Oleh sebab itu, mari kita saling menghargai pengalaman kita masing-masing tanpa 
harus saling menyalahkan, apalagi menganggap orang lain virus. Kalo begini kan 
hidup jadi damai.
   
  salam
   
  raja 

Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ya, dan setelah kawin, all hells break loose :))

Saya sih waktu pacaran justru manut terus sama kemauan pacar saya. mau ke 
restoran yang saya paling sebelin pun oke. Mau ke pasar subuh-subuh sambil 
becek-becek pun jadi. Mau diajak nognrong semalem suntuk nonton vcd opera sabun 
Korea yang 30 jilid, ya monggo. Bahan nggak pake protes. Apa yang dia suka, 
saya belajar untuk suka juga. Jadi, pengalaman kita beda. Buat saya, ternyata 
lebih nikmat pacaran di bawah naungan matriarki.

Setelah kawin? Dari orang yang gak becus masak dan cuma bisa makan doang, 
sekarang saya jadi doyan masak. Saya juga masih demen dampingin istri 
bercucuran air mata nonton drama Korea yang audzubillah sedihnya itu (dari pada 
nonton bola, yang bawaannya mau emosi mulu). ke pasar pun ternyata jadi 
keasyikan sendiri, ketemu sama orang-orang yang tak selau bisa saya temui dalam 
hidup "normal" saya. 

Nggak kebayang seandainya pacar dulu (sekarang istri) nyerah saja membiarkan 
saya yang mikir segalanya dan mengerjakan semuanya. Pasti sekarang udah 
meringkuk di lubang kubur karena kena stroke. Viva feminisme!

manneke

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbak/Mas,

Pengalaman saya pacaran duluuuu, cewe itu paling kesal kalau dia 
ditanya malam ini mau nge-date kemana. Maunya kita yang laki-laki ini 
yang pegang kemudi, bikin rencana mau makan malam ke mana dan naik 
apa, dia tinggal ngikut atau protes (kalau tidak suka)...Tapi dengan 
begitu kok ya semuanya jadi harmonis dan lancar begitu. Mungkin 
pacaran tuh lebih enak pakai konstruksi sosial yang patriarkis ya?

Andi



         

                
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke