Belanda Depok itu semuanya item dan inlander. Nggak ada yang bule. Dulu mereka budak yang bekerja di perkebunan Belanda. Lalu mereka dikasih tanah, dengan syarat mau masuk Kristen dan janji tak akan menjual tanah itu. Setelah Belanda hengkang, banyak Belanda Depok yang menjual tanahnya. Kini, masih ada sejumlah keluarga Belanda depok (kebanyakan orang Ambon dan Manado) di Depok II, Depok Lama, dan Depok Timur. manneke
chairil sanie djailany <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya jadi teringat dengan para saudara kita yang berada di depok jawabarat, mereka lebih dikenal sebagai belanda-depok. Sampai saat ini kisah-kisah tentang mereka yang saya dengar baik-baik saja tidak ribut soal kewargaan negara. Yang terjadi sekarang sebenarnya karena faktor infomedia saja yang berisikan para pesohor yang hobi banget kawin silang he....he....he.....demi entah apa itu namanya (bibit-bebet-bobot?) atau perbaikan keturunan atau perbaikan gen atau perbaikan apa ya???????. Yang terbaik menurut saya terima konsekwensi atas apa yang kita lakukan terhadap peraturan yang ada, bukannya apa yang kita lakukan harus diikuti dengan konsekwensi aturan harus menyesuaikan kepada kondisi dan keinginan kita. Salam, csd
