Wah kalau mengacu pada Formula 2-1-2 tersebut, berarti saat ini kita telah 
memasuki angka 1 dimana akan segera memasuki masa 2 tahun yang terakhir dimana 
konsentrasi pemerintah telah terpecah antara menjalankan pemerintahan dengan 
memenangkan partai atau dirinya di pemilu mendatang.
   
  dengan demikian berarti angka 1 tersebut adalah tahun 2007, marilah kita 
lihat apakah formula tersebut benar.... bahwa pada 1 tahun inilah Pemerintah 
-mudah mudahan- bisa efektif dalam melakukan pekerjaan... lantas kira-kira akan 
terjadi resufle atau tidak ya???? 
  Mudah-mudahan angka 2 yang terakhir dalam formula tersebut tidak terwujud, 
sehingga pemerintah tetap konsentrasi pada tugasnya..... 
  Saya berharap para pejabat yang duduk saat ini percaya bahwa Rakyat sudah 
bisa memilih orang yang bekerja dengan baik daripada yang hanya bisa 
ngomong.... di pemilu mendatang... 
   
   
   
  

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Oleh EEP SAEFULLOH FATAH 
Pengajar Ilmu Politik di Universitas Indonesia 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/06/utama/3362973.htm
============================

Dalam silaturahmi nasional anggota legislatif Partai Demokrat se-
Indonesia di Jakarta, Jusuf Kalla membuat catatan tak biasa. Ia 
mengingatkan Presiden Yudhoyono mewujudkan janjinya jika ingin 
kembali dipilih dalam Pemilu 2009. 

Sebagai pejabat yang sedang memerintah, menurut Kalla, tak ada 
pilihan lain bagi Yudhoyono selain membuktikan bahwa ia "telah 
melakukan" berbagai hal, bukan lagi sekadar membeberkan "apa yang 
akan dilakukan". Bahkan Kalla menegaskan, jika tidak, "Habislah SBY. 
Setelah itu, habis juga Partai Demokrat. Jadi akan sama-sama habis. 
Supaya sama-sama tidak habis, harus diwujudkan semua janji agar ada 
kata 'telah'." (Kompas, 4/3/2007). 

Kalla menegaskan kebersamaan Golkar dan Yudhoyono (serta Partai 
Demokrat) dalam pemerintahan tidak mesti menutup kemungkinan bagi 
dirinya dan Golkar untuk mengkritik. 

Bagaimanakah selayaknya kita memahami peringatan Kalla itu? Meminjam 
Tajuk Rencana Kompas, "sinyal politik" apa yang terkirim melalui 
pernyataan itu? 

Persoalan Pelik Kohabitasi 

Peringatan Kalla tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari 
satu rangkaian adegan yang tergelar sejak Yudhoyono-Kalla 
memenangkan pemilu Presiden langsung. Keseluruhan adegan ini bisa 
kita beri nama "kohabitasi ala Indonesia." 

Kohabitasi biasanya ditemukan dalam praktik semi-presidensialisme 
semacam di Perancis atau Finlandia. Kohabitasi terjadi manakala 
Presiden (yang memiliki legitimasi kuat karena dipilih langsung 
melalui pemilu) dan Perdana Menteri (yang mengelola pemerintahan 
sehari-hari berdasarkan mandat yang diterima via pemilu legislatif) 
berasal dari dua partai berbeda. Kedua pemimpin harus saling 
menyesuaikan diri dan orientasi mereka untuk membuat sistem politik 
bekerja secara layak. Kohabitasi mesti dijalani sekaligus disiasati. 

Di Indonesia, kohabitasi tak terjadi dalam hubungan kepala negara 
vis a vis kepala pemerintahan semacam itu. Kohabitasi Indonesia 
terjadi dalam konteks perbedaan asal dan postur partai Presiden dan 
Wapres, sebagaimana terjadi dalam kasus Yudhoyono dan Kalla. Dalam 
keadaan ini, terbangun hubungan segiempat: Yudhoyono-Partai Demokrat-
Kalla-Partai Golkar. 

Dalam satu termin pemerintahan, kohabitasi ala Indonesia akan 
menjalani setidaknya tiga fase hubungan: konsolidasi di awal 
pemerintahan, pemantapan selepas konsolidasi, dan dinamikasi dan 
kenaikan ketegangan di akhir masa pemerintahan ketika pemilu berikut 
mesti dijelang. 

Sudah lebih dari dua tahun waktu dihabiskan Yudhoyono-Kalla 
mengkonsolidasikan diri. Semestinya, di tahun ini, hubungan keduanya 
beranjak ke fase pemantapan yang diisi kerja lebih produktif dan 
efektif. Dalam kaitan ini, sudah sewajarnya jika kedua pemimpin 
saling mengingatkan, masa pelipatgandaan kerja sudah selayaknya 
dimulai. 

Kalla menyadari soal itu. Sebetulnya, di akhir tahun lalu, Yudhoyono 
sudah membuat pernyataan dengan bobot serupa. Tetapi, waktu 
sesungguhnya tak terlalu berpihak pada mereka. Sebab, waktu yang 
tersedia untuk meningkatkan produktivitas dan efektivitas 
pemerintahan itu tak lagi panjang dan lapang. 

Dua tahun yang terbentang di depan (2008-2009), bukanlah masa yang 
bersahabat bagi Yudhoyono-Kalla. Di masa ini, politik kita sudah 
diharu biru oleh arus mudik politisi ke haribaan partai masing-
masing. Tanpa kecuali, semua partai (termasuk Partai Demokrat dan 
Partai Golkar) akan memusatkan energi dan kerja pada pemilu 2009. 

Itulah masa di mana kohabitasi Yudhoyono-Kalla akan menghadapi 
tantangan dan ancaman terberat. Keduanya akan bekerja dan 
berkeliling Indonesia bukan lagi sekadar dalam jabatan formal mereka 
sebagai presiden dan wapres tetapi juga sebagai Ketua Dewan Pembina 
Partai Demokrat dan Ketua Umum Partai Golkar. 

Pada titik inilah kita bertemu dengan persoalan krusial kohabitasi 
ala Indonesia. Kohabitasi justru akan dirundung masalah pelik pada 
saat dituntut untuk bisa bekerja paling efektif. Ini ujian terbesar 
bagi kelayakan Yudhoyono-Kalla. 

Menyiasati "Formula 2-1-2" 

Paparan di atas menggarisbawahi betapa pemerintahan Yudhoyono-Kalla 
akhirnya mesti bekerja dalam "formula 2-1-2" yang berbahaya. Masa 
dua tahun pertama dihabiskan untuk mengkonsolidasikan pemerintahan. 
Lalu, dua tahun di akhir pemerintahan harus direlakan sebagai ajang 
dinamisasi politik menjelang pemilu. Dalam dua tahun ini, 
konsentrasi pejabat publik akan terpecah pada urusan pemerintahan 
dan pemenangan kembali partai dan atau dirinya. Praktis hanya ada 
satu tahun, yang terjepit di antara dua tahun di awal dan di akhir, 
yang bisa digunakan pemerintah untuk bekerja. 

Dalam konteks itu, salah satu tantangan terbesar pemerintahan 
Yudhoyono-Kalla saat ini, adalah menyiasati "formula 2-1-2" itu dan 
keluar dari jebakannya. Setelah melakukan konsolidasi yang berlarut-
larut, semestinya pemerintah melipatgandakan upaya dan 
memobilisasikan semua sumber daya untuk membuktikan bahwa mereka tak 
hanya pandai memberi janji. 

Tak ada pilihan lain selain memanfaatkan sebaik mungkin tahun 2007 
yang penuh keleluasaan untuk menambah panjang daftar kata "telah" 
untuk menggantikan kata "akan" yang sudah banyak bertebaran. Di dua 
tahun depan, Yudhoyono-Kalla dituntut mampu keluar dari dilema: 
mengelola pemerintahan secara efektif dan membesarkan postur diri 
dan partai masing-masing. 

Maka, peringatan Kalla Sabtu lalu adalah khotbah yang tepat waktu 
dan tepat sasaran. Tetapi, "khotbah Sabtu" ini sesungguhnya bukan 
hanya tertuju ke Yudhoyono, melainkan juga terarah ke alamat sang 
pengkhotbah. 



         

 
---------------------------------
The fish are biting.
 Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke