Jakarta, kompas - Ratusan orang lintas agama dan suku bangsa bersetia 
melantunkan doa buat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di tengah rinai hujan di 
Tugu Proklamasi, Jakarta, Sabtu (2/1) malam. Selain berdoa, mereka juga 
menyatakan tekad untuk meneruskan semangat pluralisme yang diwariskan Gus Dur.

Beberapa tokoh menyampaikan pikiran dan pengalaman mereka selama mengenal Gus 
Dur dalam acara yang diberi tajuk "Sejuta Lilin Duka Lintas Iman untuk Gus 
Dur". Para tokoh itu di antaranya Ulil Abshar Abdalla, Djohan Efendi, Pendeta 
Albertus Pati, Romo Beni Susetya, BM Billah, Todung Mulya Lubis, Syafii Anwar, 
dan Sudhamek.

Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur, menyalakan lilin yang kemudian diteruskan 
secara estafet kepada semua peserta. "Saya terharu karena begitu banyak orang 
yang berdiri di bawah hujan, orang yang mencintai ayah saya malam ini di sini. 
Juga waktu itu yang berbondong-bondong ke pemakaman," kata Inayah.

Mewakili keluarganya, Inayah menyampaikan terima kasih atas besarnya dukungan 
masyarakat. "Itu bukti atas hasil yang sudah dilakukan ayah sepanjang hidup. 
Bukti pengabdian beliau kepada masyarakat dan kecintaan beliau terhadap 
manusia. Satu hal yang pasti, saya ingin mengingatkan, semua ini belum cukup. 
Kita harus meneruskan perjuangan Bapak untuk kemanusiaan," katanya.

Pejuang pluralisme

Kesan yang paling kuat yang disampaikan para tokoh itu adalah sosok Gus Dur 
sebagai pejuang pluralisme, demokrasi, dan kemanusiaan. Selain itu, Gus Dur 
juga dikenang sebagai sosok yang punya pendirian yang keras dan berani melawan 
terhadap kezaliman, sekalipun itu harus melawan mainstream.

Djohan Efendi menilai Gus Dur layak menjadi pahlawan nasional. "Tetapi lebih 
dari itu, saya ingat ucapan Gus Dur, 'Saya ingin di kuburan saya ada tulisan; 
di sinilah dikubur seorang pluralis.'"

Todung Mulya Lubis menyebutkan, Gus Dur sebagai tokoh gerakan sosial di 
Indonesia. "Dia memiliki komitmen yang luar biasa untuk Islam yang inklusif. 
Dia juga tokoh untuk pluralisme, demokrasi, dan pemerintahan yang bersih," 
katanya.

Todung juga mengingatkan, Gus Dur sebagai Presiden pernah dengan besar hati 
meminta maaf kepada korban dan keluarga korban pembunuhan massal tahun 1965 dan 
1966, juga kepada korban kekerasan di Timor Timur hingga Aceh.

BM Billah menyebutkan, salah satu sumbangan terbesar Gus Dur adalah meletakkan 
fondasi Islam sebagai rahmatan lil alamin atau rahmat bagi alam, khususnya di 
Indonesia. Dengan prinsip itu, Gus Dur membawa umat Islam untuk menghormati 
secara tulus dan dalam iman terhadap umat agama lain. "Sehingga yang lain 
merasa aman dan dihormati," katanya.

Prinsip itu diarasakan betul oleh Romo Beni dan Pendeta Albertus Pati. "Saya 
pendeta, tetapi merasa sebagai anak ideologi Gus Dur. Artinya, saya sangat 
setuju dengan pandangan dia karena dia membela perdamaian dan minoritas. 
Integritas yang dia miliki layak dan boleh dicontoh kita semua. Rakyat 
Indonesia apa pun agama dan suku bangsanya mendoakan Anda, Gus," kata Albertus.

Sementara Ulil Abshar Abdalla mengenang Gus Dur sebagai sosok demokrasi yang 
telah membangun kehidupan antarberagama di Indonesia yang sehat dan dialogis. 
"Gus Dur sejak awal 1990-an mendengungkan demokrasi. Dan korban terbesar dari 
perjuangannya adalah NU. Jika sebelumnya NU dekat dengan pemerintah, setelah 
Gus Dur tampil, NU kemudian terus ditekan penguasa," katanya.

Cahaya

Penyalaan lilin sebagai lambang bahwa Gus Dur selama ini menjadi cahaya di 
tengah kegelapan bangsa juga berlangsung di Tugu Muda Kota Semarang, Sabtu, dan 
diikuti anak-anak muda dari berbagai agama. Dalam kesempatan itu, dibacakan 
puisi dan aksi teatrikal untuk mengenang sosok Gus Dur.

Romo Aloysius Budi Purnomo Pr dari Gereja Katedral Semarang mengatakan, sosok 
Gus Dur menjadi cahaya bagi keagamaan dan keberagaman masyarakat Indonesia. 
Tidak cukup hanya mengenang Gus Dur, kita yang masih hidup juga harus 
berkomitmen untuk mewujudkan hal serupa.

Pandita Henry Basuki dari Majelis Theravada Indonesia mengungkapkan, Gus Dur 
merupakan tokoh yang dapat menerima perbedaan sekecil apa pun. "Sekecil apa pun 
perbedaan yang ada, sangat dihargai oleh beliau. Itu yang membuat kami merasa 
sangat terlindungi," ujar Henry.

Selain mengenang Gus Dur, malam itu jaringan antariman seluruh Indonesia juga 
mengenang wafatnya ekonom Frans Seda. Aloysius mengatakan, Frans Seda dan Gus 
Dur memiliki komitmen yang sama, yaitu berjuang untuk keadilan.

Lagu buat Gus Dur

Dalam acara "Kongkow Bareng Gus Dur: Spesial" di Utan Kayu, Jakarta, pada malam 
pergantian tahun, Kamis, musisi Franky Sahilatua berhasil merangkai dua larik 
lagu tentang Gus Dur beberapa menit sebelum didaulat untuk menyampaikan 
testimoninya.

Lagu berjudul "Gus" menceritakan tentang sosok pemimpin dan sahabat yang 
mengembalikan makna "cinta kepada panembahannya". Franky lalu memetik gitar dan 
menyanyikan gubahan baru yang belum selesai itu.(AIK/UTI/HEI)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/03/05123652/doa.umat.lintas.agama.untuk.gus.dur

Kirim email ke