Analogi dan permenungan yang bagus, terima kasih. Hanya saja pesan terakhirnya yg lalu sifatnya permisif, "Ingat jasa baik para pendahulu kita, lupakan keburukan mereka". Bagaimana bangsa ini bisa belajar dari masa lalu kalo kegagalan dan kejelekan para pemimpin sebelumnya dikubur dalam2?
riyanto -----Original Message----- From: Kicky <[email protected]> Date: Thu, 21 Jan 2010 22:38:11 To: <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Renungan Re: Gus Dur Pahlawan Nasional, Suharto Penjahat Nasional! Saya jadi teringat catatan saya ini Rasanya tepat buat bahan perenungan pada diri kita masing-masing Adakah yang sudah tahu bahwa monyet di hutan-hutan Afrika diburu dan ditangkap dengan cara yang unik? Sangat sangat unik, sehingga teknik itu memungkinkan pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika. Cara menangkapnya sederhana saja. Pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya agar mengundang monyet-monyet berdatangan. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu melakukannya di sore hari. Esoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tidak bisa dikeluarkan. Kok bisa? Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukan tangannya untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam toples. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi kemana-mana! Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita menggenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet-monyet Afrika menggenggam kacang. Kita sering menyimpan dendam, tak mudah member maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada dalam dada. Kita tidak pernah bisa melepasnya. Bahkan kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu kemanapun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya terperangkap penyakit kepahitan yang akut. Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka tangannya. Dan kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negative terhadap siapapun. Mari membangun negeri ini. Ingat jasa baik para pendahulu kita, lupakan keburukan mereka Kicky [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
