Bung suhaemi, jangan menebak pola pikir pemilik (yang beli sendiri, bukan difasilitasin) mobil ekslusif dengan pola pikir pemilik mobil pasaran. Udah jauh beda pastinya.
Dan jangan pula terjebak mikir kalo dijual lagi, laku cuma 1M lantas negara rugi, mending rugi sekali, daripada terus2an 5 taun bayarin pajak yang katanya sampe 62 milyar. Pemerintahan lagi goyang, betul, karena tingkah polah mereka sendiri. Dan apakah mereka harus meraih legitimasi dengan cara menunjukkan kemewahan, cara kuno, jaman kerajaan feodal yang pake model gitu. 2010/1/5 Suhaimi <[email protected]> > Lae Godlip Pasaribu yth, > > Sebelonnya saya ucapkan "Selamat Hari Natal 25 Desember 2009 serta Tahun > Baru 01 Januari 2010" semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua, amiin. > > Pada prinsipnya saya setuju, para menteri yang kurang dari 50 dari 250 juta > orang penduduk Indonesia itu diberikan fasilitas dll dan begitu pula halnya > dengan para pejabat tinggi negara semisal wakil ketua DPD RI yang sedang > kita bahas ini. > > Masalah dan atau yang kami (Saya dan Mas Teguh Santoso) persoalkan itu > adalah : > > 1. Meminjam analogi wong Palembang "Lah meseing baru nak nyari lobang" > Barangnya dah dibeliin serta dah diserahin pula dan...dah muncul cemohoan > dari rakyat, eh...baru dah ribut dikembaliin, so saya percaya Insya Allah > tidak ada niatan dari ybs. > 2. Jika barang yang dah kelanjur dibeli itu nantinya harus dijual kembali > dan uangnya balik lagi ke kas negara, maka nilai jualnya akan jauh turun > Lae > ! lah kalo demikian nantinya bukankah malah menimbulkan kerugian pada > keuangan negara ! > 3. Antara fasilitas yang mereka terima dengan feedback yang mereka berikan > untuk negeri ini bagaikan panggang dari api ! coba bandingkan dengan > fasilitas yang Lae berikan kepada para pegawai/karyawan Lae dengan estimasi > feedback yang Lae harapkan dari mereka menjadi bagaikan panggang dari api > bukan ? > > Salam hangat, > Suhaimi
