Tulisan Ibu Reni Renata, Bapak Jhon Simon dan Bapak Sukiadi rasanya memang 
realistis, sehingga menarik perhatian saya untuk menambah tulisan perihal 
tersebut lebih sedikit. 
   
  Ya, sayapun sekarang ada di Malaysia sini. Bagi rekan-rekan yang berminat 
bekerja sebagai pensyarah (dosen) di Malaysia, sekarang banyak sekali
  kesempatan untuk "contract service" ataupun menjadi dosen tetap, khusus
  untuk bidang profesional akademik, dalam 2 tahun pertama sudah ditawarkan 
"permanent residence" dan 4 tahun lagi boleh mengusulkan menjadi warga negara 
Malaysia. Lamanya masa tinggal sebelumnya sebagai persyaratan pengusulan, 
bervariasi tergantung kebutuhan dan kebijakan tiap kerajaan, di kerajaan 
Terengganu, untuk tenaga profesional yang memiliki "degree PhD" dan sangat 
diperlukan hanya 6 tahun bahkan ada yang 4 tahun sudah ditawari bahkan diminta 
menjadi warga negara Malaysia dengan penuh penghargaan (ada elaun khusus) 
selain elaun kesehatan, rumah, kereta (mobil), kesehatan, pendidikan anak dan 
elaun khikmad awam. Untuk PhD dengan masa kerja 4 tahun dari universuiti di UK, 
German, Perancis, Eropa umumnya dan Timteng sebagian Commentwelth diberi "basic 
salary" pada gred DS45 P1-T20 (kira-kira RM 5800,-) ditambah dengan semua elaun 
tersebut serta dikurangi pajak dan asuransi jiwa hingga secara bersih per bulan 
dapat mencapai kira-kira RM 8000 - RM 9000 (Indonesia Rp. 20
 Juta - 22,5 Juta). 
   
  Jadi, dosen-dosen senior maupun yunior di Indonesia bagaimana tidak tergiur?. 
"Nasionalisme selalulah melekat di hati walau mengamalkan ilmu di negeri orang, 
mencari nafkah di bumi Allah dimanapun halal hukumnya" kata Prof. HM. Amin 
Rais, (lalu mengapa tidak ?),  toh,  juga masih tetap mempunyai ikatan bathin 
untuk membantu bangsa dan negeri NKRI kita yang terpuruk multidimensi dengan 
beramal di negeri jiran. 
   
  Raihlah kesempatan...yang langka untuk terulang ...
    
  Peluang untuk posisi untuk staff akademik sekarang sangat banyak, karena ada 
peningkatan taraf dari 10 Kolej Universiti (University College) yang tersebar 
di semua bagian kerajaan Malaysia menjadi Universiti Penuh, sehingga masih 
banyak lagi diperlukan PhD guna memenuhi persyaratan akreditasi ISO-9000, 
dimana disyaratkan ratio Graduate Student/PhD = 10 (1 orang PhD untuk 10 
pelajar sarjana/Master).
   
  Kepada rekan-rekan yang berminat menjadi pensyarah (dosen) di Malaysia sila 
search-engine di semua website kolej dan universiti baru tersebut, insyallah 
berjaya....
   
  Selamat mencoba........dan melamar ...............
   
  Wassalam,
  Nanok Kancono Warsito
  di; http://www.umt.edu.my/directory_academic_staff.php

--------------------------------------------------------------------------------
  reni renata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Yang saya amati, makin banyak pemuda-pemudi Indonesia yang mencari 
ilmu di LN dengan biaya sendiri atau beasiswa. Mereka kebanyakan gak 
tanggung-tanggung sampai doktor. Kemudian cari kerja di LN dengan gaji yang 
jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji di Indonesia. Di Malaysia., untuk 
lulusan doktor tidak susah cari kerja, banyak universitas yang masih baru 
bediri mau menerimanya. Standar di Malaysia untuk doktor yang baru lulus RM 
6.000 (16 juta rupiyah) senulan. + tunjangan. Jadi, ada kemungkinan satu saat 
nanti Indonesia dapat mengespor tenaga kerja intelektual yang paling besar di 
Asia.
Mudah-mudahan bukan TKPRT (Tenaga kerja pembantu rumah tangga) lagi yang 
diekspor.

Salam
Mahreni

Kirim email ke