Mengenai pejabat yang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa asing dalam berkomunikasi dengan tamu asing, itu akibat tidak tepat dalam menginterpetasikan nasionalisme. Bahasa Inggris sudah diakui sebagai bahasa pengantar INTERNASIONAL sedangkan bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar NASIONAL. Kalau seseorang warga Indonesia keberatan diajak bicara dalam bahasa asing oleh sesama teman yang juga warga Indonesia maka itu wajar karena mereka satu bangsa (nation) yang telah terikat dengan bahasa kebangsaan (bahasa nasional). tetapi ketika seseorang bicara dengan bangsa asing maka medannya sudah berubah menjadi medan komunikasi "antar-bangsa" atau Inter-national. Jadi kenapa harus mengadu-dombakan bahasa nasional dengan bahasa internasional kalau arena pembicaraannya betul?
Kecuali mereka yang tidak pernah mengakui bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional maka wajarlah kalau ada keberatan menggunakan bahasa Inggris di forum Internasional. Tapi setahu saya Indonesia memang secara formal telah mengakui Bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, oleh sebab itu ranculah pemikirannya jika ada pejabat merasa bersalah atau dipersalahkan (tidak nasionalis) karena bicara dalam bahasa Inggris dengan tamu asingnya yang tidak paham bahasa Indonesia tapi paham Inggris. Yang lebih lucu lagi kalau presiden/ pejabat kita itu cukup mahir dalam berbahasa Inggris kenapa harus menyewa penterjemah yang mungkin saja akibatnya pesan yang diterjemaahkan itu jadi tidak seratus persen kena sesuai dengan maksud yang dikehendaki? Kecuali tidak cukup merasa mahir, adalah ada keutamaan yang tidak bisa di wakilkan kepada penterjemah jika seorang pejabat/ wakil rakyat Indonesia bisa bicara dipentas Internasional dengan kandungan materi, bahasa dan gaya yang bisa diterima dan memukau lawan bicaranya. Harus diingat meskipun mungkin artinya sama, sebuah pesan yang diterjemahkan orang lain tetap akan mengandung distorsi, paling tidak seorang penterjemah tidak akan bisa mewakili gaya bahasa dan emosi si pembicara. Coba saja bayangkan bila anda mengemukakan protes kepada tamu asing melalui perantaraan penterjemah dalam sebuah perundingan. Pesan emosinya tidak akan setepat kalau marah dengan bahasa yang bisa dipahami lawan bicara. Bukankah pesan diplomatik pun akan lebih suskses jika para diplomat/ wakil negara ini bisa menyampaikannya dengan pendekatan dan dalam gaya bahasa yang tepat? Justeru disinilah pentingnya putera-putera bangsa menguasai berbagai bahasa asing untuk bisa secara pas mengkomunikasikan pesan nasionalnya kepada dunia luar. Kesulitan berkomunikasi atau menyepelekan kemahiran berkomunikasi di arena Internasional akan menjadi salah satu ganjalan menuju sukses di panggung Internasional. Asalkan jelas tetap dipegang aturannya dimana kita harus bicara bahasa asing dan dimana harus bicara dengan bahasa Indonesia maka tidak harus ada bentrokan tetang penggunaan bahasa. Sebab isu ini sudah tidak relevan dengan isu tantangan global. SH On 3/6/07, Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > saya bangga jika para pemimpin kita fasih berbahasa asing, karena ini > sangat diperlukan dalam pergaulan di pentas dunia, karena bagaimanapun > sekarang ini mau tidak mau bahwa bahasa inggris sangat diperlukan dalam > bisnis maupun karir, bahkan sekarang ini bahasa mandarin, lihat saja > iklan-iklan lowongan kerja hampir 90 % menggunakan bahasa asing, saya pun > bisa berkarir cukup baik di perusahaan asing karena saya bisa berbahasa > inggris, walaupun saya berbahasa indonesia bahkan bahasa sunda. > > menyoal orang perancis memang sudah dari sononya enggan menggunakan bahasa > inggris, mungkin karena sejarah masa lalu dimana perancis dan inggris > berkali-kali berperang dan bermusuhan, orang perancis bangga pada bahasanya > sendiri, pengalaman saya bekerja diperusahaan perancis, banyak diantara > expatriatnya enggan berbahasa inggris walaupun bisa berbahasa inggris, > sehingga kita para karyawannya dianjurkan untuk kursus bahasa perancis > walaupun secara formal seluruh korespondensi formal perusahaan ditulis dalam > bahasa inggris. > > menyoal keindonesian kita ? negeri yang carut marut dengan berbagai macam > persoalan yang melilit, budaya yang cenderung semakin semau gw, dan mudah > menyalahkan orang lain namun juga mudah melupakan dan memaafkan (permisif), > mikul duwur mendem jero, korupsi dianggap biasa, pejabat kayaraya dianggap > lumrah. > kita yang memiliki bahasa indonesia tetap saja tidak mau rukun, poso, > ambon, bahkan dulu sampit. > > kalau ingin menjadi bangsa yang dihargai dunia dan bangsa lain jadilah > bangsa yang menguasai IPTEK, lihat saja Jepang dan Korea, mereka bangga > menggunakan bahasanya sendiri, itu akan anda alami sendiri begitu anda > menjejakan kaki di bumi jepang dan korea, bagaimana anda bisa-bisa nyaris > frustasi membaca huruf kanji dimana-mana, mereka tidak perduli, mereka > berani bilang "this is my country", > kita ? iptek cuman jadi bahan kajian di universitas dan penelitian, bikin > mesin mobil saja belum bisa, semuanya made in jepang, made in korea, bahkan > korek api saja made in china. Lantas bagaimana anda bisa membanggakan bahasa > indonesia di pentas dunia ???? > jangan lupa kita masih termasuk negeri terkorup didunia...... > > salam > iwan > > >
