Pak Haniwar,
   
  Feminisme memang tidak tunggal, tetapi sangat najemuk dan dinamis. Para 
aktivis perempuan juga secara intens saling berdebat tentang berbagai macam 
isu, dan ini memperlihatkan bahwa mereka punya daya refleksi dan 
self-questioning yang tinggi (sesuatu yang tak lagi dimiliki oleh kuasa dominan 
macam patriarki).
   
  Ada gerakan perempuan yang hendak mengakhiri praktik poligami secara 
keseluruhan justru karena mereka percaya laki-laki mustahil dapat bersikap adil 
dalam poligami. Mereka percaya bahwa Tuhan sendiri tak menyukai poligami dan 
tak menganjurkan umatnya untuk berpoligami, meskipun--karena kemurahanNya--tak 
serta-merta mengharamkan poligami dan mencap pelakunya sebagai pendosa.
   
  Ada juga gerakan perempuan yang mengambil jalur KDRT sebagai prioritas, dan 
ini secara langsung atau tidak juga terkait dengan praktik poligami. Ketika 
keadilan tak dijunjung tinggi dalam praktik poligami, maka KDRT pun terjadi.
   
  Ada gerakan perempuan lain yang concern-nya sama sekali buka pada poligami, 
melainkan pada peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi perempuan. 
Jika mereka mandiri, maka mereka akan punya bargaining power yang lebih besar 
dalam bernegosiasi dengan laki-laki, yang selama ini memang dikenal lebih 
sering mau menang sendiri.
   
  sebetulnya, jarang ada aktivis perempuan yang menembak poligami dengan cara 
menyasar agama. Agama terbawa dalam wacana pro kontra poligami justru akibat 
strategi para pendukung poligami yang selalu mencari pembenaran lewat agama. 
Para aktivis perempuan Muslim, dari Fatayat NU dan Swara Rahima, misalnya, 
meladeninya dengan melakukan counter juga dari perspektif agama. Mereka 
menunjukkan betapa agama sudah disalahgunakan dengan cara yang mengerikan untuk 
membenarkan praktik-praktik penindasan terhadap perempuan. Bukan agamanya yang 
buruk, tapi kelakuan sebagian pengikutnya yang salah kaprah.
   
  Posting Bu Mariana yang Anda kutipkan itu, dalam pandangan saya, menyoroti 
masuknya agama dalam debat poligami yang dilakukan oleh kelompok "salah kaprah" 
itu. Dia tidak anti agama atau anti Islam, wong setahu saya Bu Mariana itu 
Muslim asli kok. Saya pikir dia juga seperti saya dan Anda, yaitu ingin supaya 
agama dipakai secara benar dalam debat poligami: "Agama tak pernah menganjurkan 
poligami." Ini adalah counter bagi orang yang senantiasa berdalih:  "Agama 
membolehkan poligami, dan oleh sebab itu, seorang yang taat beragama sebaiknya 
berpoligami karena meneladani Nabi dan menjalankan amanat Tuhan."
   
  Posisi Anda sendiri hingga kini masih terkesan terombang-ambing antara apakah 
Islam menganjurkan poligami (sebagai teladan nabi) atau sebetulnya malah tak 
menyukai praktik poligami (karena menjadi sumber ketidakadilan). Saya senang 
bahwa Anda bersikap positif terhadap posting-posting yang memperlihatkan bahwa 
agama pun tak memandang poligamis sebagai hal positif atau ideal. tapi, saya 
juga masih bisa merasakan reserve Anda serta kecenderungan untuk tetap 
berpendapat bahwa agama membolehkan poligami. 
   
  Bagi saya, "membolehkan" (allowing) dan "tak menganjurkan" (discouraging) 
adalah dua hal yang secara fundamental berbeda. Dan di sinilah letak perbedaan 
antara pendukung dan penentang poligami, ketika perdebatan sudah dibawa masuk 
ke wilayah agama. Tafsir saya sendiri adalah bawah Islam cenderung "tak 
menganjurkan" poligami. Ini selaras dengan pendirian para aktivis perempuan 
Muslim juga, jadi bukan karena saya non-Muslim.
   
  Begitu klarifikasi saya, Pak.
   
  manneke

Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Manneke,

saya juga tertarik sekali dengan tulisan anda di posting lain sbb :


Maka itu, dalam debat soal poligami, misalnya, fokus kita perlu spesifik 
pada poligami yang menyebabkan KDRT, bukan poligami secara abstrak dan umum.


Ini akan banyak memudahkan pembicaraan,,,,


Saya malah kurang sependapat dengan Bu Mariana yg di posting lain menulis :


Satu hal lagi, setiap bicara perempuan, pasti bolak-balik
terperosok ke agama. Padahal sudah jelas ya, sama sekali
tidak membantu perempuan.



Bicara jernih dengan berdasar agama ... malah bisa menempatkan hal lebih 
proporsional.... , contoh postingan yang saya sebut itu sebagai buktinya.

Agama.., seperti yang dibawa oleh nabi kita dan Jesus.. telah banyak 
membawa kemajuan dibanding masa sebelum nya. Dan kewajiban kita meneruskan 
kecenderungan itu.


Cuma.. ya jangan kebablasan .. sehingga terasa oleh sebagian orang sebagai 
menantang Tuhan..

Tanpa menyatakan poligami terlarang, buatlah posisi poligami 
sebagai sesuatu yang sebisa bisa dihindari..justru dengan dalil 
agama misalnya dnegan merujuk fakta bhw nabi tidak pernah berpoligami 
semasa istri pertamanya hidup ( kata teman saya, kalau aku sudah mati sih. 
aku nggak peduli suamiku kawin sama berapa orang lagi... smile).

Atau kenyataan surat ttg poligami yg berbunyi, 'Dan jika kamu takut tidak 
akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu 
mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, 
tiga atau empat.

Dalam diskusi dimilis muslim itu.. di coba disimpulkan bhw sebenarnya 
orang yang poligami itu adalah... orang orang yang merasa tidak bisa 
berbuat adil pada anak yatim :) , ( apa bangganya jadi orang seperti itu ..)

Begitulah.. poligami cuma jadi jalan darurat.. ketika harus menghindari 
keburukan lain yang bisa terjadi jika poligami tidak dilakukan...

Melakukan kampanye discouregement thd poligami dengan dalil yg sama 
dengan pendukung mungkin lebih menarik,,, krn tidak akan menyinggung muslim 
manapun..:)

Jadi Bu Mariana.. tidak betul bhw bicara agama selalu tidak menguntungkan 
wanita...


Mengenai kesetaraan gender.., muslimah yg saya kutip ucapannya,Bu Darfiana 
Nur , adalah seorang pakar, yang kini jadi dosen di sebuah uiniversitas 
di Australia. Lucu dengar cerita dia... ketika masuk keruang kuliah.. 
mata mata bule..terlihat keheranan.. melihat seorang gadis mungil 
berjilbab , coklat kulitnya dan mengira dia nyasar .. salah masuk ruang... 
dan terkejut ternyata itulah sang Ibu dosen yang salah satu pakarr kelas 
dunia di bidangnya.


Dengan kata lain... kesetaraan gender bagi wnaita Indonesia sebenarnya 
sudah sebuah keniscayaan.. paling tidak dibanding negara muslim lainnya..

Perosalannya... lagi lagi... jangan kebabalasan... , mrk juga menolak 
poligam bagi dirinya .. juga menolak disewenang wenangi suaminya.. tapi.. 
jelas juga mrk menghormati suaminya secara proporsional, dan tetap 
menjalankan kodratnya sbg ibu rumah tangga.

Seorang teman sy , muslimah juga, seorang pengusaha wanita berhasil, 
bilang pada saya, aku boleh sibuk seperti apa pun, tapi, kewajiban rumah 
tanggaku, seperti mengantar dan menjemput anak sekolah tetap saya lakukan 
sendiri.., menyediakan makan bagi anak dan suami tetap saya dahulukan... ( 
entah masak sendiri entah beli di warung ).

Dan bukankah tidak ada satu rekor wanita pun dalam bidang atletik atau 
renang yang lebih tinggi dari rekor yg dicapai pria untuk nomor yang sama ??

Pastilah tetap ada kebenaran bhw masing masing punya kelebihannya ( mana 
ada laki laki menghasilkan susu ).., dan itulah terkadang ada teman FPKyang 
mengingatkan jangan setara tapi selaras.., saling melengkapi.. yin memang 
nggak sama dengan yang..

Saya yakin sekali bhw penganut islam di milis ini umumnya mendukung 
perjuangan para aktivis perempuan disini.. cuma... ya itu .. 
mengingatkan .. bahwa dalam hal apapun FirmanNya nggak mungkin slaah..

Apalagi soal KDRT.... itu harus dilawan...yang lebih repot .. ya Perda 
Perda ajaib.. yang sering terasa tidak adil pada wanita...

Saya kira itu tetap bisa di selesaikan dengan cara cara yang banyak 
ditempuh oleh muslimah cendekiawan seperti Ibu Shinta Wahid..

Yang pakai jilbab... kalau lakinya bejat.. ya digerayangin juga... salahnya 
laki laki.. yang dalam ayat Al Qurannya nya di perintahkan supaya jaga 
pandangan... tapi malah ..pandangannya ..melotot.. dengan pikiran kotor..


Saya bilang dimilis muslim itu... mana ada perintah dalam Al Qur an yg 
menyuruh menghilangkan setan.. yang ada kan cuma menjaga diri dari godaan 
setan..


jadi kalau mau anggap wanita sebagai godaan setan ya.. bukan wanita nya 
yang di eliminir.. tapi iman prianya yang kuat sehingga nggak tergoda... 
Sejatinya memang bgeitu perintah agama yang saya hayati.. Walau tentu 
saja.. ada perintah juga agar wanita berpakaian sopan yang bagi sy nggak 
identik dengan cadar..



At 02:33 AM 3/11/2007, you wrote:

Kirim email ke