Ini reaksi ngawur.

"Pemerintah, jelasnya, juga akan mengevaluasi status Bandara Mozes
Kilangin sebagai bandara internasional. Menurutnya, bisa saja status
bandara tersebut diturunkan menjadi bukan bandara internasional."

Reaksi yang benar, menurut hemat saya, adalah:

mengambil kembali wewenang pengelolaan bandara dari Freeport dan dikelola 
sendiri oleh Pemerintah. status bandara internasional tidak perlu dicabut, 
biarkan saja karyawan Freeport dapat terbang langsung kesana...namun 
pengelolaan bandaranya diambil alih oleh pemerintah. Jika Freeport lalu membuat 
bandaranya sendiri...silahkan saja, namun stausnya adalah bandara daerah.

Orang orang Freeport yang arogan seperti ini, seharusnya diberi pelajaran. 

irry




________________________________
From: Agus Hamonangan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, January 5, 2010 7:36:24 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Insiden Garuda di Timika, Dephub Panggil 
Pengelola Bandara

  
http://bisniskeuang an.kompas. com/read/ 2010/01/04/ 19084484/ Insiden.Garuda. 
di.Timika. .Dephub.Panggil. Pengelola. Bandara

JAKARTA, KOMPAS.com — Departemen Perhubungan Udara memanggil Kepala Bandara 
Mozes Kilangin Timika yang dioperasikan PT Freeport Indonesia, terkait insiden 
tidak terlayaninya pembelian avtur maskapai Garuda Indonesia.

Pesawat GA 652 milik Garuda pada 3 Januari kemarin akan mengisi avtur di 
bandara tersebut. Ternyata pengelola bandara tidak mengizinkannya sehingga 
Garuda melakukan divert dan mengisi bahan bakarnya di Biak. "Kami sudah 
memanggilnya dan besok mereka akan datang ke Jakarta," kata Dirjen Perhubungan 
Udara Dephub Herry Bakti Singayudha Gumay saat dihubungi pers di Jakarta, Senin 
(4/1/2010).

Menurut Herry, pihaknya akan mempertanyakan tidak terlayaninya permintaan avtur 
oleh pengelola bandara. Sebagai bandara internasional, jelasnya, Bandara Mozes 
Kilangin melayani permintaan Garuda karena Garuda adalah salah satu 
pelanggannya.

Setiap harinya sesuai dengan kontrak, Garuda dan Merpati Nusantara Airlines  
seharu snya mendapat pasokan sebesar 8.000 liter BBM dari bandara itu. Akan 
tetapi, dengan alasan persediaan BBM berkurang, Garuda tidak dipasok avtur.

Pemerintah, jelasnya, juga akan mengevaluasi status Bandara Mozes Kilangin 
sebagai bandara internasional. Menurutnya, bisa saja status bandara tersebut 
diturunkan menjadi bukan bandara internasional.


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke