Sekali lagi, tampaknya Anda sulit untuk bisa mengerti kenapa dalam soal poligami ini, riset pada hewan tak bisa dicangkokkan begitu saja pada kasus poligami manusia. Contoh singa dan monyet yang selalu Anda kemukakan itu tak sulit diterima, karena, seperti sudah ditegaskan berkali-kali, pada hewan tak terjadi evolusi moral sense. Keputusan poligami pada manusia tak hanya difasilitasi oleh kencederungan gen untuk sintas dan berketurunan, tetapi juga dibuat kompleks oleh adanya kecenderungan genetik lain pada domain moral, yang beroperasi untuk mengerem kecenderungan poligamis.
Kalo untukmenjelaskan manusia Anda terus-menerus bersikukuh dengan contoh hewan, inilah yang disebut pendekatan reduktif. Artinya, Anda menyingkirkan variabel penting lain, yakni evolusi moral sense, dan hanya menonjolkan satu variabel saja, yakni reproduksi, untuk menjelaskan manusia. Sudah jelaskah di mana letak masalahnya? Moral sense adalah produk evolusi yang sangat penting, Pak, karena ini juga membantu mahkluk manusia untuk sintas dan mencegah kepunahan. Untuk bertahan hidup di bumi, manusia tak cukup hanya menjadi seperti singa, karena ia tak punya cakar, taring, serta otot yang kokoh seperti singa. Untuk mengompensasi kekurangan ini, kapasitas otak manusia berevolusi jauh lebih kompleks dari pada hewan, dan pada struktur otak inilah domain moral sense berkembang. Maka itu, bicara soal poligami pada manusia, tak cukup hanya berfokus pada kecenderungan genetik untuk reproduksi saja. Kecuali kalo kita menganggap diri kita 100% sama dengan singa atau monyet. Saya sih nggak mau, juga para miliser lain yang memberi tanggapan soal "pendekatan kebinatangan" yang Anda pakai. Jadi, mungkin pendukung atau pelaku poligami yang membenarkan poligami dengan memakai singa atau monyet sebagai eviden layak dikategorikan sebagai "binatang" yang tak punya moral sense. He he he, Pak Andi, saya jadi ragu apa Anda sudah baca Dawkins. Kalo soal panjang pendeknya leher jerapah sebagai produk evolusi, seratus tahun lalu Darwin sudah bicara soal ini. Bukan Dawkins. Dawkins berbeda dari Darwin secara fundamental: Darwin berpendapat bahwa basis evolusi adalah organisme. Dawkins menentang itu dan mengemukakan bahwa basis evolusi adalah gen. Ini bedanya besar, Pak. Teori Drawin ortodoks dengan mudah bisa dipakai untuk mendiskriminasi manusia berdasarkan ras atau ciri-ciri fisik. Neo-Darwinisme yang dipelopori Dawkins dkk justru membuat teori evolusi tak dapat dengan seenaknya dipakai untuk tujuan sempit seperti itu. Pandangan bahwa basis evolusi adalah organisme menyebabkan manusia terpaksa menerima kondisi biologis dan fisiologisnya sebagai sesuatu yang pre-given. Sebaliknya, neo-Darwinisme membatasi kekuasaan gen dengan menyatakan bahwa gen hanya penyedia potensi, dan ada banyak kemungkinan serta kejadian yang bisa menyebabkan suatu potensi menjadi terwujud atau tinggal sebagai potensi belaka. Soal daftar karakter dominan dan website ipip, di sini memang disediakan daftar panjang personality items yang bisa dimanfaatkan untuk riset psikologi, tapi tak ada upaya untuk mengaitkan personality ites ini dengan profil wajah atau bau tubuh yang diletakkan dalam kerangka gender. Riset yang bertujuan untuk mengatakan bahwa ada hubungan langsung antara ciri-ciri fisiologis dengan kepribadian adalah abuse yang sangat vulgar terhadap teori evolusi. Inilah yang dilakukan para ilmuwan pengabdi Nazi, yang memandang bahwa ras Aria dengan ciri-ciri fisiologis tertentu punya personality traits yang lebih unggul dari pada ras lain. Apalagi kalo dikaitkan dengan daya tarik laki-laki terhadap perempuan! Makin kacau saja. Saya masih belum menemukan bukti kuat bahwa seseorang dengan profil fisik tertentu memiliki traits dominan tertentu. Sekali lagi, ini bentuk Darwinian ortodoks dari masa 100 tahun silam. Yang ada baru data empirik berupa hasil survei dengan jumlah sampel terbatas. Data empirik ini mentah dan sangat terbuka pada pelbagai tafsir. Ia bukan merupakan sebuah simpulan tentang dirinya sendiri. Kalau ada riset yang bilang ada 100 laki-laki berperawakan X dengan sifat-sifat Y disukai oleh perempuan, tidak sulit untuk menghasilkan riset serupa yang memperlihatkan ada 100 perempuan yang tak suka pada laki-laki berperawakan X dengan sifat-sifat Y. Jika tak percaya, coba survei para perempuan di FPK ini dengan memakai variabel daftar sifat dominan + variabel ciri fisiologis macho. manneke si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya tidak bilang monyet betina memilih monyet jantan dominan dengan "kesadaran", Pak. Hal itu terjadi karena evolusi menghasilkan monyet betina yang begitu. Individu (atau mutasi gen individu) boleh saja menghasilkan manusia homoseksual atau manusia DINKies (double income no kids). Tapi hukum alam bilang, manusia seperti itu akan punah pada akhirnya karena tidak berketurunan. Beginilah, kalau singa dominan anaknya lebih banyak itu karena dia selalu menang rebutan betina dengan singa kelas dua. Kalau terus semua singa betina ternyata lebih suka dipoligami sama singa jantan dominan itu karena betina yang tidak mau begitu sudah punah. Kenapa? Karena dia kawin dengan jantan kelas dua. Jantan kelas dua keturunannya kelas dua juga, hidup mereka dihabiskan dengan menjomblo. Akhirnya punah. Jelas bukan pilihan individu, toh? Sebaliknya, maunya individunya atau gennya itu sederhana saja: beranak sebanyak mungkin dan berketurunan selama mungkin. Evolusi yang menghasilkan perilaku individu yang seperti saya sebut. Keinginan mencari suami yang baik, setia, bertanggung jawab seperti Pak Manneke, itu pilihan individu karena konstruksi moral kita yang monogamis sekarang. Karakter itulah yang secara LOGIS diperlukan dalam hidup monogami. Argumen saya, secara alamiah manusia itu sebenarnya tidak begitu dan itu terlihat ketika sedang pacaran atau memilih pacar karena ketika itu akal sehatnya bekerja tidak sekeras alam bawah sadarnya. Kemudian soal Dawkins. Dawkins itu bukan menentang Darwin, Pak. Dia cuma melengkapi karena Darwin dulu nebak-nebak saja ketika dia harus berasumsi bahwa zaman dulu jerapah itu lehernya ada yang panjang dan ada yang pendek untuk mendukung teorinya. Dawkinslah yang menjelaskan bahwa leher panjang pendek itu adalah hasil kerja gen. Terakhir, karakter dominan itu didaftar sebagai berikut: Try to surpass others' accomplishments. Try to outdo others. Am quick to correct others. Impose my will on others. Demand explanations from others. Want to control the conversation. Am not afraid of providing criticism. Challenge others' points of view. Lay down the law to others. Put people under pressure. Bukan bikinan saya, tentu. Ini klasifikasi kepribadian standar psikologi. Websitenya bisa dilihat di http://ipip.ori.org. Kalau mau lihat hasil riset lagi, silakan lihat Neave et al di website Royal Society. Kalau kemaren bau badan, sekarang bentuk wajah. Bentuk wajah yang menunjukkan karakter dominan ternyata lebih disukai wanita. Andi
