Dear Bung Fadjar
Secara pribadi saya juga menghargai pendapat saudara ditinjau dari sudut
pandang/perspektif lain. Jika anda meneliti lebih dalam akan makna yang
tersirat/tersurat dalam tulisan saya sebelumnya, anda akan menemukan bahwa pada
intinya adalah sama namun saya lebih cenderung melihat suatu masalah dari BIG
PICTURE and then down to SMALL PICTURE....So? tidak ada kata berfikir sempit
dalam hal ini..........................
Perlu anda ketahui bahwa saya bukanlah POLITIKUS, PENGAMAT atau orang yang
berkecimpung dalam "Grey Area". Background saya adalah ekonomi bisnis dengan
berbagai sources and global networking dalam dunia keuangan dan investasi
internasional, jadi jika anda menunjuk istilah "JARGON2
POLITIK"/"ULTRANASIONALIS,DLL bagi saya itu tidak ada artinya....Jangan
terjebak dalam permainan kata-kata yang hipotetis.
Sebagai pelaku yang bergerak dalam dunia keuangan khususnya investasi yang
sangat dinamis, saya sangat paham, sadar dan mengerti akan arti perubahan.
Suatu perubahan yang terjadi secara normal dan/atau abnormal dapat memberikan
side effect, baik positif maupun negatif!!!!! Jadi saya bukanlah penentang
paham demokrasi dan perubahan! Sebagai mantan praktisi bela diri eksternal dan
internal, kita dituntuk untuk fleksibel seperti "AIR" dalam mengantisipasi
setiap PERUBAHAN. Dalam perspektif PERUBAHAN ditinjau dari topik pembicaraan
ini, bagi saya SANGAT JELAS SEKALI.....Jangan melihat suatu masalah secara
SEMPIT dan LUGU, banyak sekali hal-hal yang harus dilihat dari suatu PERUBAHAN
khususnya : AWAL (Apa/Siapa/Motif) dan AKHIR (Efek/Dampak).
Ingat, TIDAK ADA SATU SISTEM APAPUN (DEMOKRASI/KOMUNIS/SOSIALIS..DLL) DAN
DIMANAPUN YANG AKAN MENJAMIN NEGARA MAKMUR SENTOSA SEPERTI DALAM DUNIA
DONGENG...............................Semua mempunyai nilai positif dan negatif
sendiri tergantung situasi dan kondisi yang terjadi........
Untuk mengakhiri pembicaraan yang tak ada ujungnya ini, berikut saya akan
memberikan opini :
Saya kira, kita harus melihat sesuatu dari faktor
obyektif dan subyektif atas suatu masalah. Dalam
konteks China, ada faktor obyektif masih terjadinya
pelanggaran HAM terhadap kebebasan berkeyakinan dan
berorganisasi, bahkan penyiksaan dan pembunuhan thp
kelompok yang berbeda. Faktor subyektifnya adalah
keinginan rakyat, terutama korban (Penganut Kristen
Katolik, muslim Uighur, kaum tibetan dan pengikut
Falun Gong), atas perubahan politik yang lebih plural
dan demokratis. Bahwa ada faktor luar yakni tekanan
dunia internasional, supaya China memberi kebebasan
berkeyakinan kepada rakyatnya, itu adalah hal yg
wajar.
: dunia internasional yang mana? Amerika dengan LABEL "POLISI DUNIA"???????
Inggris? Sekutu Setia AS? Bagaimana tanggung jawab HAM dari negara2 SUPER POWER
tersebut terhadap kasus INVASI AS ke IRAK? Bisa anda bayangkan berapa besar
pelanggaran HAM yang terjadi? Apa MOTIF SESUNGGUHNYA? SANGAT JELAS SEKALI :
MINYAK...MINYAK DAN MINYAK.....Dasar penyerangan IRAK adalah SENJATA PEMUSNAH
MASSAL YANG BERBAHAYA BAGI UMAT MANUSIA....WHAT A BIG HERO!!!!! Berapa banyak
manusia yang mati sia2? wanita dan anak2 yang menjadi janda dan korban
pelacuran, dll..........MANA HAM????? Belum termasuk kasus2 lain...jangan
melihat suatu case dari sudut sempit.
Kebebasan yang bagaimana? Jepang, terlalu bebas dalam berbagai hal,
akibatnya? salah satu negara yang produktif dalam pornografi dan dll (sensor).
Korea Selatan? trend yang sama juga terjadi...tidak percaya, silahkan
survey...........China? 1 Milyar penduduk!!!!! Jika diberikan kebebasan2 yang
sebebas-bebasnya, anda bayangkan sendiri saja....Tanpa bermaksud merendahkan
para korban di Aceh, Poso, Maluku dll, untuk menangani konflik di daerah dengan
skala Indonesia saja membutuhkan ENERGI, COST and TIME yang sangat besar dan
bertahun-tahun, bayangkan jika hal yang sama terjadi di China, negara ketiga
terluas di dunia..............Tibet? lebih baik anda baca dulu sejarah
kekaisaran China terkait dengan status dan hubungannya..Tanpa bermaksud
merendahkan keinginan kemerdekaan Tibet, bayangkan saja dengan TIMOR-TIMOR yang
lepas dari Indonesia.............
Anda juga menyinggung soal Falun Gong yang menurut
Anda, ajarannya menyimpang. Ini juga saya anggap Anda
sudah terpengaruh oleh proganda penguasa China selama
ini yang selalu mendiskriditkan komunitas itu. Saya
kira rakyat China pun belum tentu menilai Falun Gong
seperti itu, karena ada sekitar 100 juta orang di sana
yang mengikuti latihan olah jiwa dan raga ini, serta
sudah merasakan sendiri manfaatnya dari segi kesehatan
dan spiritual. Banyak juga masyarakat kita yang
berlatih Falun Gong dan mendapatkan manfaatkannya.
Jadi stigma sesat itu diberikan oleh penguasa China
(dalam hal ini PKC), bukan rakyat Tiongkok.
: Falun Gong? anda sudah baca literaturnya secara utuh dan komplit? apakah anda
pernah terjun langsung?
China pasca kekacauan, muncul organisasi besar bernama TERATAI PUTIH (WHITE
LOTUS) dengan embel2 agama dan kesehatan namun sangat sesat! Banyak sekali
sepak terjangnya baik halus maupun kasar dan pada akhirnya juga menjadi ALIRAN
TERLARANG. Di Indonesia, aliran ini diidentifikasi telah menyusup dengan label2
"I KUAN TAO" atau aliran yang mengaitkan diri dengan salah satu sekte Budha
tertentu. Lagi-lagi mereka memakai embel2 agama dan kesehatan, secara umum,
ajarannya OK tapi MOTIFnya SANGAT MENYESATKAN!!!!! So? coba anda teliti lagi
Organisasi serupa Falun Gong sangat banyak dan ribuan di China, jika Falun Gong
benar2 memfokuskan diri pada unsur spiritual dan kesehatan, tidak mungkin
organisasi tersebut dilarang terlebih-lebih hanya alasan "saingan
PKC"..................................
Apakah kalau pimpinan dan penganut Katolik di China
dilarang menjalankan aktivitas keagamaannya, lantas
kita juga akan melarangnya? Kita jg akan mengecap
mereka sebagai "antek Vatikan" atau Barat? Juga
anti-revolusi?
: Sebaiknya anda baca lagi sejarah China terkait sebelum masa pengepungan 8
negara Eropa terhadap China, perang candu, pemberontakan BOXER dan
sesudahnya..Kita semua mengetahui bahwa ajaran Katolik sangat bagus dan relatif
murni, namun OKNUM2-nya yang merusak dan memberikan bad
image........................................................
Sekali lagi, saya ingin mengajak Anda untuk memahami
masalah ini secara obyektif, meski memang kebenaran
itu relatif. Minimal kita bisa melihat suatu masalah
berdasarkan hati nurani. Saya kira kita dibekali oleh
Tuhan untuk bisa membedakan, mana yang baik dan yang
tidak baik. Baik menurut kita sebagai manusia yang
beradab, dan baik menurut agama atau kepercayan yang
kita yakini.
: Sama-sama..................................................
Salam damai
HB
fadjar pratikto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Hendra Bujang,
Saya menghargai pendapat Anda, meskipun saya tidak
setuju cara pandang yang terlalu mencurigai pihak
lain. Apalagi dengan alasan "perspektif negara", atas
nama menjaga keutuhan negara, Anda memaklumi tindakan
represi atau pelanggaran HAM. Itu adalah jargon yang
biasa digunakan kaum ultranasionalis. Lebih-lebih
Rejim Orde Baru dulu sangat sering menggunakan alasan
atas nama "keutuhan negara", untuk menindas gerakan
demokrasi.
Soal ditunggangi pihak lain (kekuatan asing/Barat),
itu juga jargon rejim Orde Baru. Dulu ketika gerakan
demokrasi mulai marak, mereka jg menggunakan alasan
tersebut. Dan, penguasa China mungkin belajar banyak
dari Soeharto, sehingga mereka mengecam gerakan
pro-demokrasi sebagai agenda Barat atau Amerika.
Bahkan dicap sebagai "Antek Taiwan". Jadi mereka
mengalihkan isu politik dalam negeri dengan isu
nasionalisme sempit.
Kalau Anda berpikir demikian, mestinya Anda menyesali
perubahan politik pasca Soeharto dengan gerakan
reformasinya. Karena, tuntutan demokrasi di negeri
kita pada masa itu juga tidak lepas dari tekanan dunia
internasional, termasuk Amerika dan negara-negara
Barat lainnya. Jadi saya kira lebih arif kalau kita
melihat masalah secara gradual, bahwa itu adalah
kebutuhan sejarah. Bahwa perubahan itu mau tidak mau
harus terjadi.
Saya kira jargon menjaga "keutuhan negara" juga tidak
bebas nilai. Artinya negara disini juga hanya mewakili
kelompok politik yang dominan, yang berkuasa. Dalam
konteks China, negara diwakili oleh Partai Komunis
China yang berusaha mempertahankan kekuasaannya,
terlepas dari kemajuan ekonomi yang dicapainya.
Saya kira, kita harus melihat sesuatu dari faktor
obyektif dan subyektif atas suatu masalah. Dalam
konteks China, ada faktor obyektif masih terjadinya
pelanggaran HAM terhadap kebebasan berkeyakinan dan
berorganisasi, bahkan penyiksaan dan pembunuhan thp
kelompok yang berbeda. Faktor subyektifnya adalah
keinginan rakyat, terutama korban (Penganut Kristen
Katolik, muslim Uighur, kaum tibetan dan pengikut
Falun Gong), atas perubahan politik yang lebih plural
dan demokratis. Bahwa ada faktor luar yakni tekanan
dunia internasional, supaya China memberi kebebasan
berkeyakinan kepada rakyatnya, itu adalah hal yg
wajar.
Anda juga menyinggung soal Falun Gong yang menurut
Anda, ajarannya menyimpang. Ini juga saya anggap Anda
sudah terpengaruh oleh proganda penguasa China selama
ini yang selalu mendiskriditkan komunitas itu. Saya
kira rakyat China pun belum tentu menilai Falun Gong
seperti itu, karena ada sekitar 100 juta orang di sana
yang mengikuti latihan olah jiwa dan raga ini, serta
sudah merasakan sendiri manfaatnya dari segi kesehatan
dan spiritual. Banyak juga masyarakat kita yang
berlatih Falun Gong dan mendapatkan manfaatkannya.
Jadi stigma sesat itu diberikan oleh penguasa China
(dalam hal ini PKC), bukan rakyat Tiongkok.
Apakah kalau pimpinan dan penganut Katolik di China
dilarang menjalankan aktivitas keagamaannya, lantas
kita juga akan melarangnya? Kita jg akan mengecap
mereka sebagai "antek Vatikan" atau Barat? Juga
anti-revolusi?
Sekali lagi, saya ingin mengajak Anda untuk memahami
masalah ini secara obyektif, meski memang kebenaran
itu relatif. Minimal kita bisa melihat suatu masalah
berdasarkan hati nurani. Saya kira kita dibekali oleh
Tuhan untuk bisa membedakan, mana yang baik dan yang
tidak baik. Baik menurut kita sebagai manusia yang
beradab, dan baik menurut agama atau kepercayan yang
kita yakini.
Salam damai
fadjar pratikto