Supaya bangsa Indonesia tidak lebih parah kehilangan/sakit "Institutional 
Memory"nya maka pendidikan dari tingkatan yg paling rendah sampai yg tertinggi 
harus dibenahi....hanya dari sanalah kita bisa berharap masih ada nyiur 
melambai....kalau tidak nyiur melembai hanya kita peroleh dari VCD atau 
DVD....saja
   
  Salam
  Kukuh Kumara

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/17/Fokus/3393688.htm
======================

Tanah Airku Indonesia 

Negeri elok amat kucinta 

Tanah tumpah darahku yang mulia 

Yang kupuja sepanjang masa… 

Ada gundah kala mendengar alunan lagu Rayuan Pulau Kelapa itu. Satu 
per satu keelokan Indonesia tergerus. Tanah Airku yang subur makmur 
kini terancam bencana kekeringan. Yang lebih parah, selain tanah dan 
pasir, bangsa ini pernah berencana memasok air ke Singapura dengan 
harga tak lebih dari Rp 10,00 (sepuluh rupiah) per meter kubik. Satu 
pertanyaan muncul, masihkah anak bangsa ini mencintai negerinya? 

elama ini, ribuan ton pasir Indonesia masuk ke Singapura setiap hari. 
Menurut data statistik perdagangan, tahun 2005 ekspor pasir dan tanah 
Indonesia ke Singapura mencapai 9,5 juta dollar AS dan 14,41 juta 
dollar AS. 

Singapura tercatat sebagai pembeli pasir terbesar di Indonesia dengan 
nilai 6 juta dollar AS. Urutan kedua ditempati China dengan nilai 2,4 
juta dollar AS. Namun, pada lima bulan pertama tahun 2006, China 
menjadi pembeli terbesar dengan nilai delapan juta dollar AS dan 
Singapura hanya 2,93 juta dollar AS (Straits Times, 25 Januari 2007). 

Bahkan, sebelum muncul larangan, kawasan Asia Tenggara pernah 
tercatat sebagai tempat penambangan pasir paling aktif di dunia. Dari 
74 kapal pengeruk pasir di dunia, 54 di antaranya beroperasi di 
perairan Riau untuk reklamasi Singapura. 

Persoalannya, Singapura memberi harga sangat rendah untuk materi yang 
sangat berharga tersebut. Awalnya, tak lebih dari 3 dollar Singapura 
per kubik atau sekitar Rp 15.000. Tentu harga ini tak sebanding. 
Kenyataannya, harga pasir di dalam negeri jauh lebih mahal. 

Ketika bencana gempa bumi melanda Kota Yogyakarta, warga setempat 
terpaksa membeli pasir Gunung Merapi dengan harga lebih dari Rp 
100.000 per meter kubik. Dengan kata lain, warga harus mengeluarkan 
dana sekitar Rp 700.000 untuk satu truk pasir atau Rp 500.000 untuk 
satu mobil bak terbuka yang bermuatan sekitar empat meter kubik 
pasir. 

Jelas kondisi ini tidak menguntungkan. "Pesan saya, sudahlah, 
hentikan urusan menjual tanah dan air kita ini jika hanya untuk cari 
duit," kata Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. 

Sepuluh rupiah 

Pesan itu pun bisa dimengerti. Masalahnya, harga murah itu tidak 
hanya pada pasir. Setidaknya, Indonesia pernah berupaya memasok air 
bersih ke Singapura dengan harga Rp 10,00 atau sepuluh rupiah per 
meter kubik. Keinginan itu tertuang pada kerja sama Pengembangan 
Sumber Air di Provinsi Riau dan Pemasokan Air dari Indonesia ke 
Singapura. 

Perjanjian itu ditandatangani di Jakarta pada 28 Juni 1991 oleh Menko 
Ekuin dan Wasbang Radius Prawiro dan Wakil PM/Menteri Perdagangan dan 
Industri Singapura Lee Hsien Loong yang kini menjabat sebagai PM 
Singapura. 

Melalui perjanjian itu, Indonesia menetapkan harga tak lebih besar 
dari satu sen dollar Singapura untuk satu meter kubik air Indonesia 
yang berarti tak lebih dari Rp 10,00. Dikatakan, harga itu boleh 
ditinjau kembali tiap 10 tahun, namun dengan catatan tidak boleh 
melebihi satu sen dollar Singapura. 

Disebutkan pula, perjanjian berlaku untuk masa 100 tahun, tanpa ada 
satu pasal pun yang mengatur tentang terminasi atau penghentian 
perjanjian. Namun, perjanjian baru berlaku setelah kedua negara 
meratifikasi. Indonesia meratifikasi pada 10 Juli 1991 melalui 
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1991. 

Walau begitu, belum ada kepastian kelanjutan perjalanan kerja sama 
tersebut. Pihak Singapura mengaku, perjanjian itu tidak berlanjut. 
Hingga kini pun Singapura belum meratifikasi. 

Persoalannya, perjanjian itu tidak bisa dihentikan. Artinya, ia tetap 
terbuka dan tetap bisa berlaku setiap saat Singapura meratifikasinya. 
Dalam hal ini, Hasyim Djalal mengingatkan, tahun 1975, Emil Salim 
mengatakan tahun 2000-an Pulau Jawa akan kering karena seluruh air 
hujan lari ke laut, bukan meresap ke tanah. 

Satu pertanyaan pun muncul, bagaimana sebenarnya strategi Singapura 
sehingga Indonesia begitu berbaik hati? Diakui, tidak mudah menjawab 
pertanyaan itu. Namun, satu hal, strategi Singapura memang pantas 
diacungi jempol. 

Ia "pandai" membaca watak dan kultur yang berkembang di negara 
tetangga. Pada era Orde Baru, Singapura dengan teguh menjaga hubungan 
baik dengan Presiden Soeharto. Karena beres di tangan Soeharto, 
berarti mulus untuk semuanya. 

Pada era itu memang tak bisa dinisbikan hubungan panjang Soeharto 
dengan Lee Kuan Yew. Sebagai pendiri ASEAN, Soeharto memang memiliki 
kedekatan pribadi dengan Lee. Karena itu, banyak permintaan Lee yang 
tak kuasa ditolak oleh Soeharto. Bisa jadi, perjanjian kerja sama air 
diratifikasi karena ditandatangani Lee Hsien Loong, putra sulung Lee 
Kuan Yew. 

Selain itu, Singapura memanfaatkan dengan baik psikologi negara kecil 
dan negara besar. Artinya, kepada negara tetangga yang cukup besar 
seperti Indonesia dan Malaysia, Singapura dengan lantang menunjukkan 
sikapnya yang tidak bisa ditekan. 

Sebaliknya, kepada pihak lain, negeri itu mengesankan adanya tekanan 
dari tetangga-tetangga besarnya. "Itu psikologi Singapura sebagai 
negara kecil," kata Menlu Hassan Wirajuda. 

Bak kumbang menemukan madu, psikologi Singapura selaras dengan 
Indonesia maupun Malaysia yang berposisi sebagai negara tetangga 
besar. Diplomat kawakan yang juga pakar hukum laut internasional, 
Hasyim Djalal, menekankan, filosofi negara besar menuntut Indonesia 
mempunyai pertimbangan yang lebih banyak dibandingkan dengan negara 
kecil. 

Kesabaran luar biasa 

Kini Singapura memiliki kesabaran luar biasa. Ketika timbul masalah, 
umumnya Singapura memilih diam dan sabar menunggu hingga persoalan 
itu hilang bersama angin. 

"Saya catat, umumnya watak orang Indonesia itu pelupa. Karena itu, 
kalau kita bermasalah dan sudah geregetan begitu, justru Singapura 
tenang-tenang. Tidak meributkan. Biarkan orang Indonesia habis 
marahnya dulu. Nanti tunggu beberapa saat lagi atau orangnya diganti, 
dia tentu sudah lupa…," kata Hasyim Djalal. 

Menlu Hassan Wirajuda mempertegas dengan mengatakan, bangsa Indonesia 
mudah kehilangan institutional memory. Kondisi ini mengakibatkan 
pergantian pejabat juga bisa berarti berakhirnya persoalan hanya 
karena file-nya sudah tidak diketemukan. Dan kini, ketika nyiur tak 
lagi melambai di pantai, tidakkah bangsa ini perlu segera berbenah 
diri? (RIEN KUNTARI)



         

 
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels 
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke