Darsono Supardi wrote:

** Tapi, comment saya.... kok nggak dulu ya mang Iyus waktu bergaul sama 
temen2-nya yang penyelundup itu, terus tembak saja temen2-nya yang 
memilih jadi penyelundup, biar hal2 yang bobrok itu makin berkembang 
kayak saat ini (ini saya sampaikan, kan mungkin juga para Komandan Kapal 
mikir kayak mang Iyus saat itu, wah mungkin orang-2 ini masih bisa 
diajarin untuk Patuh Hukum... wong buktinya mereka masih mau menyerahkan 
diri).

MI:

Nyuwun ngapunten Pakde, waktu itu saya baru anak ingusan di SMP. Mereka 
jadi penyelundup karena melarat Pakde dan tidak punya kepintaran apa-apa 
(gak sekolah, karena gak mampu bayar) untuk dapat bekerja di BTW; 
lowongan kerja lain tak ada (makanya banyak yang merantau). Maka 
paradigma berpikir mereka (dan saya juga) waktu itu (1957-an) ya level 
anak belasan tahun dan bukan paradigma berpikir mantan marinir pada saat 
kini (2007-an) dong !

Lolos nyelundup sekali mereka bisa pulang bawa kain khaki, tetoron dan 
radio Phillips satu band dan bisa jual tampang kepada anak-anak dara 
kampung yang malele bo terkagum-kagum... Kalau yang ketangkep singkat 
cerita ya masuk bui. Pola pikir mereka naif dan sederhana sekali (buat 
ukuran kita sekarang di tahun 2007). Jadi anarkronis tentunya cara pikir 
kita kalau begitu; gak gathuk mensejajarkan kejadian di masa itu dengan 
pola pikir sekarang dengan ‘modus operandi’ dan ‘skala penyelundupan’ 
zaman sekarang yang begitu luar biasa besarnya. Dulu pakai perahu 
Madura, kini pakai pontoon dan armada kapal tongkang.

Juga penyelundup zaman sekarang modalnya milyaran/trilyunan dan 
deckingnya kuat, baik di dalam maupun di luar negeri (penadah). Masakan 
rakyat sipil model saya yang harus main spion-spionan buat tunjuk hidung 
oknum mana saja yang jadi decking supaya dapat dipakai jadi bukti dan 
buat ditemenin Pakde menghadap instansi terkait. Paradigmanya mirip 
MenAg pekan lalu yang menyergah mahasiswa Kalbar: “Buktikan saya 
korupsi... buktikan!” Kalau tidak - itu fitnah namanya. “Saya tidak mau 
salaman” (dengan tukang fitnah). Mahasiswa kok disuruh membuktikan....!

Ya, ampun Pakde, boro-borolah... Mahasiswa itu bonek, modalnya cuma 
semangat. Lha aparat hukum yang punya segala jaringan dan 
perlengkapannya saja kagak (terbukti) mampu membuktikan fakta 50 tahun 
penyelundupan (mungkin tidak mau, atau tidak berani?). Mahasiswa hanya 
meneriakkan jeritan hati rakyat... bukan intel... begitu pula saya! 
Apakah lalu artinya kita akan kembali ke zaman saat suara orang kecil 
kudu dibungkam rezim penguasa? Dan kalau ngomong harus punya bukti 
otentik dahulu baru boleh ngomong... ? Lha Yusril vs Ruki juga cuma 
"dianggap gojekan... korupsi/smokel itu emangnya guyonan?

Sejarah penyelundupan sudah setua usia Republik ini, sampai kapan 
diharapkan para penyelundup itu bakal taubat dan “diharapkan” patuh 
hukum? Gak bakalan! Menyerahkan diri gak jaminan adanya kesadaran... 
mereka takut apa? Sebentar lagi publik juga sudah lupa... dan diam-diam 
mereka bakal ditebus juga oleh sponsornya.

DS:

** Semoga jalan kebajikan masih dapat kita utamakan, dan jangan punya 
pikiran bahwa para Prajurit kita tidak memiliki lagi semangat membela 
Negeri Tercinta ini, saya yang sudah tua renta ini (Purnawirawan lah), 
akan tetap bersedia untuk membela tanah air kita ini sampai titik darah 
penghabisan.

MI:

Saya tidak sedang membuat "generalisasi" dan tidak punya pikiran negatif 
(tsuudzon) seperti itu. Saya haqqul yakin Pakde Darsono dan begitu 
banyak anggota lainnya adalah prajurit/ marinir sejati dan cinta bangsa 
dan rakyat. Namun tetap saja selalu ada manusia-manusia serakah (sipil 
ataupun bukan) yang tidak cinta kepada bangsa dan negaranya. Buktinya 
ada saja kelompok manusia yang rela menjual pasir (=tanah air) untuk 
memperluas garis pantai negeri orang lain (dengan harga obral lagi) 
dengan cara menggerogoti pulau sendiri sampai bopeng-bopeng dan ada yang 
sudah tenggelam pula...

Sekali lagi, akhirnya, saya tekankan bahwa saya cuma urun rembug supaya 
“kapal dan muatannya” ditenggelamkan saja. Tetapi manusianya “dihukum 
berat menurut aturan yang berlaku”. Tak ada tulisan saya yang 
menyarankan supaya menembak mati semua orang-orangnya... Mohon sekali 
supaya tulisan saya mbok yao tidak dipelintir...


Salute for Old Soldier Pakde Darsono,

Mang Iyus
(tua sudah, renta belum)



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/lOt0.A/hOaOAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

=====================================================
Pojok Milis FPK:

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke