Ya, lumayan lah paling tidak Pentagon sedikit-sedikit mau mengakui dosanya. Bicara soal Irak, itu WMD sudah ketemu belum ya ? Saddam Hussein sudah digantung tapi WMD-nya masih belum ketemu juga. Yang menjadi ancaman bagi perdamaian sebenarnya Irak atau Amerika ?
Vavai -- /*********************************************************/ /* Muhammad Rivai Andargini */ /* Panduan Migrasi Windows-Linux, http://www.vavai.com */ /* Blog Vavai, http://blog.vavai.com */ /*********************************************************/ Pentagon Mengakui Ada Perang Sipil di Irak http://www.kompas.co.id/ver1/Internasional/0703/16/045423.htm WASHINGTON, RABU - Untuk pertama kali Pentagon akhirnya mengakui saat ini tengah terjadi perang saudara di Irak. Kesimpulan itu ada di dalam laporan paling baru dari Pentagon yang bocor, Rabu (14/3). Upaya perebutan kekuatan dan kekuasaan di antara kelompok sektarian dan kriminal kini paling menonjol dalam perang Irak. Laporan triwulan Departemen Pertahanan AS khusus mengenai perang Irak yang diserahkan kepada Kongres AS itu juga menyatakan konflik di Irak telah berubah bentuk. Awalnya konflik Irak itu terjadi antara kelompok perlawanan Sunni dan pasukan keamanan koalisi asing. Sunni mengaku melakukan perlawanan demi mengusir penjajahan pihak asing. Kini konflik yang terjadi adalah memperebutkan pengaruh politik dan ekonomi di antara kelompok sektarian dan aktivitas kriminal yang terorganisasi. Laporan Pentagon ini berbeda dibandingkan dengan laporan dari Prakiraan Intelijen Nasional AS Khusus tentang Irak, Januari lalu. Dalam laporan itu konsep "perang saudara" dianggap tidak cukup memadai untuk menjelaskan kompleksitas konflik di Irak, tetapi cukup memadai untuk menjelaskan elemen yang terlibat dalam pergulatan kekuasaan itu. Istilah perang saudara atau konflik sektarian untuk perang Irak selama ini sensitif bagi AS. Bahkan, para penentang perang Irak berkali-kali menegaskan pasukan AS sebaiknya tidak ikut berperang di Irak jika yang terjadi adalah konflik internal Sunni dan Syiah. Namun, pemerintahan Presiden George W Bush berkali-kali menegaskan kekerasan sektarian yang terjadi di Irak itu dipicu oleh kelompok perlawanan Al Qaeda. Karena itu, menumpas Al Qaeda dan mewujudkan Irak yang stabil menjadi penting bagi kepentingan nasional AS. Apa pun itu, yang jelas Pentagon dalam laporannya menyatakan kekerasan sektarian di Irak "telah menjadi hambatan terbesar untuk mewujudkan kondisi keamanan stabil dan pemerintah yang efektif". Gejolak kekerasan yang terjadi justru makin menambah simpati warga Sunni kepada Al Qaeda di Irak dan warga Syiah kepada kelompok bersenjata Tentara Mehdi pimpinan tokoh ulama radikal Moqtada al-Sadr. "Strategi untuk mencapai sukses apa pun itu harus dirancang bisa membalikkan simpati menjadi tidak simpati," sebut laporan Pentagon itu. *Bulan terburuk * Mengenai perkembangan kondisi keamanan di Irak, Pentagon menyebutkan 80 persen dari berbagai serangan sejak November hingga Januari terpusat di empat provinsi, yakni Baghdad (jumlah serangan terbanyak, yakni 45 kali per hari), Anbar, Diyala, dan Salah ad Din. Dalam laporan itu juga disebutkan dalam satu pekan terjadi serangan lebih dari 1.000 kali pada Oktober-Desember dan sekitar 800 kali serangan tiap pekan pada periode Mei-Agustus. Karena itu, Pentagon menyimpulkan bulan Oktober hingga Desember adalah tiga bulan dengan tingkat gejolak kekerasan paling parah sejak tahun 2003. Serangan dan jumlah korban dari pasukan koalisi dan Irak serta warga sipil jauh lebih tinggi daripada periode yang lain. Berbagai serangan juga kerap sengaja menyasar pasukan koalisi dengan mayoritas korban justru warga sipil Irak. Sebagian besar data yang ada di dalam laporan Pentagon setebal 42 halaman itu diambil sebelum Bush memerintahkan jumlah pasukan ditambah sebanyak 21.500 tentara. Pentagon juga mengingatkan agar AS mempertimbangkan "garis dasar yang dapat digunakan untuk mengukur perkembangan masa depan". Laporan Pentagon itu memang tidak melulu berisi "penilaian negatif", tetapi ada juga "pujian" bagi Pemerintah Irak yang dinilai berhasil memulihkan ekonomi dan mencapai stabilitas situasi politik. (REUTERS/AFP/LUK) [Non-text portions of this message have been removed]
