Pilkada DKI 2007
Kalau Parpol Salah Pilih, Pemilih Salah Pilih Juga

http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=2608&c_id=6&g_id=17

: Pilkada Jakarta 2007 semestinya bisa dijadikan momentum untuk melakukan 
perubahan.Bukan sekadar mengganti orangnya, tapi juga merubah paradigma 
pembangunannya. Persoalannya, warga Jakarta besar kemungkinan akan salah pilih. 
Sebab, pilihan kandidat yang tersedia amat tergantung terhadap pilihan partai 
politik. Sayangnya, parpol diyakini bakal salah pilih karena masih besarnya 
kultur paternalistik dan orientasi pada uang.

Demikian benang merah dari diskusi bertajuk "Jangan Salah Pilih" yang 
diselenggarakan Jakarta Intelectual Youth Society di Jakarta Media Center, 
Senin (5/3) siang. 


Pengalaman banjir kemarin semestinya menyadarkan publik bahwa Jakarta mesti 
dikelola dengan cara yang sama sekali berbeda. Kebetulan atau tidak, banjir 
tahun ini juga terjadi menjelang pilkada. Hal serupa juga terjadi pada 2002. 
Ini seharusnya dijadikan momentum untuk melakukan perubahan."Banjir 2007 sama 
dengan 2002. Gubernurnya juga sama.Kini saatnya melakukan perubahan yang 
dibutuhkan kota ini, "ujar pengamat perkotaan, Marco Kusumawijaya.

Hal senada diungkap pembicara lainnya, Solahuddin Wahid. Menurut Gus Sholah, 
demikian ia biasa disapa, Jakarta semakin tidak nyaman. Yang lebih parah, 
proses pembangunan di ibukota semakin mengabaikan hak-hak dasar yang diatur 
konstitusi. "Maraknya penggusuran itu mengabaikan hak warga untuk memperoleh 
pekerjaan. Larangan memasuki ibukota itu juga melanggar pasa 28 ayat e," ujar 
Gus Sholah yang membacakan pasal-pasal itu dari nokia communicatornya. 

Karena itu, kita harus melakukan perubahan paradigma. Tak cukup hanya mengganti 
orang. "Kita butuh pemimpin yang melayani, mendengar dan memahami aspirasi 
rakyatnya bukannya memilih pemimpin yang mempermalukan dirinya sendiri," lanjut 
mantan anggota KomnasHAM ini.

Berdasarkan sebuah survei, kata Gus Sholah, yang dipentingkan pemilih itu figur 
yang jujur, melebihi lainnya. Menurut survei itu pula, lanjut mantan calon 
wapres ini, figur militer tidak lagi penting bagi warga Jakarta.

Ketika ditanya Wartawan saat hendak menaiki mobilnya, Gus sholah menyatakan, 
"Kalau yang saya tahu cocok dengan paradigma yang saya sebutkan tadi, ya 
Sarwono dan Faisal." Ketika ada wartawan yang mendesak untuk mengomentari figur 
militer, Gus Sholah berkata, "Kalau Bibit, gimana ya, ketika jawab pertanyaan 
banyak tidak tepatnya. Kalau Agum, saya belum pernah membaca wawancaranya."

Meski begitu, pengamat politik Sukardi Rinakit tak yakin kedua figur yang 
disebut Gus Sholah bakal dipilih partai."Saya yakin kita salah pilih. Soalnya, 
pilihan-pilihannya hanya buruk atau lebih buruk," ujarnya setengah tertawa.
Mengapa partai kemungkinan salah pilih? Menurut Direktur Eksekutif Soegeng 
Suryadi Syndicate ini, secara kultural partai masih paternalistik. Secara 
struktural, pengurus tingkat atas partai kurang mau mendengar suara jajaran di 
bawahnya. "ini bisa disebabkan masih kuatnya budaya paternalistik tadi, tapi 
bisa juga lantaran masih kuatnya daya tarik uang."

Secara lebih khusus, Sukardi juga meyakini Sarwono dan terlebih Faisal bakal 
sulit lolos menjadi kandidat partai politik. Pasalnya, partai politik 
membutuhkan calon yang bisa diatur."Saya pernah bicara dengan seorang petinggi 
partai, mereka tak tertarik dengan Faisal karena dinilai tak bisa diatur. 
Sarwono juga begitu,"jelasnya lagi. Padahal, imbuhnya,"Jakarta itu membutuhkan 
pemimpin yang tak bisa diatur-atur (elit partai) karena persoalan yang 
dihadapinya begitu kompleks."

Dalam diskusi itu, seorang penanya, Tulus Siregar meminta klarifikasi dari 
pembicara mengenai SMS yang diterimanya. Menurut dia, isi SMS itu 
menyebut-nyebut adanya tawar menawar seorang kandidat dengan sebuah partai 
politik besar. "Mulanya, 500 milyar. tapi akhirnya disepakati 100 milyar 
dimuka, dan sisanya, 200 milyar, setelah terpilih. Gimana menurut bapak-bapak?" 
tanyanya.

Gus Sholah mengaku juga menerima SMS serupa. tapi angkanya sedikit lebih 
rendah. Menurut dia, jumlah itu terlalu fantastis."Kalau sepersepuluhnya saya 
masih percaya,"ujarnya seraya menyebutkan selama proses pencalonan Rano Karno 
di PKB tak sekalipun di singgung-singgung mengenai hal itu. 

Sebaliknya, Sukardi menyatakan angka itu masih masuk hitungan. "Gini, APBD 
Jakarta kan mencapai 22 Trilyun. Jadi, kalau dibancak 100 milyar saja sih 
mungkin. Dalam lima tahun, kembali kan, ' paparnya. Ditambahkannya, "Saya 
yakin,kita bakal salah pilih. Saya sih harus tetap memilih agar punya hak untuk 
memprotes. Kalau golput, hak saya untuk protes kan hilang."*** 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke