http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/07/opini/3364463.htm
=======================

Perasaan seperti itu tidak mungkin kita hindari. Sepertinya bencana 
alam tidak henti-hentinya menimpa kita. Kesedihan sepertinya semakin 
panjang kita rasakan. 

Tidak usah heran apabila suasana batin seperti itu memengaruhi putra-
putri kita tercinta. Kita lihat betapa terpukulnya para murid 
sekolah dasar di Padang ketika gempa besar kemarin menggoyang 
sekolah mereka. Mereka berhamburan ke luar kelas dan kemudian 
berkumpul di lapangan terbuka. Mereka menangis tersedu-sedu karena 
tidak tahu lalu harus berbuat apa. 

Bukan hanya anak-anak sekolah, orang dewasa pun diliputi ketakutan. 
Kegalauan dirasakan semua orang karena tiba-tiba mereka pasti 
teringat akan keluarganya yang jauh dari sisi mereka. 

Trauma akan bencana besar yang bisa menghancurkan kebahagiaan 
keluarga tidaklah bisa dihindari. Dari berbagai tayangan televisi, 
informasi surat kabar dan majalah, mereka tahu betapa gempa bumi 
bisa membawa dampak kerusakan yang luar biasa. 

Pemahaman seperti itu sebenarnya baik untuk membuat kita semakin 
mengerti bahwa kita memang hidup di Bumi yang tidak stabil. Sebagai 
negara yang terletak di "Lingkaran Api" (Ring of Fire), tidak bisa 
dihindari bahwa setiap kali ancaman seperti itu harus dihadapi. 

Dari sana kemudian kita bisa bangun kemampuan untuk melakukan 
mitigasi dan sikap waspada (alert) ketika ancaman seperti itu 
terjadi. Sekali lagi, ancaman gempa bumi akan bisa terjadi setiap 
saat sepanjang pergerakan lempeng Bumi belum berhenti. Kita tidak 
mungkin bisa menghentikan fenomena alam tersebut. Yang bisa kita 
lakukan adalah bagaimana membuat kerusakan dan kerugiannya seminimal 
mungkin. 

Inilah tantangan yang kita hadapi. Setiap kali bencana alam terjadi, 
jumlah warga yang menjadi korban selalu besar. Di Manggarai, Nusa 
Tenggara Timur, ratusan orang meninggal akibat longsor. Gempa bumi 
di Sumatera Barat sedikitnya meminta 59 orang tewas. 

Yang membuat keadaan terasa ironis, kemampuan kita untuk membantu 
mereka yang menjadi korban sangatlah terbatas. Kita sering 
dihadapkan pada kondisi tidak tersedianya cukup peralatan untuk 
membantu mereka yang menjadi korban bencana alam. 

Semakin terasa betapa tidak berdayanya kita. Tetapi di sisi lain 
juga membangkitkan kesadaran betapa luasnya negeri kepulauan kita 
ini. Begitu luasnya sehingga tidak mudah bagi kita untuk setiap kali 
melakukan operasi untuk menyelamatkan mereka yang menjadi korban. 

Sebagai bangsa yang senasib dan sepenanggungan, berbagai bencana 
yang sepertinya tidak henti mengejar kita ini seharusnya segera 
menggugah kesadaran kita untuk semakin peduli terhadap sesama dan 
terhadap bangsa maupun negara. Kita harus semakin kukuh, bukan 
sebaliknya, justru tercerai-berai. 

Perasaan kita sekarang ini semakin tertekan karena sepertinya di 
tengah berbagai bencana yang terus terjadi, kita justru semakin 
cair. Rasa nasionalisme semakin memudar ketika kekuasaan selalu 
menjadi tujuan. Tidaklah mungkin bisa menghadapi bencana kalau kita 
tidak semakin solid sebagai sebuah bangsa besar. 



Kirim email ke