukan sex yang berbau pendidikan yang saya maksudkan di sini. jadi.. apakah guru2 tersebut layak mengajar bahkan mendapatkan gaji yang tinggi??
Kind Regards, Jc ----- Original Message ----- From: satriadharma2002 To: [email protected] Sent: Tuesday, March 06, 2007 10:59 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re:Jam Kerja Guru Rata-rata 15,5 Jam Perhari Pak Manneke, Saya tidak habis-habisnya mengagumi kepandaian Anda mengolah kata- kata. :-) Sampai sekarang apa yang saya sampaikan itu masih tetap berlaku (guru PNS yang kerjanya seperti guru honorer) di hampir semua daerah yang pernah saya kunjungi di Indonesia (except Jembrana di Bali). Jadi kenapa Anda katakan bahwa saya 'menghakimi' para guru tersebut (plus luput dalam memahami kompleksitas hidup seorang guru, dan tetap saja membabi-buta dengan teori "full-time pay, part-time work, dll)? Saya bicara fakta, tapi Anda bicara tentang perasaan. :-( Saya jadi ingat pada satu ketika saya menyampaikan di seminar bahwa lebih dari 50% guru kita tidak layak mengajar dan ketika itu ada guru yang marah dan mengatakan bahwa saya tidak menghargai guru, tidak simpatik, tidak bisa merasakan betapa sulitnya kehidupan guru, dlsb. Saya betul-betul heran dengan tanggapan yang personal tersebut karena saya hanya menyampaikan statistik yang dilakukan oleh Depdiknas sendiri. Kenapa itu dihubungkan dengan masalah pribadi? Tapi setelah membaca tanggapan Pak Manneke yang begitu personal saya lalu sadar bahwa memang tidak mudah menyampaikan fakta. Selalu ada orang yang menanggapinya dengan personal.:-( Kalau hal begini saja selalu ditanggapi dengan begitu personal dan emosional saya jadi sedih. Kapan kita bisa bergerak untuk memikirkan solusinya? Kalau cuman bisa bilang tunggu kalau gaji guru sudah tinggi (as you suggested) saya akan sangat kecewa. Salam Satria
