Mas Goen,

Terima kasih atas appresiasinya.  Tetaplah kita perlu juga membedakan 
antara Kompati sebagai "pengetahuan teknik" dan Kompati sebagai "gerakan 
moral". Kita juga membedakan antara Substansi Kompati dan Oknum 
Kompatiolog.   Maka yang memiliki atau membutuhkan nilai-nilai ialah 
"the man behind the gun" karena "the gun itself has no moral except 
technical values"...

Di sinilah banyak orang (termasuk Vincent juga) kerap salah kaprah dan 
melakukan "slip of the tongue"... (Misalnya, pada Kick Andy Show di mana 
Vincent spontan mengatakan "saya TIDAK PEDULI menjadi lebih baik atau 
tidak"...  Sebagai individu apalagi penemu kompatiologi ia seyogianya 
harus benar-benar CONCERN  tentang akibat dari teknik instalasinya... 
Kalau tidak yakin bakalan baik hasilnya apa gunanya dan apa 
TANGGUNGJAWAB MORAL  untuk memperkenalkan teknik itu "at the first 
place"?  Sebaliknya jangan pula berayun ke ujung terminal sebaliknya... 
tunggu saja sampai semuanya idel barulah diperkenalkan... Masyarakat 
kita benar-benar urgent membutuhkan transformasi nilai-nilai moral ... 
tidak bisa menunggu lagi !

Namun, sikap OVERCONFIDENT tadi dapat dipahami dengan logika yang sangat 
sederhana yaitu:  Menguasai DUA pisau analisis (OS) tentu akan membawa 
hasil yang lebih positif, lebih baik dan lebih bermanfaat daripada 
saat/bilamana orang hanya memiliki SATU pisau analisis saja, c.q. hanya 
memiliki pisau analisis "kecerdasan intelektual" yang sudah terlalu 
OVERVALUED selama ini oleh kaum akademisi dan intelektual.  Sementara 
kecerdasan intuitif sangat UNDERVALUED karena dinilai kaum inteletual 
sebagai berbau metafisika dan tidak consistent/repetable/measurable 
output hasilnya.  Kompas hari ini mengutip ucapan Gus Dur bahwa Sistem 
Pendidikan pada bangsa ini memang sudah salah kaprah sejak lama karena 
tidak mengadakan "MORAL EDUCATION"... (tepatnya:  VALUE EDUCATION).

Selain "nilai kasih" tentunya juga ekstension "nilai kasih" itu seperti 
"nilai ketulusan",  "nilai toleransi", "nilai dedikasi" dsb. Tetapi 
kalau diperluas demikian nanti akan menjadi terlalu banyak dan tampak 
terlalu utopis-idealis. 
Tanpa "nilai ketulusan" pada zaman sekarang ini siapa yang mau peduli 
(ada sih sekelompok kecil) kepada anak-anak autis, anak indigo, anak 
jalanan, anak brandalan, pencandu narkotika dsb?  Tanpa "nilai dedikasi" 
mana mungkin orang TAHAN MELAYANI dengan penuh kasih, ceria, dan 
kesabaran terhadap anak-anak autis seperti bapak Taufiq Hidayat seperti 
tayangan di TV O-Channel  jam 21.30 semalam?

Menjadi kompatiolog-pendekon BUKANLAH  menjadi seorang KONSULTAN yang 
melakukan konseling. Bukan pula pertama-tama seorang PROBLEM SOLVER.  Ia 
hanya seorang SYSTEM INSTALLER.  Itu harus menjadi panggilan hidup dan 
tidak semua orang cocok untuk itu.  Tetapi gerakan sosial kompatiologi 
itu sendiri memang memperkenalkan suatu teknik instalasi (dekon-rekon) 
memori yang MEMUNGKINKAN  terjadinya perubahan-perubahan positif - yang 
belum diketahui wujud konkritnya karena tergantung permasalahan yang 
sedang dihadapi terdekon itu sendiri... apakah itu masalah rumah tangga, 
masalah kejiwaan, masalah karir, yang berhubungan dengan "paradigma 
berpikir" yang lama. Paradigma lama itu menyebabkan dunia terbagi 
menjadi dua kelompok ekstremis akibat seperti efek dinamika "bandulan 
moral".  Yang kerjanya kalau tidak tergoyang ke ekstrim kiri 
berselang-seling berayun ke ekstrim kanan dst. Akibatnya manusia terus 
menjadi korban"cult/belief system" dan tidak pernah menjadi "master of 
his own future" karena dijadikan mampu membangun "value system" 
pribadinya atas dasar pertimbangan kuat berbasis memori kolektif 
intelektual maupun intuitif...

Mang Iyus


        Re: Nilai Pilar Kompati
        
<http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/16496;_ylc=X3oDMTJyNmdkaWExBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzg1NDUyNTAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDgyMTc5BG1zZ0lkAzE2NDk2BHNlYwNkbXNnBHNsawN2bXNnBHN0aW1lAzExNzM2ODgzNTg->



          Posted by: "goenardjoadi" [EMAIL PROTECTED]
          <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
            goenardjoadi <http://profiles.yahoo.com/goenardjoadi>


            Sun Mar 11, 2007 8:42 pm (PST)

    Sebuah gerakan itu ibaratnya seperti balon, kalau gak ditiup
    bagaimana caranya dia bisa naik?

    Dengan demikian, yang perlu dikomunikasikan adalah hal-hal yang
    menjadi tujuan utama, yaitu nilai Keterbukaan, Kerendahan hati dan
    Kasih. Soal bagaimana teknisnya, itu tidak penting,

    Sudah masuk lewat Kick Andy itu suatu hal yang bagus, balon sudah
    sedikit naik, dan ini terus dilanjutkan, misalnya ke Koran Kompas,
    Media Indonesia, Bisnis Indonesia, atau yang netral seperti Majalah
    Intisari.

    Dalam balon ini, nilai-nilai yang dijunjung harus universal, jangan
    hanya pokoknya baru, pokoknya Kompati. Mau namanya Kompati,
    Compassion, atau Vincent Enterprise [kok seperti perusahaan Hong
    Kong] itu tidak masalah biarlah masyarakat yang menilai. Anggaplah
    itu sebuah Brand. Jangan ngotot ini diluar Psikologi, ini
    Kompatiologi, karena hanya membuat balon sulit naik.

    Terus hembuskan nilai-nilai Pilar utama relevansinya dengan
    kehidupan masyarakat, yang berlatar belakang hukum melihat dengan
    kecerdasar intuitif apa saja yang perlu dikoreksi, yang asuransi
    silahkan bikin gerakan yang benar, dll.

    Banyak cara menaikkan balon, misalnya minta review Hermawan
    Kartajaya, masuk majalah, koran, ikut seminar di Universitas,
    bergabung dalam wilayah Spiritual Company. Asal jangan lagi masuk
    Indigo apalagi Fenomena, biar itu menjadi pintu amsuk saja, sekarang
    sudah naik, bikin positioning yang tepat.

    salam,
    Goen

Kirim email ke